Di rumah sakit Saint Rose. Terdapat sebuah
laboratorium di lantai satu rumah sakit itu yang menjadi tempat identifikasi
bukti-bukti yang ditinggalkan pelaku. di sisi pintu luar, terdapat dua anggota
CID sedang berjaga-jaga dengan membawa pisau. Para anggota khusus itu bernama
Donald dan Vincent.
Sedangkan terdapat seorang sniper handal sedang
berjaga-jaga diatas atap rumah sakit itu, bernama Karl. Rodriguez yang
mendapatkan pesan bahwa sedang terjadi penjagaan khusus di rumah sakit Saint
Rose seraya ikut membantu mengawasi proses identifikasi bukti-bukti itu.
Rodriguez terlihat sedang ikut melihat para tim forensik mengutak-atik
komputernya.
Tampak dari kejauhan rumah sakit Saint Rose,
tiga sosok pemuda sedang berjalan menuju rumah sakit tua itu. Ketiga sosok
pemuda itu memakai pakaian serba hitam. Dengan ditambah topi bowler, sarung
tangan hitam, dan kacamata hitam melekat ditubuh mereka. Pria yang berjalan di
sisi kiri berbadan tinggi dan besar. Sedangkan pria yang berjalan di sisi kanan
berbadan pendek. Dan pria ditengah terlihat jangkung dan kurus. Mereka berjalan
dengan muka datar dan serius.
Karl yang berjaga di atap melihat ketiga pria
mencurigakan itu. Ia lalu mengaktifkan earphone nya bermaksud menghubungi
rekannya. “Donald, aku melihat tiga orang mencurigakan sedang berjalan menuju
rumah sakit. Memakai seragam serba hitam. Segera interogasi mereka” lapor Karl
kepada Donald yang sedang berjaga disekitar pintu masuk laboratorium. “Roger”
jawab Donald. Ia langsung menuju depan rumah sakit. Terlihat Donald mendekati ketiga pria
itu. Karl melihat mereka bertemu secara jelas. Semakin jelas ketika Karl
meneropong mereka berempat menggunakan lensa sniper nya.
“Stop! CID! Berhenti sebentar! Sebutkan nama
kalian satu per satu!” ucap Donald nampak tegas. Ketiga orang asing itu
terlihat tak bereaksi. “Kita apakan orang ini Rey?” tanya salah satu pria
berbadan besar. “Lenyapkan” jawab
salah satu pria berbadan jangkung dan kurus. “Hey
jangan bergerak, sekarang ikut menepi bersamaku!” teriak Donald semakin
terlihat tegas.
Tiba-tiba lelaki berbadan besar langsung
membekap Donald, lalu menghilang tanpa jejak. “Apa! Donald! dimana kau Donald!”
Karl yang terkejut melihat kejadian aneh itu langsung menghubungi Donald
melalui earphone. Namun tidak ada jawaban. Karl mulai panik dan mengarahkan
lensa snipernya ke kepala lelaki berbadan pendek, bersiap untuk menembak.
“Pak Rodriguez, Donald menghilang tanpa jejak
setelah dibekap lelaki berbadan besar didekat pintu masuk rumah sakit. Menunggu
perintah untuk menembak” lapor Karl yang mulai diliputi rasa tegang.
“Apa!? Sekarang tembak mereka!” perintah Rodriguez
yang sedang bersiaga di dalam laboratorium. “Siap!”
jawab Karl tegas. Ia mulai membidik kepala pria berbadan pendek.
‘Dor!’ bunyi tembakan sniper terdengar tidak
begitu keras karena tertahan oleh peredam suara. Peluru panas berbahan perak pun
melesat sangat cepat. Lelaki pendek yang menyadari kepalanya di incar tiba-tiba
‘slash!’ menghilang tanpa jejak.
“Hah? Kemana dia pergi?” gumam Karl bingung. Ia
mencari ke segala arah namun lelaki pendek itu tidak kunjung nampak. Ia lalu
mengincar kepala pria yang masih tersisa, yaitu pria jangkung. Karl kaget
ketika melihat lelaki jangkung itu menatap bengis Karl yang akan menembak
kepalanya.
‘Jleb!’. Tiba-tiba tubuh Karl ditikam oleh
tangan dengan kuku-kuku jari yang sangat runcing. Terlihat jantung segar keluar
dari tubuh Karl. Dengan dilapisi oleh darah segar disekitar jantung dan tangan.
Karl yang melihat jantungnya terlepas pun tak bisa bergerak lagi. Badannya mati
rasa. “Ugh!” Karl terjatuh dan mati seketika.
Terlihat sesosok pria yang berbadan pendek
membunuh Karl dengan mengambil jantung nya. Jantung yang masih segar itu lalu
ia makan sambil tertawa sinis. Lelaki berbadan jangkung yang melihat aksi itu
seraya berjalan pelan menuju rumah sakit Saint Rose.
“Jadi, DNA pada rambut ini mengarah kepada seorang
warga negara asing yang bernama Francisia?” tanya Rodriguez kepada salah satu
tim forensik CID. “Iya pak, DNA pada rambut ini positif milik seorang wanita
bernama Francisia. Dan dengan diperkuat dengan sidik jari yang juga milik
Francisia. Wanita yang telah menetap di kota London selama 1 tahun” jawab tim
forensik CID. “Baiklah kalau begitu. Sekarang beri aku laporan hasil
identifikasinya” perintah Rodriguez bermaksud untuk melaporkan hasil
identifikasi kepada Robeth.
“Arrggghh!”. Tiba-tiba terdengar suara raungan
dan teriakan dari luar laboraturium. Terdengar suara ricuh seperti orang
berlari. “Suara apa itu?” gumam Rodriguez heran. Ia lalu keluar. Terlihat
sebuah pemandangan yang mengerikan. Tubuh Vincent tergeletak tanpa kepala.
Terlihat seluruh orang berhamburan keluar karena ketakutan. Dihadapan
Rodrigurez nampak seorang pria yang berbadan jangkung bernama Rey menyeringai
sadis.
“Sial!” hujat Rodriguez yang kemudian mengambil
senjatanya. Ia sontak menembakkan senjatanya tepat ke tubuh Rey. Kemudian Rey
langsung tersungkur di lantai. Rodriguez yang sangat panik lalu menembaki Rey
yang masih tersungkur dengan brutal. Setelah peluru Rodriguez habis ia hujani.
Ia pun seraya mencoba menghubungi Robeth. Sedangkan Rey masih tersungkur tak
bergerak.
Di dekat gang Whitechaple, tampak tiga pria
sedang bercakap-cakap. Mereka adalah Robeth, Donovan, dan Zen. “Jadi kamu
adalah Dhampire? Setengah vampire setengah manusia?” tanya Robeth memastikan.
“Iya kamu bisa bilang seperti itu. Dan aku adalah pemburu vampire. Semua
dhampire ditakdirkan untuk memburu vampire yang tersebar di dunia ini.
Sayangnya dhampire sangat langka sekarang” jelas Zen yang sedari tadi bermimik
serius.
“Bagaimana bisa kami mempercayai seluruh cerita
mu? Bisa saja kamu ternyata salah satu dari mereka dan berniat memangsa kami?”
sanggah Robeth ragu.
“Terserah kalian mau percaya atau tidak. Tapi
yang jelas, aku membutuhkan bantuan kalian dan kalian pasti membutuhkan
bantuanku” tegas Zen. Donovan hanya bisa terdiam seperti memikirkan sesuatu.
Tiba-tiba terdengar suara handphone Robeth
memecah heningnya malam. “Ada telepon dari Rodriguez” ujar Robeth. “Halo,
ada apa Rodriguez?” tanya Robeth penasaran. “Halo,
Pak! Kode merah! Disini, argh!” belum tuntas Rodriguez mengabarkan situasi,
tiba-tiba ia mengeram kesakitan. Seketika itu pula telepon mereka terputus.
“Halo! Rodriguez! Apa yang terjadi?!” bentak
Robeth terlihat panik. Donovan dan Zen yang melihat kegusaran itu seraya
memasang mimik penuh tanya.
“Sepertinya ada sesuatu yang gawat di rumah sakit Saint Rose
ya Rob?” tanya Donovan gundah. “Iya Don, sekarang juga kita harus kesana. Ayo!”
ucap Robeth lirih. Ia sangat gusar memikirkan kondisi anak buahnya, dan juga
kondisi bukti-bukti penting. Setelah ia mengambil pisau peraknya yang
tergeletak ditepi jalan, ia langsung berlari menuju mobil dinasnya.
“Okey, Zen maukah kamu ikut bersama kami?” tanya Donovan
seraya berjalan mengikuti Robeth. “Aku akan mengikuti kalian dari belakang”
jawab Zen dingin. Tampak sebuah pedang panjang berwarna perak terikat erat di
pinggangnya. Gagang pedang itu berwarna hitam pekat dengan dihiasi sebuah
permata berwarna merah darah.
“Baiklah, kuharap kamu mau membantu kami” tambah Donovan. Zen
hanya mengangguk kecil lalu menghilang begitu saja. Donovan sontak berlari
cepat menyusul Robeth yang sedari tadi sudah menunggu di mobil dinasnya.
BERSAMBUNG
No comments:
Post a Comment