Saturday, September 14, 2013

TARING [PART 7 - FAKTA]

“Hey, kau mau kemana!?” teriak Robeth seraya berlari mengikuti Zen. Donovan hanya berlari kecil mengikuti mereka berdua. Burung gagak dan binatang-binatang malam menatap tajam mereka bertiga. Suara-suara aneh mengiringi di setiap jalannya. Tampak deretan kuburan yang berpagarkan jeruji tajam dan semak belukar. Pepohonan kurus melengkapi pemandangan angker itu. Seolah-olah terlihat ‘mata’ di dedaunan pohon-pohon itu. Sinar rembulan sulit menembus pekarangan kuburan itu karena tertutup dedaunan pepohonan kurus.

Tak lama setelah mereka berjalan memasuki kelamnya kuburan High Gate. Tampak sebuah lorong berpilar besar yang retak dimakan usia. Akar-akar pepohonan merambati pilar-pilar itu. Disambut oleh pagar berbahan seng yang sudah berkarat. Terlihat pula pahatan-pahatan salib yang telah hancur tak berbentuk lagi. Lorong itu sangat gelap dan membuat makhluk-makhluk malam betah bermalam di lorong itu. Tak terkecuali makhluk-makhluk penghisap darah.

“Apa kita harus masuk kedalam sana?” tanya Robeth yang nyalinya sedikit ciut. Ia berjalan sedikit memelan. Donovan pun sedikit gemetar untuk meneruskan langkahnya. “Benar, aku dan Robeth juga lupa membawa senjata, jadi kami tidak bisa melawan para vampire yang tiba-tiba muncul” tambah Donovan. Ia menjadi teringat istrinya yang sedang kesepian dirumah.

“Jika ada vampire yang muncul. Akan aku bunuh” pungkas Zen dingin dan singkat. Ia tidak menoleh kebelakang sedikitpun. Mereka lalu memasuki kawasan lorong yang gelap dan mengerikan. Tampak ukiran-ukiran patung di pinggir-pinggir lorong. Dan juga terlihat cabang-cabang lorong yang dihiasi ukiran unik dan aneh. Hawa dilorong itu sangat dingin dan menusuk. Membuat kedua manusia normal itu sedikit bergidik ngeri.

Ujung lorong pun mulai terlihat. Tampak sebuah gerbang raksasa yang terbuat dari besi berwarna merah tua dan sudah berkarat. Gagang gerbang itu terlihat seperti wajah pria dengan rambut panjang dan gigi taring yang menonjol. Ternyata ada ruangan dibalik gerbang itu.

“Hey Zen, kau mau membawa kami kemana?” tanya Robeth lagi yang mulai merasakan hawa tidak mengenakkan di lorong-lorong itu. Donovan hanya bisa terdiam. Rasa keingintahuannya mengalahkan ketakutannya. Zen tak menjawab dan melanjutkan langkahnya menuju gerbang besar itu.

Akhirnya mereka tiba di ujung lorong itu. Sebuah gerbang tua yang telah berkarat ternyata tidak terkunci. Zen seraya mendorong gerbang itu secara perlahan. Donovan dan Robeth hanya bisa menelan ludah berusaha untuk tenang. Setelah mereka menyenteri sekitar ruangan itu, terlihat banyak peti mati berjejeran menghiasi seluruh ruangan itu. Dari keseluruhan peti mati, tampak dua peti mati yang terlihat megah. Dengan dihiasi perhiasan permata dan intan. Menambah keindahan kedua peti mati itu.

“Tunggu, ada yang aneh dari semua peti mati ini. Kenapa penutup peti mati ini terbuka?” celetuk Donovan ketika melihat kejanggalan itu. Robeth pun seraya mengangguk pelan berharap Zen mau mengatakan semuanya.

“Disini dulu tempat pemakaman khusus klan Raven. Namun setahun yang lalu, ada seseorang yang membangunkan mereka” jelas Zen singkat. Terlihat peti-peti yang sudah kosong di seluruh ruangan itu berubah menjadi sarang laba-laba.

“Apa?! Siapa yang berani-beraninya membangunkan makhluk itu Zen?” tanya Robeth dengan wajah penuh amarah. Ia tidak habis pikir ada yang berani membangkitkan makhluk berdarah dingin itu.

“Seseorang vampire yang telah bangkit mendahului Daniel De Raven. Yaitu Emperiano Van Dracul” jawab Zen seraya membuang mukanya. Seakan-akan sedang menyembunyikan sesuatu.

“Dracul? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu?” gumam Robeth sembari mengingat-ingat. Ingatannya memang agak payah.

“Zen Van Dracul namamu khan? Jangan-jangan kamu ada hubungan darah dengan Emperiano Van Dracul?” ucap Donovan dengan intonasi penuh tanya. Ia merasakan ada yang aneh dengan marga Dracul di nama belakang Zen.

“Kau benar. Ayahku adalah keturunan vampire murni dari klan Dracul. Nama ayahku adalah Ron Van Dracul. Ia telah mati beberapa ratus tahun yang lalu setelah menyetubuhi ibuku yang manusia biasa. Ia mati karena dibunuh orangtua ibuku yang juga pemburu vampire. Ibuku tewas dibunuh keluarga Dracul tidak lama setelah melahirkanku. Aku menjadi dendam pada seluruh klan vampire yang ada di dunia ini, terutama klan Dracul. Dan Emperiano Van Dracul adalah salah satu anak dari ayahku” jelas Zen seraya duduk di pinggiran peti mati itu.

“Jadi seperti itu ceritanya. Sedikit demi sedikit semua pertanyaanku terjawab. Tapi ada satu pertanyaanku yang tak terjawab. Mengapa Emperiano membangkitkan klan Raven?” ujar Donovan seraya menyisiri ruangan itu. Robeth hanya terpukau oleh cerita Zen.

“Aku rasa, maksud dari Emperiano membangkitkan klan Raven yang terkenal sadis itu karena…” belum tuntas Zen berbicara, tiba-tiba ada beberapa makhluk sejenis kelelawar terbang memasuki ruangan itu melalui sela-sela jendela. Zen dan kedua sahabat itu terkaget-kaget dan memasang kuda-kuda siaga. Terdapat empat makhluk sejenis kelelawar dengan tubuh sebesar manusia mengelilingi mereka. Rambut lebat tumbuh di seluruh tubuh makhluk itu. Dilengkapi dengan mata yang merah menyala dan sayap di tangannya. Terlihat gigi taring yang sangat panjang menonjol dari sela-sela bibirnya. Donovan dan Robeth terlihat gusar dan panik. Terlebih Robeth yang masih trauma dengan makhluk penghisap darah itu.

“Sial! Kita terjebak! Bagaimana ini?!” teriak Robeth panik serta tegang. Donovan hanya terdiam mematung. Terlihat dengan jelas kegetiran mereka berdua.

Tiba-tiba Zen menebaskan pedangnya tepat ke kepala salah satu makhluk itu. Darah hitam terciprat kemana-mana. Sebuah kepala menggelinding hingga ke pojok ruangan. Salah satu makhluk bertaring itu ambruk seketika. Seketika itu pula makhluk-makhluk keji itu menyerang Zen. Terlihat suatu pemandangan mengerikan dimana Zen dikepung secara brutal oleh makhluk-makhluk itu. Donovan dan Robeth yang seperti tidak dianggap oleh makhluk bersayap itu seraya menepi di ruangan itu, tidak berani mengganggu Zen.

Dengan gesit Zen menghindari setiap tusukan dan terkaman makhluk-makhluk itu. Pedangnya seakan-akan terbang menyayati tubuh-tubuh vampire buas itu. Pekikan kesakitan terdengar keras. Makhluk bertaring itu tumbang satu persatu. Zen seakan-akan menari diantara muncratan darah segar berwarna hitam itu.

“Hebat sekali dia!”gumam Robeth yang sedari tadi terpana oleh pertarungan sengit itu. Donovan juga seakan-akan terhipnotis oleh gaya bertarung Zen.

Tak lama kemudian, seluruh makhluk mengerikan itu tumbang secara mengenaskan. Tangannya tersayat hingga putus. Kepala nya teriris menjadi dua sehingga terlihat otak tercecer di lantai. Dan ada pula yang tubuhnya terbelah menjadi dua.

“Akhirnya selesai juga. Sungguh hebat kau Zen. Ajari aku gaya bertarungmu itu dong” pinta Robeth seraya mendekati Zen. Donovan masih terpaku di pinggir ruangan itu.

“Jangan mendekatiku!” bentak Zen yang masih membelakangi mereka berdua. “Apa maksudmu?” tanya Robeth yang masih berjalan mendekati Zen. Ia tidak tahu bahwa bahaya masih mengintainya.

Tiba-tiba diantara bayangan siluet Robeth, terlihat seseorang menerobos menyeruak keluar. Mencengkeram hebat Robeth dan berusaha membawanya terbang keluar ruangan.

“Tidak lepaskan aku!” gertak Robeth seraya meronta-ronta berusaha melawan makhluk yang sangat mengerikan itu. Terlihat makhluk yang mencengkeram Robeth berbadan mirip manusia. Dilengkapi dengan topi bowler dan topeng menyeramkan terpasang tepat di wajahnya. Namun bibirnya masih terlihat dengan jelas dan bajunya yang berwarna serba hitam. Tampak sepasang sayap terpasang di punggungnya. Robeth dicengkeram erat dengan kedua tangannya.

“Robeth! Tidak!” teriak Donovan ketika menyadari sahabatnya dalam bahaya itu. Ia hendak mengejar tetapi tidak terlampaui. Zen yang terlambat menyadari itu bermaksud menebas makhluk itu dari belakang, tapi tetap tidak tertebas. Makhluk itu terbang sangat cepat melewati jendela dan lorong-lorong. Lambat laut semakin mengecil dan tak terlihat.


“Tidaaaakkk!” teriak Donovan dengan wajah penuh penyesalan. Rasa sesal dan amarah mengaduk menjadi satu di hatinya. Seolah-olah seperti kehilangan separuh badannya. “Sial, mengapa Rey bisa kesini!? Aku harus mengejarnya!” umpat Zen. Ia pun tiba-tiba menghilang seperti berusaha untuk mengejar makhluk itu. 

“Tunggu aku Zen!” teriak Donovan ditengah-tengah sepinya ruangan kelam itu. Ia sekarang sendirian tanpa seorangpun menemaninya.

BERSAMBUNG

No comments:

Post a Comment