Saturday, September 14, 2013

TARING [PART 6 - TRAUMA]

“Aku tahu siapa Francisia itu” tiba-tiba terdengar suara dibalik bayangan di sudut ruangan itu. Terlihat Zen keluar diantara bayangan dinding laboratorium.

“Zen! kau mengagetkanku lagi. Benarkah kau tahu siapa Francisia itu?” tanya Robeth yang jantungnya sedari tadi berdegup kencang. Donovan hanya terdiam tanpa berbicara sepatah katapun.

Zen hanya mengangguk pelan. “Francisia Adore De Raven. Putri dari Daniel De Raven, sang raja dari klan Raven” jelas Zen dengan ekspresi yang sangat datar dan dingin. Pedang panjangnya masih terpasang rapih di pinggangnya. Maskernya masih menutupi sebagian wajahnya.

Suasana menjadi hening. Donovan seperti sedang memikirkan tindakan dan langkah selanjutnya. Sedangkan Robeth masih meratapi suatu fakta mengerikan. Bahwa dalang dibalik pembunuhan mengerikan itu adalah benar-benar perbuatan vampire. Ia pun tiba-tiba bergidik ngeri. Keberaniannya sedikit goyah dan getir.

“Tenang Rob. Yang penting kita harus mengatur strategi dulu. Zen, maukah kau membantu kami hingga kasus ini tertuntaskan?” pinta Donovan seraya beranjak dari tempatnya. Sekali lagi Zen mengangguk kecil.

Tiba-tiba terdengar suara sirine mobil polisi diluar rumah sakit. Mengaung keras, terdengar hingga ke dalam laboratorium. “Aku akan menunggu kalian besok malam sekitar jam sembilan di gerbang pemakaman High Gate. Akan ku jelaskan semuanya nanti” ucap Zen seraya berjalan menuju sudut laboratorium yang tertutup bayang malam. Lalu menghilang begitu saja. “Hey Zen tunggu!” teriak Robeth, namun Zen tak kunjung nampak. Donovan sedari tadi hanya terdiam merenungkan sesuatu.

“Sudahlah Rob, kita sekarang sebaiknya mengurus jenazah-jenazah yang berada di rumah sakit ini” jelas Donovan seraya berjalan keluar laboratorium. “Kau benar” gumam Robeth seraya mengikuti Donovan dari belakang.

Pemandangan sadis di rumah sakit Saint Rose membuat para tim medis dan pasukan khusus CID mual. Bau daging segar mulai menusuk hidung mereka. Ditambah hewan melata yang mengerubungi tubuh-tubuh tak berbentuk itu. Seolah-olah pelaku dari semua ini adalah pembunuh brutal. Psikopat. Padahal bukan.

“Segera identifikasi semua jenazah disini! Lalu kabarkan kepada saudara mereka agar dimakamkan secara layak!” perintah Robeth kepada tim medis dan anak buahnya. Police line pun dipasang saat itu juga. Kegiatan identifikasi berlangsung cukup lama karena banyaknya mayat-mayat bergelimpangan di setiap sudutnya.

Malam panjang itu pun berakhir dengan tragis. Donovan dan Robeth yang sangat kelelahan dan sedikit terguncang itu langsung menyetir kendaraan mereka bermaksud untuk pulang. Bermaksud untuk melepas penat setelah lelah berkelahi dengan tegang.

Mentari memamerkan sinarnya dikala pagi menjelang. Tampak secercah salju menghiasi jalanan dan pepohonan. Pemandangan hijau pun tak kalah indahnya dengan sinar sang mentari. Kebun-kebun perumahan yang basah dihujani salju keras seperti memantulkan cahaya-cahaya kecil. Bau dedaunan dan salju menambah kecerahan. Dinginnya udara pagi menusuk-nusuk merasuki rusuk. Menjadi sangat dingin dikala sang salju menjatuhi setiap halaman perumahan itu.

Terlihat seorang pria yang sudah terjaga kala fajar, termenung di halaman rumahnya. Ya. Orang itu adalah Robeth. Ia sangat menyesali kejadian mengerikan tadi malam. Ia sangat merasa kehilangan partner sekaligus seseorang yang sudah ia anggap anak sendiri. “Rodriguez, kenapa kau berada di sana? Seharusnya kau tetap berpatroli saja” gumam Robeth sembari melamun. Pemandangan indah kala itu pun tidak cukup mengobati rasa bersalahnya.

“Sudah, jangan dipikirkan lagi. Kita harus menghargai pengorbanan mereka yang tewas. Kita harus segera menuntaskan kasus memuakkan ini. Sekarang ayo kita sarapan dulu. Aku sudah lama tidak makan di Terra Vergine” ucap Donovan yang tiba-tiba muncul.

“Kau benar Donovan. Kita sekarang harus tetap fokus kedalam kasus ini. Kau sudah lapar ya? Kalau begitu ayo kita ke restaurant itu” ajak Robeth seraya beranjak dari lamunannya.

Mereka berdua lalu menuju sebuah restaurant terkenal di kota London. Restaurant ala italia yang menghidangkan makanan-makanan khas italia. Restaurant itu bernama Terra Vergine. Tampak sebuah gedung megah berwarna putih. Di sisi luarnya terdapat meja dan kursi yang tersusun sangat rapi. Dilengkapi dengan pagar kecil untuk memberi keamanan kepada pengunjung.

Donovan dan Robeth yang sudah selesai memarkirkan kendaraannya lalu bergegas tidak sabar menuju restaurant mahal itu. Terlebih Donovan yang sudah kangen ingin mencicipi wine terkenal di restaurant itu, frentano wine.

Interior Terra Vergine sangat klasik namun indah. Meja-meja berbentuk kotak tertata rapi di setiap sudutnya. Kursi-kursi pun melengkapi meja-meja berwarna coklat gelap itu. Ada pula kursi dengan bantalan empuk agar para pengunjung dapat menyantap makanan dengan nyaman. Di iringi dengan musik-musik klasik, menambah pesona restaurant tua itu.

“Aku pesan Lasagna bianca dan Frentano wine” pinta Donovan kepada pelayan Terra Vergine yang mukanya mirip orang italia. “Aku pesan Risotto allo zafferano e asparagi dan gellato” tambah Robeth seraya mengembalikan daftar menu.

“Jadi, apa rencanamu sekarang?” tanya Robeth sembari meminum wine yang disediakan secara gratis di restaurant itu.

“Sekarang, kita harus mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai klan Raven itu. Kita bisa mengorek info dari Zen” jelas Donovan menyampaikan usulannya seraya menyeruput wine legit itu.

“Aku setuju. Sekarang selagi bisa, kita nikmati menu-menu di restaurant ini” ucap Robeth seraya menghabiskan wine yang masih tersisa.

Dari kejauhan tanpak pelayan membawakan menu-menu yang dipesan oleh Donovan dan Robeth. Lasagna bianca adalah sejenis pasta yang ditambahkan wortel, mozarela, dan bahan-bahan khas lainnya. Sedangkan Risotto allo zafferano e asparagi adalah risotto yang dilengkapi dengan asparagus dan sayuran lainnya. Mereka menyantap lahap seluruh makanan itu. Wajah puas terlihat ketika mereka menghabiskan pesanan mereka. Dan ditutup dengan gellato dan wine pesanan mereka. Gelatto adalah es krim khas negara italia.

“Apa kau sudah puas?” tanya Robeth seraya membersihkan mulutnya yang belepotan. “Sangat puas. Aku berharap bisa makan disini lagi setelah kasus ini selesai” jawab Donovan sembari menghabiskan wine pesanannya yang masih tersisa.

Terdengar para tamu restaurant itu membicarakan kasus-kasus yang menggemparkan. Terasa dengan jelas hawa ketakutan tamu-tamu itu. Ada yang membicarakan mayat-mayat yang terbunuh secara tidak wajar di rumah sakit Saint Rose. Ada yang membicarakan kasus ketika Lewis dibunuh. Bahkan ada yang menggunjing kepolisian karena kasus-kasus ini tidak kunjung selesai. Membuat Robeth naik pitam. Donovan yang merasakan kondisi tidak mengenakkan ini langsung mengajak Robeth untuk kembali kerumah. Robeth hanya bisa mengambil napas dalam-dalam berupaya untuk tetap sabar. Ia juga tidak bisa semerta-merta menyalahkan warga London yang menggunjing kepolisian. Karena ia juga merasa tidak bisa bertindak sesuai standart yang diperlukan. Karena jika lawannya bukan manusia biasa. Pihak kepolisian pasti banyak yang berguguran.

Malam hari akhirnya tiba. Rembulan menampakkan wujudnya seakan-akan ingin menjadi saksi buta kekejaman para vampire itu. Pepohonan yang seperti monster pun tak henti-henti nya mengoyak jalanan. Donovan dan Robeth yang menyadari bahwa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan kurang sepuluh menit pun langsung bergegas menuju pemakaman High Gate. Mereka ingin mengetahui seluruh kenyataan dalam klan Raven. Mereka berdua datang tepat pada pukul sembilan.

“Untung kita tiba tepat waktu. Tapi dimana Zen ya?” keluh Robeth sembari mengatur napasnya yang tersengal-sengal karena takut terlambat. “Mungkin dia masih buang air besar di toilet umum. Hahaha” canda Donovan bermaksud memecah keheningan. Robeth hanya tertawa kecil.

“Aku disini” tiba-tiba terdengar suara pria di belakang mereka. Zen terlihat berjalan dari kegelapan pemakaman High Gate. “Nah, akhirnya kamu datang juga. Sesuai janjimu. Sekarang ceritakan semua kenyataan mengenai penunggu gang Whitechaple itu” ucap Robeth setelah menoleh kearah Zen. Donovan hanya melihat Zen dengan pandangan penuh selidik.

“Baiklah, aku akan menceritakan semuanya. Tapi sekarang kalian ikuti aku” ucap Zen seraya berjalan memasuki pemakaman High Gate yang dihiasi kegelapan dan kengerian itu.


“Hey, kau mau kemana!?” teriak Robeth seraya berlari mengikuti Zen. Donovan hanya berlari kecil mengikuti mereka berdua.

BERSAMBUNG

No comments:

Post a Comment