Donovan
berlari menyisiri lorong dengan napas tersengal-sengal. Rasa kalut, penat, dan
cemas teraduk menjadi satu didalam hatinya. Suara-suara aneh yang terdengar di
setiap pinggir lorong pun tidak ia hiraukan. Pandangannya mulai kabur karena
butiran air mata. Kakinya gemetaran memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa
saja terjadi. Robeth mati.
Ia
tendang pagar lorong itu yang menandakan ia telah keluar dari lorong kelam itu.
Ia terus berlari dan berlari. Kadang tersandung akar pohon dan terjerembab,
namun ia tetap bangkit lagi walau luka lecet menghiasi kakinya. Hingga ia
temukan mobil dinas Robeth. Ia menyadari bahwa kunci mobil itu dibawa Robeth.
Ditengah kalutnya suasana hati. Maka ia cegat taksi yang lalu lalang.
“Mau
kemana pak?” tanya sopir taksi yang sedari tadi melihat wajah gusar Donovan.
Donovan hanya terdiam mencoba menenangkan pikirannya. Mencoba berpikir positif.
Lalu ia menyadari satu hal, gang Whitechaple. Gang yang telah menjadi sarang
para penghisap darah itu.
“Antarkan
saya ke Gun Shop” pinta Donovan kepada supir taksi. Ia menyadari bahwa ia harus
mempunyai senjata yang ampuh sebelum menuju kedalam gelapnya gang Whitechaple, untuk
membasmi para vampire itu. Dan Gun Shop adalah pusatnya segala senjata.
Terlihat
sebuah toko reyot dihiasi kilatan lampu-lampu kecil. Kilatan-kilatan itu
membentuk kata ‘GUN SHOP’. Dindingnya berwarna hijau tua yang telah menjadi
muda lagi karena pudar dimakan usia. Tampak deretan senjata laras panjang dan
pendek dipajang dibalik kaca toko itu. Dari kejauhan terlihat sebuah taksi
berwarna kuning cerah menghentikan lajunya tepat di pinggir pintu masuk toko
itu. Terlihat lelaki berkumis tipis yang berpeluh cukup banyak keluar dari
taksi itu. “Terima kasih pak” ucap Donovan seraya memberi ongkos kepada supir
taksi itu. Donovan langsung berlari memasuki toko senjata itu.
“Mau
beli apa pak? Saya punya beberapa barang baru. Ada sniper K475-F. Ada shotgun 970.
Dan banyak lagi. Mau beli yang mana pak” ucap pemilik toko itu bermaksud
mempromosikan barangnya.
“Aku
beli senjata pembunuh vampire” ujar Donovan singkat. Berharap penjaga toko tahu
apa yang ia maksud. Si pemilik toko terdiam sejenak. Sepertinya sangat jarang
ia temui pembeli yang mencari senjata itu.
“Senjata
pembunuh vampire? Untuk apa bapak mencari senjata itu?” tanya pemilik toko itu
sembari memasang wajah heran.
“Cepat
pak! Akan kubayar berapapun yang kamu minta!” bentak Donovan tidak sabar. Ia tidak
ingin membuang-buang waktu dengan percuma.
“Sebentar
ya” ucap pemilik toko itu seraya berjalan menuju ruang tengah yang tertutup
tirai berwarna merah.
Tak
berapa lama kemudian, sang pemilik toko keluar dengan membawa sebuah kotak besi
berwarna putih. Ia kemudian membuka kotak itu. Terdapat beberapa senjata yang
bermacam-macam. Ada pisau berbentuk salib. Ada pinstol laras pendek berwarna
merah tua. Dan juga ada beberapa peluru transparan berisikan cairan warna
perak. Dan dilengkapi dengan beberapa buah bom tangan yang berwarna putih
cerah.
“Kotak
ini sering dipakai pemburu vampire. Harga satu kotak sebesar 1500 USD. Apa kau
jadi membelinya?” tanya pemilik toko memastikan. Donovan langsung mengeluarkan
kartu kreditnya serta melakukan proses pembayaran. Sang pemilik toko pun
tersenyum lebar.
“Jika
kau memang membutuhkan seorang pemburu vampire. Coba hubungi nomor ini pak”
ujar pemilik toko seraya memberikan secarik kartu nama kepada Donovan.
“Pemburu
vampire bernama Erick Jhonson? Baiklah akan ku hubungi nanti. Terima kasih” balas
Donovan seraya menyabet koper putih itu. Ia pun langsung pergi meninggalkan
toko kumal itu. Terbesit rasa takut di pikirannya. Apakah ia akan berhasil
tanpa seseorang pun membantunya? Bagaimana jika ia mati dimangsa para vampire keji
itu? Bagaimana nasib istri nya jika dia mati? Tampak keraguan, kekalutan, dan
ketakutan tergores besar di hatinya. Tanpa berpikir panjang lagi, ia buka
handphone-nya dan langsung menghubungi pemburu vampire bernama Erick Jhonson
itu.
“Hallo,
sebutkan lokasi vampire berada, uang bayarannya sebesar 3000 USD” ucap
seseorang bersuara besar mengagetkan Donovan. Ia tak menyangka pemburu ini
langsung membahas inti permasalahannya tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.
“Okey,
lokasinya ada di gang Whitechaple. Sekarang juga kita bertemu di mulut gang
itu” pungkas Donovan seraya mencegat taksi yang lewat.
“Bayarannya
siapkan segera setelah semua vampire aku bunuh. Kita bertemu 30 menit dari
sekarang” balas seseorang bernama Erick itu.
“Baiklah”
jawab Donovan, ia langsung menutup handphone-nya seraya meminta untuk
diantarkan ke gang Whitechaple. Sopir taksi hanya mengangguk pelan.
Setelah
menempuh perjalanan selama kurang lebih 25 menit, Donovan akhirnya tiba di sebuah
gang yang sangat mencekam. Tak terlihat seorangpun berlalu-lalang. Donovan yang
sudah menunggu sepuluh menit pun sedikit menggerutu. “Dimana dia?! Ini sudah
lebih lima menit dari waktu yang ditentukan!” gerutu Donovan seraya melirik
kanan kiri. Tak terlihat seorangpun melewati jalanan itu. Hanya terlihat seekor
kucing hitam berjalan mendekati Donovan. Mendekat dan semakin mendekat.
“Maaf
sudah membuatmu menunggu lima menit” suara lelaki terdengar besar menggema di
telinga Donovan. Membingungkannya. Ia lirik sekitar tidak ada seorangpun. Tapi
kok ada suara ya? Pikirnya heran.
“Hei
jangan bingung! Aku dibawah sini!” suara itu berasal dari bawah Donovan. Ia
terkaget-kaget tatkala ia melihat seekor kucing hitam tadi berbicara. “Hey
kucing! Bagaimana bisa kau berbicara!?” teriak Donovan yang sangat terkejut.
Matanya yang sedikit sipit terbelalak kaget. Keanehan apa lagi ini? Pikirnya
heran.
Tiba-tiba
kucing itu berubah wujud menjadi seorang laki-laki berbadan besar dan kekar.
Kulitnya hitam pekat disertai dengan baju khas suku maya berwarna coklat muda.
Potongan rambutnya yang berwarna coklat sangat tidak rapi dan panjang lurus
menyentuh pinggang. kumis kucingnya berwarna coklat dan meruncing. Wajahnya
sangar dan garang. Suaranya pun menggelegar. Dialah Erick Jhonson.
“Ka-ka-kamu
Erick Jhonson?” tanya Donovan terbata-bata. Seumur-umur baru kali ini dia
berbicara tidak lancar. Dan baru kali ini dia melihat seekor kucing berubah
menjadi manusia selain di film-film maupun sinetron.
“Hei
biasa saja tidak usah sampai melongo begitu! Sekarang dimana vampirenya?” ucap
Erick yang suaranya menggema hingga ke sudut jalanan. Donovan yang sedari tadi
terpukau oleh transformasi itu seraya sadar dan mencoba untuk tetap tenang.
“Di
dalam gang Whitechaple. Tapi mana senjatamu?” tanya Donovan sedikit khawatir. “Senjataku
ada ditanganku. Ini” jawab Erick seraya menyodorkan tangannya yang penuh dengan
kata-kata yang digores kasar.
“itu
senjatamu? Tidak butuh senjata-senjata ini?” tanya Donovan lagi sambil
menyodorkan koper berisikan senjata-senjata aneh.
“Tidak
perlu. Itu untuk orang awam sepertimu saja” jawab Erick ketus. Donovan
mengambil senjata laras pendek yang ada di koper itu dan mengisikannya dengan
peluru-peluru berbahan perak.
“Ya
sudah. Ayo sekarang kita menuju kedalam gang tua itu” ujar Donovan seraya
melangkah maju kedalam gang Whitechaple. Erick mengangguk dan berubah wujud
lagi menjadi kucing hitam. Mereka berdua lalu masuk kedalam gelapnya gang
mengerikan itu.
BERSAMBUNG
No comments:
Post a Comment