“Aku tahu siapa Francisia itu” tiba-tiba terdengar
suara dibalik bayangan di sudut ruangan itu. Terlihat Zen keluar diantara
bayangan dinding laboratorium.
“Zen! kau mengagetkanku lagi. Benarkah kau tahu
siapa Francisia itu?” tanya Robeth yang jantungnya sedari tadi berdegup
kencang. Donovan hanya terdiam tanpa berbicara sepatah katapun.
Zen hanya mengangguk pelan. “Francisia Adore De
Raven. Putri dari Daniel De Raven, sang raja dari klan Raven” jelas Zen dengan
ekspresi yang sangat datar dan dingin. Pedang panjangnya masih terpasang rapih
di pinggangnya. Maskernya masih menutupi sebagian wajahnya.
Suasana menjadi hening. Donovan seperti sedang
memikirkan tindakan dan langkah selanjutnya. Sedangkan Robeth masih meratapi
suatu fakta mengerikan. Bahwa dalang dibalik pembunuhan mengerikan itu adalah
benar-benar perbuatan vampire. Ia pun tiba-tiba bergidik ngeri. Keberaniannya sedikit
goyah dan getir.
“Tenang Rob. Yang penting kita harus mengatur
strategi dulu. Zen, maukah kau membantu kami hingga kasus ini tertuntaskan?”
pinta Donovan seraya beranjak dari tempatnya. Sekali lagi Zen mengangguk kecil.
Tiba-tiba terdengar suara sirine mobil polisi
diluar rumah sakit. Mengaung keras, terdengar hingga ke dalam laboratorium. “Aku
akan menunggu kalian besok malam sekitar jam sembilan di gerbang pemakaman High
Gate. Akan ku jelaskan semuanya nanti” ucap Zen seraya berjalan menuju sudut
laboratorium yang tertutup bayang malam. Lalu menghilang begitu saja. “Hey Zen
tunggu!” teriak Robeth, namun Zen tak kunjung nampak. Donovan sedari tadi hanya
terdiam merenungkan sesuatu.
“Sudahlah Rob, kita sekarang sebaiknya mengurus
jenazah-jenazah yang berada di rumah sakit ini” jelas Donovan seraya berjalan
keluar laboratorium. “Kau benar” gumam Robeth seraya mengikuti Donovan dari
belakang.
Pemandangan sadis di rumah sakit Saint Rose
membuat para tim medis dan pasukan khusus CID mual. Bau daging segar mulai
menusuk hidung mereka. Ditambah hewan melata yang mengerubungi tubuh-tubuh tak
berbentuk itu. Seolah-olah pelaku dari semua ini adalah pembunuh brutal.
Psikopat. Padahal bukan.
“Segera identifikasi semua jenazah disini! Lalu
kabarkan kepada saudara mereka agar dimakamkan secara layak!” perintah Robeth
kepada tim medis dan anak buahnya. Police
line pun dipasang saat itu juga. Kegiatan identifikasi berlangsung cukup
lama karena banyaknya mayat-mayat bergelimpangan di setiap sudutnya.
Malam panjang itu pun berakhir dengan tragis.
Donovan dan Robeth yang sangat kelelahan dan sedikit terguncang itu langsung
menyetir kendaraan mereka bermaksud untuk pulang. Bermaksud untuk melepas penat
setelah lelah berkelahi dengan tegang.
Mentari memamerkan sinarnya dikala pagi
menjelang. Tampak secercah salju menghiasi jalanan dan pepohonan. Pemandangan
hijau pun tak kalah indahnya dengan sinar sang mentari. Kebun-kebun perumahan
yang basah dihujani salju keras seperti memantulkan cahaya-cahaya kecil. Bau
dedaunan dan salju menambah kecerahan. Dinginnya udara pagi menusuk-nusuk
merasuki rusuk. Menjadi sangat dingin dikala sang salju menjatuhi setiap
halaman perumahan itu.
Terlihat seorang pria yang sudah terjaga kala
fajar, termenung di halaman rumahnya. Ya. Orang itu adalah Robeth. Ia sangat
menyesali kejadian mengerikan tadi malam. Ia sangat merasa kehilangan partner
sekaligus seseorang yang sudah ia anggap anak sendiri. “Rodriguez, kenapa kau
berada di sana? Seharusnya kau tetap berpatroli saja” gumam Robeth sembari
melamun. Pemandangan indah kala itu pun tidak cukup mengobati rasa bersalahnya.
“Sudah, jangan dipikirkan lagi. Kita harus
menghargai pengorbanan mereka yang tewas. Kita harus segera menuntaskan kasus
memuakkan ini. Sekarang ayo kita sarapan dulu. Aku sudah lama tidak makan di Terra
Vergine” ucap Donovan yang tiba-tiba muncul.
“Kau benar Donovan. Kita sekarang harus tetap
fokus kedalam kasus ini. Kau sudah lapar ya? Kalau begitu ayo kita ke
restaurant itu” ajak Robeth seraya beranjak dari lamunannya.
Mereka berdua lalu menuju sebuah restaurant
terkenal di kota London. Restaurant ala italia yang menghidangkan
makanan-makanan khas italia. Restaurant itu bernama Terra Vergine. Tampak sebuah
gedung megah berwarna putih. Di sisi luarnya terdapat meja dan kursi yang
tersusun sangat rapi. Dilengkapi dengan pagar kecil untuk memberi keamanan
kepada pengunjung.
Donovan dan Robeth yang sudah selesai
memarkirkan kendaraannya lalu bergegas tidak sabar menuju restaurant mahal itu.
Terlebih Donovan yang sudah kangen ingin mencicipi wine terkenal di restaurant
itu, frentano wine.
Interior Terra Vergine sangat klasik namun
indah. Meja-meja berbentuk kotak tertata rapi di setiap sudutnya. Kursi-kursi
pun melengkapi meja-meja berwarna coklat gelap itu. Ada pula kursi dengan
bantalan empuk agar para pengunjung dapat menyantap makanan dengan nyaman. Di
iringi dengan musik-musik klasik, menambah pesona restaurant tua itu.
“Aku pesan Lasagna bianca dan Frentano wine” pinta Donovan kepada pelayan Terra
Vergine yang mukanya mirip orang italia. “Aku pesan Risotto allo zafferano e asparagi dan
gellato” tambah Robeth seraya mengembalikan daftar menu.
“Jadi,
apa rencanamu sekarang?” tanya Robeth sembari meminum wine yang disediakan secara
gratis di restaurant itu.
“Sekarang, kita harus mencari informasi
sebanyak-banyaknya mengenai klan Raven itu. Kita bisa mengorek info dari Zen”
jelas Donovan menyampaikan usulannya seraya menyeruput wine legit itu.
“Aku setuju. Sekarang selagi bisa, kita nikmati
menu-menu di restaurant ini” ucap Robeth seraya menghabiskan wine yang masih
tersisa.
Dari kejauhan tanpak pelayan membawakan
menu-menu yang dipesan oleh Donovan dan Robeth. Lasagna bianca adalah sejenis pasta yang ditambahkan wortel, mozarela,
dan bahan-bahan khas lainnya. Sedangkan Risotto allo zafferano e asparagi
adalah risotto yang dilengkapi dengan asparagus dan sayuran lainnya. Mereka
menyantap lahap seluruh makanan itu. Wajah puas terlihat ketika mereka
menghabiskan pesanan mereka. Dan ditutup dengan gellato dan wine pesanan
mereka. Gelatto adalah es krim khas negara italia.
“Apa
kau sudah puas?” tanya Robeth seraya membersihkan mulutnya yang belepotan. “Sangat
puas. Aku berharap bisa makan disini lagi setelah kasus ini selesai” jawab
Donovan sembari menghabiskan wine pesanannya yang masih tersisa.
Terdengar
para tamu restaurant itu membicarakan kasus-kasus yang menggemparkan. Terasa
dengan jelas hawa ketakutan tamu-tamu itu. Ada yang membicarakan mayat-mayat
yang terbunuh secara tidak wajar di rumah sakit Saint Rose. Ada yang membicarakan
kasus ketika Lewis dibunuh. Bahkan ada yang menggunjing kepolisian karena
kasus-kasus ini tidak kunjung selesai. Membuat Robeth naik pitam. Donovan yang
merasakan kondisi tidak mengenakkan ini langsung mengajak Robeth untuk kembali
kerumah. Robeth hanya bisa mengambil napas dalam-dalam berupaya untuk tetap
sabar. Ia juga tidak bisa semerta-merta menyalahkan warga London yang
menggunjing kepolisian. Karena ia juga merasa tidak bisa bertindak sesuai
standart yang diperlukan. Karena jika lawannya bukan manusia biasa. Pihak
kepolisian pasti banyak yang berguguran.
Malam
hari akhirnya tiba. Rembulan menampakkan wujudnya seakan-akan ingin menjadi
saksi buta kekejaman para vampire itu. Pepohonan yang seperti monster pun tak
henti-henti nya mengoyak jalanan. Donovan dan Robeth yang menyadari bahwa waktu
sudah menunjukkan pukul sembilan kurang sepuluh menit pun langsung bergegas
menuju pemakaman High Gate. Mereka ingin mengetahui seluruh kenyataan dalam
klan Raven. Mereka berdua datang tepat pada pukul sembilan.
“Untung
kita tiba tepat waktu. Tapi dimana Zen ya?” keluh Robeth sembari mengatur
napasnya yang tersengal-sengal karena takut terlambat. “Mungkin dia masih buang
air besar di toilet umum. Hahaha” canda Donovan bermaksud memecah keheningan.
Robeth hanya tertawa kecil.
“Aku
disini” tiba-tiba terdengar suara pria di belakang mereka. Zen terlihat
berjalan dari kegelapan pemakaman High Gate. “Nah, akhirnya kamu datang juga.
Sesuai janjimu. Sekarang ceritakan semua kenyataan mengenai penunggu gang Whitechaple
itu” ucap Robeth setelah menoleh kearah Zen. Donovan hanya melihat Zen dengan
pandangan penuh selidik.
“Baiklah,
aku akan menceritakan semuanya. Tapi sekarang kalian ikuti aku” ucap Zen seraya
berjalan memasuki pemakaman High Gate yang dihiasi kegelapan dan kengerian itu.
“Hey,
kau mau kemana!?” teriak Robeth seraya berlari mengikuti Zen. Donovan hanya
berlari kecil mengikuti mereka berdua.
BERSAMBUNG
No comments:
Post a Comment