“Hey,
kau mau kemana!?” teriak Robeth seraya berlari mengikuti Zen. Donovan hanya
berlari kecil mengikuti mereka berdua. Burung gagak dan binatang-binatang malam
menatap tajam mereka bertiga. Suara-suara aneh mengiringi di setiap jalannya. Tampak
deretan kuburan yang berpagarkan jeruji tajam dan semak belukar. Pepohonan
kurus melengkapi pemandangan angker itu. Seolah-olah terlihat ‘mata’ di
dedaunan pohon-pohon itu. Sinar rembulan sulit menembus pekarangan kuburan itu
karena tertutup dedaunan pepohonan kurus.
Tak
lama setelah mereka berjalan memasuki kelamnya kuburan High Gate. Tampak sebuah
lorong berpilar besar yang retak dimakan usia. Akar-akar pepohonan merambati
pilar-pilar itu. Disambut oleh pagar berbahan seng yang sudah berkarat.
Terlihat pula pahatan-pahatan salib yang telah hancur tak berbentuk lagi.
Lorong itu sangat gelap dan membuat makhluk-makhluk malam betah bermalam di
lorong itu. Tak terkecuali makhluk-makhluk penghisap darah.
“Apa
kita harus masuk kedalam sana?” tanya Robeth yang nyalinya sedikit ciut. Ia
berjalan sedikit memelan. Donovan pun sedikit gemetar untuk meneruskan
langkahnya. “Benar, aku dan Robeth juga lupa membawa senjata, jadi kami tidak
bisa melawan para vampire yang tiba-tiba muncul” tambah Donovan. Ia menjadi
teringat istrinya yang sedang kesepian dirumah.
“Jika
ada vampire yang muncul. Akan aku bunuh” pungkas Zen dingin dan singkat. Ia
tidak menoleh kebelakang sedikitpun. Mereka lalu memasuki kawasan lorong yang
gelap dan mengerikan. Tampak ukiran-ukiran patung di pinggir-pinggir lorong.
Dan juga terlihat cabang-cabang lorong yang dihiasi ukiran unik dan aneh. Hawa
dilorong itu sangat dingin dan menusuk. Membuat kedua manusia normal itu
sedikit bergidik ngeri.
Ujung
lorong pun mulai terlihat. Tampak sebuah gerbang raksasa yang terbuat dari besi
berwarna merah tua dan sudah berkarat. Gagang gerbang itu terlihat seperti
wajah pria dengan rambut panjang dan gigi taring yang menonjol. Ternyata ada
ruangan dibalik gerbang itu.
“Hey
Zen, kau mau membawa kami kemana?” tanya Robeth lagi yang mulai merasakan hawa
tidak mengenakkan di lorong-lorong itu. Donovan hanya bisa terdiam. Rasa
keingintahuannya mengalahkan ketakutannya. Zen tak menjawab dan melanjutkan
langkahnya menuju gerbang besar itu.
Akhirnya
mereka tiba di ujung lorong itu. Sebuah gerbang tua yang telah berkarat
ternyata tidak terkunci. Zen seraya mendorong gerbang itu secara perlahan. Donovan
dan Robeth hanya bisa menelan ludah berusaha untuk tenang. Setelah mereka
menyenteri sekitar ruangan itu, terlihat banyak peti mati berjejeran menghiasi
seluruh ruangan itu. Dari keseluruhan peti mati, tampak dua peti mati yang
terlihat megah. Dengan dihiasi perhiasan permata dan intan. Menambah keindahan
kedua peti mati itu.
“Tunggu,
ada yang aneh dari semua peti mati ini. Kenapa penutup peti mati ini terbuka?”
celetuk Donovan ketika melihat kejanggalan itu. Robeth pun seraya mengangguk
pelan berharap Zen mau mengatakan semuanya.
“Disini
dulu tempat pemakaman khusus klan Raven. Namun setahun yang lalu, ada seseorang
yang membangunkan mereka” jelas Zen singkat. Terlihat peti-peti yang sudah
kosong di seluruh ruangan itu berubah menjadi sarang laba-laba.
“Apa?!
Siapa yang berani-beraninya membangunkan makhluk itu Zen?” tanya Robeth dengan
wajah penuh amarah. Ia tidak habis pikir ada yang berani membangkitkan makhluk
berdarah dingin itu.
“Seseorang
vampire yang telah bangkit mendahului Daniel De Raven. Yaitu Emperiano Van
Dracul” jawab Zen seraya membuang mukanya. Seakan-akan sedang menyembunyikan
sesuatu.
“Dracul?
Sepertinya aku pernah mendengar nama itu?” gumam Robeth sembari
mengingat-ingat. Ingatannya memang agak payah.
“Zen
Van Dracul namamu khan? Jangan-jangan kamu ada hubungan darah dengan Emperiano
Van Dracul?” ucap Donovan dengan intonasi penuh tanya. Ia merasakan ada yang
aneh dengan marga Dracul di nama belakang Zen.
“Kau
benar. Ayahku adalah keturunan vampire murni dari klan Dracul. Nama ayahku
adalah Ron Van Dracul. Ia telah mati beberapa ratus tahun yang lalu setelah
menyetubuhi ibuku yang manusia biasa. Ia mati karena dibunuh orangtua ibuku
yang juga pemburu vampire. Ibuku tewas dibunuh keluarga Dracul tidak lama
setelah melahirkanku. Aku menjadi dendam pada seluruh klan vampire yang ada di
dunia ini, terutama klan Dracul. Dan Emperiano Van Dracul adalah salah satu
anak dari ayahku” jelas Zen seraya duduk di pinggiran peti mati itu.
“Jadi
seperti itu ceritanya. Sedikit demi sedikit semua pertanyaanku terjawab. Tapi
ada satu pertanyaanku yang tak terjawab. Mengapa Emperiano membangkitkan klan
Raven?” ujar Donovan seraya menyisiri ruangan itu. Robeth hanya terpukau oleh
cerita Zen.
“Aku
rasa, maksud dari Emperiano membangkitkan klan Raven yang terkenal sadis itu
karena…” belum tuntas Zen berbicara, tiba-tiba ada beberapa makhluk sejenis
kelelawar terbang memasuki ruangan itu melalui sela-sela jendela. Zen dan kedua
sahabat itu terkaget-kaget dan memasang kuda-kuda siaga. Terdapat empat makhluk
sejenis kelelawar dengan tubuh sebesar manusia mengelilingi mereka. Rambut
lebat tumbuh di seluruh tubuh makhluk itu. Dilengkapi dengan mata yang merah
menyala dan sayap di tangannya. Terlihat gigi taring yang sangat panjang
menonjol dari sela-sela bibirnya. Donovan dan Robeth terlihat gusar dan panik.
Terlebih Robeth yang masih trauma dengan makhluk penghisap darah itu.
“Sial!
Kita terjebak! Bagaimana ini?!” teriak Robeth panik serta tegang. Donovan hanya
terdiam mematung. Terlihat dengan jelas kegetiran mereka berdua.
Tiba-tiba
Zen menebaskan pedangnya tepat ke kepala salah satu makhluk itu. Darah hitam
terciprat kemana-mana. Sebuah kepala menggelinding hingga ke pojok ruangan.
Salah satu makhluk bertaring itu ambruk seketika. Seketika itu pula
makhluk-makhluk keji itu menyerang Zen. Terlihat suatu pemandangan mengerikan
dimana Zen dikepung secara brutal oleh makhluk-makhluk itu. Donovan dan Robeth
yang seperti tidak dianggap oleh makhluk bersayap itu seraya menepi di ruangan
itu, tidak berani mengganggu Zen.
Dengan
gesit Zen menghindari setiap tusukan dan terkaman makhluk-makhluk itu.
Pedangnya seakan-akan terbang menyayati tubuh-tubuh vampire buas itu. Pekikan
kesakitan terdengar keras. Makhluk bertaring itu tumbang satu persatu. Zen
seakan-akan menari diantara muncratan darah segar berwarna hitam itu.
“Hebat
sekali dia!”gumam Robeth yang sedari tadi terpana oleh pertarungan sengit itu.
Donovan juga seakan-akan terhipnotis oleh gaya bertarung Zen.
Tak
lama kemudian, seluruh makhluk mengerikan itu tumbang secara mengenaskan.
Tangannya tersayat hingga putus. Kepala nya teriris menjadi dua sehingga
terlihat otak tercecer di lantai. Dan ada pula yang tubuhnya terbelah menjadi
dua.
“Akhirnya
selesai juga. Sungguh hebat kau Zen. Ajari aku gaya bertarungmu itu dong” pinta
Robeth seraya mendekati Zen. Donovan masih terpaku di pinggir ruangan itu.
“Jangan
mendekatiku!” bentak Zen yang masih membelakangi mereka berdua. “Apa maksudmu?”
tanya Robeth yang masih berjalan mendekati Zen. Ia tidak tahu bahwa bahaya
masih mengintainya.
Tiba-tiba
diantara bayangan siluet Robeth, terlihat seseorang menerobos menyeruak keluar.
Mencengkeram hebat Robeth dan berusaha membawanya terbang keluar ruangan.
“Tidak
lepaskan aku!” gertak Robeth seraya meronta-ronta berusaha melawan makhluk yang
sangat mengerikan itu. Terlihat makhluk yang mencengkeram Robeth berbadan mirip
manusia. Dilengkapi dengan topi bowler dan topeng menyeramkan terpasang tepat
di wajahnya. Namun bibirnya masih terlihat dengan jelas dan bajunya yang
berwarna serba hitam. Tampak sepasang sayap terpasang di punggungnya. Robeth
dicengkeram erat dengan kedua tangannya.
“Robeth!
Tidak!” teriak Donovan ketika menyadari sahabatnya dalam bahaya itu. Ia hendak
mengejar tetapi tidak terlampaui. Zen yang terlambat menyadari itu bermaksud
menebas makhluk itu dari belakang, tapi tetap tidak tertebas. Makhluk itu
terbang sangat cepat melewati jendela dan lorong-lorong. Lambat laut semakin
mengecil dan tak terlihat.
“Tidaaaakkk!”
teriak Donovan dengan wajah penuh penyesalan. Rasa sesal dan amarah mengaduk
menjadi satu di hatinya. Seolah-olah seperti kehilangan separuh badannya. “Sial,
mengapa Rey bisa kesini!? Aku harus mengejarnya!” umpat Zen. Ia pun tiba-tiba menghilang
seperti berusaha untuk mengejar makhluk itu.
“Tunggu aku Zen!” teriak Donovan
ditengah-tengah sepinya ruangan kelam itu. Ia sekarang sendirian tanpa
seorangpun menemaninya.
BERSAMBUNG
No comments:
Post a Comment