Saturday, September 14, 2013

TARING [PART 4 - DARAH]

Di rumah sakit Saint Rose. Terdapat sebuah laboratorium di lantai satu rumah sakit itu yang menjadi tempat identifikasi bukti-bukti yang ditinggalkan pelaku. di sisi pintu luar, terdapat dua anggota CID sedang berjaga-jaga dengan membawa pisau. Para anggota khusus itu bernama Donald dan Vincent. 

Sedangkan terdapat seorang sniper handal sedang berjaga-jaga diatas atap rumah sakit itu, bernama Karl. Rodriguez yang mendapatkan pesan bahwa sedang terjadi penjagaan khusus di rumah sakit Saint Rose seraya ikut membantu mengawasi proses identifikasi bukti-bukti itu. Rodriguez terlihat sedang ikut melihat para tim forensik mengutak-atik komputernya.

Tampak dari kejauhan rumah sakit Saint Rose, tiga sosok pemuda sedang berjalan menuju rumah sakit tua itu. Ketiga sosok pemuda itu memakai pakaian serba hitam. Dengan ditambah topi bowler, sarung tangan hitam, dan kacamata hitam melekat ditubuh mereka. Pria yang berjalan di sisi kiri berbadan tinggi dan besar. Sedangkan pria yang berjalan di sisi kanan berbadan pendek. Dan pria ditengah terlihat jangkung dan kurus. Mereka berjalan dengan muka datar dan serius.

Karl yang berjaga di atap melihat ketiga pria mencurigakan itu. Ia lalu mengaktifkan earphone nya bermaksud menghubungi rekannya. “Donald, aku melihat tiga orang mencurigakan sedang berjalan menuju rumah sakit. Memakai seragam serba hitam. Segera interogasi mereka” lapor Karl kepada Donald yang sedang berjaga disekitar pintu masuk laboratorium. “Roger” jawab Donald. Ia langsung menuju depan rumah sakit. Terlihat Donald mendekati ketiga pria itu. Karl melihat mereka bertemu secara jelas. Semakin jelas ketika Karl meneropong mereka berempat menggunakan lensa sniper nya. 

“Stop! CID! Berhenti sebentar! Sebutkan nama kalian satu per satu!” ucap Donald nampak tegas. Ketiga orang asing itu terlihat tak bereaksi. “Kita apakan orang ini Rey?” tanya salah satu pria berbadan besar. “Lenyapkan” jawab salah satu pria berbadan jangkung dan kurus. “Hey jangan bergerak, sekarang ikut menepi bersamaku!” teriak Donald semakin terlihat tegas.

Tiba-tiba lelaki berbadan besar langsung membekap Donald, lalu menghilang tanpa jejak. “Apa! Donald! dimana kau Donald!” Karl yang terkejut melihat kejadian aneh itu langsung menghubungi Donald melalui earphone. Namun tidak ada jawaban. Karl mulai panik dan mengarahkan lensa snipernya ke kepala lelaki berbadan pendek, bersiap untuk menembak. 

“Pak Rodriguez, Donald menghilang tanpa jejak setelah dibekap lelaki berbadan besar didekat pintu masuk rumah sakit. Menunggu perintah untuk menembak” lapor Karl yang mulai diliputi rasa tegang. 

“Apa!? Sekarang tembak mereka!” perintah Rodriguez yang sedang bersiaga di dalam laboratorium. “Siap!” jawab Karl tegas. Ia mulai membidik kepala pria berbadan pendek. 

‘Dor!’ bunyi tembakan sniper terdengar tidak begitu keras karena tertahan oleh peredam suara. Peluru panas berbahan perak pun melesat sangat cepat. Lelaki pendek yang menyadari kepalanya di incar tiba-tiba ‘slash!’ menghilang tanpa jejak. 

“Hah? Kemana dia pergi?” gumam Karl bingung. Ia mencari ke segala arah namun lelaki pendek itu tidak kunjung nampak. Ia lalu mengincar kepala pria yang masih tersisa, yaitu pria jangkung. Karl kaget ketika melihat lelaki jangkung itu menatap bengis Karl yang akan menembak kepalanya.

‘Jleb!’. Tiba-tiba tubuh Karl ditikam oleh tangan dengan kuku-kuku jari yang sangat runcing. Terlihat jantung segar keluar dari tubuh Karl. Dengan dilapisi oleh darah segar disekitar jantung dan tangan. Karl yang melihat jantungnya terlepas pun tak bisa bergerak lagi. Badannya mati rasa. “Ugh!” Karl terjatuh dan mati seketika. 

Terlihat sesosok pria yang berbadan pendek membunuh Karl dengan mengambil jantung nya. Jantung yang masih segar itu lalu ia makan sambil tertawa sinis. Lelaki berbadan jangkung yang melihat aksi itu seraya berjalan pelan menuju rumah sakit Saint Rose.

“Jadi, DNA pada rambut ini mengarah kepada seorang warga negara asing yang bernama Francisia?” tanya Rodriguez kepada salah satu tim forensik CID. “Iya pak, DNA pada rambut ini positif milik seorang wanita bernama Francisia. Dan dengan diperkuat dengan sidik jari yang juga milik Francisia. Wanita yang telah menetap di kota London selama 1 tahun” jawab tim forensik CID. “Baiklah kalau begitu. Sekarang beri aku laporan hasil identifikasinya” perintah Rodriguez bermaksud untuk melaporkan hasil identifikasi kepada Robeth.

“Arrggghh!”. Tiba-tiba terdengar suara raungan dan teriakan dari luar laboraturium. Terdengar suara ricuh seperti orang berlari. “Suara apa itu?” gumam Rodriguez heran. Ia lalu keluar. Terlihat sebuah pemandangan yang mengerikan. Tubuh Vincent tergeletak tanpa kepala. Terlihat seluruh orang berhamburan keluar karena ketakutan. Dihadapan Rodrigurez nampak seorang pria yang berbadan jangkung bernama Rey menyeringai sadis.

“Sial!” hujat Rodriguez yang kemudian mengambil senjatanya. Ia sontak menembakkan senjatanya tepat ke tubuh Rey. Kemudian Rey langsung tersungkur di lantai. Rodriguez yang sangat panik lalu menembaki Rey yang masih tersungkur dengan brutal. Setelah peluru Rodriguez habis ia hujani. Ia pun seraya mencoba menghubungi Robeth. Sedangkan Rey masih tersungkur tak bergerak.

Di dekat gang Whitechaple, tampak tiga pria sedang bercakap-cakap. Mereka adalah Robeth, Donovan, dan Zen. “Jadi kamu adalah Dhampire? Setengah vampire setengah manusia?” tanya Robeth memastikan. “Iya kamu bisa bilang seperti itu. Dan aku adalah pemburu vampire. Semua dhampire ditakdirkan untuk memburu vampire yang tersebar di dunia ini. Sayangnya dhampire sangat langka sekarang” jelas Zen yang sedari tadi bermimik serius.

“Bagaimana bisa kami mempercayai seluruh cerita mu? Bisa saja kamu ternyata salah satu dari mereka dan berniat memangsa kami?” sanggah Robeth ragu.

“Terserah kalian mau percaya atau tidak. Tapi yang jelas, aku membutuhkan bantuan kalian dan kalian pasti membutuhkan bantuanku” tegas Zen. Donovan hanya bisa terdiam seperti memikirkan sesuatu.

Tiba-tiba terdengar suara handphone Robeth memecah heningnya malam. “Ada telepon dari Rodriguez” ujar Robeth. “Halo, ada apa Rodriguez?” tanya Robeth penasaran. “Halo, Pak! Kode merah! Disini, argh!” belum tuntas Rodriguez mengabarkan situasi, tiba-tiba ia mengeram kesakitan. Seketika itu pula telepon mereka terputus. “Halo! Rodriguez! Apa yang terjadi?!” bentak Robeth terlihat panik. Donovan dan Zen yang melihat kegusaran itu seraya memasang mimik penuh tanya.

“Sepertinya ada sesuatu yang gawat di rumah sakit Saint Rose ya Rob?” tanya Donovan gundah. “Iya Don, sekarang juga kita harus kesana. Ayo!” ucap Robeth lirih. Ia sangat gusar memikirkan kondisi anak buahnya, dan juga kondisi bukti-bukti penting. Setelah ia mengambil pisau peraknya yang tergeletak ditepi jalan, ia langsung berlari menuju mobil dinasnya.

“Okey, Zen maukah kamu ikut bersama kami?” tanya Donovan seraya berjalan mengikuti Robeth. “Aku akan mengikuti kalian dari belakang” jawab Zen dingin. Tampak sebuah pedang panjang berwarna perak terikat erat di pinggangnya. Gagang pedang itu berwarna hitam pekat dengan dihiasi sebuah permata berwarna merah darah.


“Baiklah, kuharap kamu mau membantu kami” tambah Donovan. Zen hanya mengangguk kecil lalu menghilang begitu saja. Donovan sontak berlari cepat menyusul Robeth yang sedari tadi sudah menunggu di mobil dinasnya. 

BERSAMBUNG

No comments:

Post a Comment