“Bang
Agus, tolongin saya bang, ini ada soal logaritma yang susah, jengkel saya ndak
bisa ngerjain” Ujar seorang wanita berparas cantik, Rini namanya.
“Mana
Rin? oalah, ini soalnya gampang kok. begini caranya…” Ujar Agus, lelaki tampan
berkacamata.
Di
salah satu sudut kelas di sebuah universitas negeri ternama di Jogjakarta,
dengan logat “jowo”nya, Agus menjelaskan dan menjabarkan soal algoritma yang
sulit. Dari dulu Rini sangat menyukai Agus, selain berparas tampan dan pintar,
Agus juga sesosok pria yang taat beribadah. Namun Agus memiliki kisah yang
tidak diketahui hampir semua orang.
Di
salah satu gubuk di kampung wijen, hidup sebuah keluarga kecil. Keluarga itu
adalah Agus dan Ibunya. Dulu Agus dan Bapak serta Ibunya hidup harmonis di
gubuk tua itu. Namun, Sang Ayah meninggal ketika sedang mencari ikan di laut.
Waktu itu Agus masih berumur 5 tahun. Sejak itu Agus dan Ibunya berjuang
melawan lapar. Ibunya bekerja sebagai pedagang sayur di pasar wijen, sedangkan
Agus mencari sayur liar di hutan wijen. Kegiatan itu terus dilakukan selama 6
tahun. Namun sejak subuh tadi, Agus yang berumur 11 tahun disuruh langsung
sekolah tanpa mencari sayuran liar terlebih dahulu. Agus juga mendapat pelukan
hangat dan Ubi jalar mentah untuk bekal di sekolah.
Sore
itu hujan deras mendera kampung wijen. Di sebuah gubuk di kampung itu, Agus
sedang bingung mencari ibunya. “Bu! Ibu! Panjenengan teng pundi Bu?” Ujar Agus
yang baru saja datang dari sekolah berjarak 1 km dari gubuknya, setelah melepas
baju dan tasnya yang basah karena hujan, Agus lalu mencari ke seluruh ruangan
di gubuk itu. Walaupun ruangan di gubuk itu hanya ada dua, Agus tetap gigih
mencari Ibunya. Tapi dengan dibalut rasa panik dan tersiksa karena lapar,
Ibunya pun masih tak kunjung ketemu. Menyerahlah si anak malang itu. Dengan
muka lusuh, bercelana merah dan badan yang agak basah karena kehujanan, ia pun
mengingat ingat memori tadi pagi. Sembari mengingat kenangan tadi subuh ketika
ibunya masih ada, ia dengan tidak sengaja melihat ke sudut meja, ia menemukan
sepucuk surat. “Surat siapa ini?” Gumamnya. Dibukalah surat itu.
Dari Ibu.
Untuk Agus anakku.
Maafkan Ibu karena Ibu tak pernah
cerita apa-apa. Maafkan Ibu karena Ibu tak pernah mengeluh tentang apapun.
Maafkan Ibu karena kamu harus menempuh hidup tanpa Ibu. Nak Agus, jangan kamu
bersedih karena kehilangan Ibu. Karena Ibu akan tetap ada di sisimu.
Tolong berikan surat ini kepada pakdhe
Tono, dia pasti akan mengurusmu. Ibu sekarang sudah tidak bisa menemanimu lagi.
Jaga kesehatanmu ya nak, belajar dan teruslah belajar, dan jangan lupa
beribadah. Selamat tinggal anakku.
Air
mata mengalir bak hujan kala itu. Tak kuasa Agus membendung kesedihan di dalam
hatinya. Ia lalu berpikir tak karuan, semakin tak karuan karena surat tersebut
menyiratkan kesedihan. Seakan-akan surat itu adalah tanda perpisahan dirinya
dengan Ibu. Sembari mengusap peluh di pipinya. Ia lalu bertekad untuk
mengantarkan surat itu kepada Pakdhe Tono. Ia lalu bergegas memakai kaos
olahraga yang baru dicuci, lalu memacu sepedanya yang ia parkir didepan gubuk.
Hujan pun sirna. Agus melaju dengan cepat melewati semak belukar dan
persimpangan. Namun ditengah perjalanan ia dikagetkan oleh suara yang memanggil
namanya. “Cah Agus! Cah Agus!” Teriak sesosok laki-laki paruh baya berbalut
sarung dan peci, pak Rukyah namanya. Pak Rukyah adalah salah satu penduduk
kampung Wijen yang juga menjabat sebagai guru agama di SD Wijen tempat Agus
belajar. Dan kabarnya, pak Rukyah mempunyai mata batin, bisa melihat bangsa
jin. “Wonten nopo pak? (Ada apa pak?)” Tanya Agus sambil mengatur napasnya yang
ngos-ngosan. “Sampeyan kenopo cah kok grusa grusu numpak sepeda? iki wes
maghrib, ayo maghriban sek (kamu kok tergesa gesa gitu naik sepedanya? sudah
maghrib lho, ayo sholat maghrib dulu)” nasehat pak Rukyah. “Kulo bade sowan dateng
dalemipun Pakdhe kula Pak, Inggih pak, maturnuwun (saya mau mengunjungi rumah
pakde saya pak, iya pak terimakasih)” Ujar Agus sopan sambil mengeluarkan
sarung di tas sekolahnya yang setiap hari ia bawa.
Bersama
dengan pak Rukyah, Agus menuntun sepeda nya menuju masjid tua tidak jauh dari
tempat mereka bertegur sapa, masjid Al-Anwar namanya. Masjid itu sangat tua
sampai-sampai ada bagian tembok yang retak dimakan usia. Di pinggir masjid
terdapat pohon bambu berjejer-jejer. Dan di halaman masjid tumbuh pohon mangga
yang sangat besar dan terlihat tua. Sesampainya mereka di masjid tua namun
besar itu, pak Rukyah lalu menuju shaf paling depan dan bersiap sholat sunnah
kobliyah maghrib. Sedangkan Agus harus menaruh sepedanya dulu di tempat parkir.
Namun ketika Agus merantai ban sepedanya. Betapa terkejutnya ia ketika melirik
ke salah satu sudut masjid, di pohon mangga tua itu, terdapat sesosok wanita
tua yang menatapnya tajam, rambutnya putih, badannya kecil membungkuk dan
berbaju putih kusam, wajahnya tak terlihat karena gelap, tetapi tatapannya
terasa hingga menusuk sukma. Bahkan seluruh rambut di tangan Agus pun ikut
merinding. Sontak suara Muadzin ber iqomah terdengar lantang. Karena belum
berwudhu dan tak kuasa menahan takut, ia pun lalu menuju tempat wudhu. Setelah
mengambil air wudhu, Agus lalu bergabung bersama jama’ah untuk menjalankan
Sholat maghrib.
Setelah
menjalankan sholat maghrib berjamaah, Agus lalu pamit kepada pak Rukyah untuk
melanjutkan perjalanan. “Pak Kula pamit rumiyen nggeh, Bade ngelanjutaken
perjalanan dateng griyanipun Pakdhe Tono (Pak saya pamit dulu ya, mau
melanjutkan perjalanan ke rumah nya pakde Tono)” Kata Agus dengan logat krama
inggilnya. “Iyo cah, ati-ati yo, Pak Tono lek gak salah iku omahe nang kampung
sebelah yo cah? Ati-ati yo, iki enek sego bungkus, panganen yo lek luwe, karo
lek sampeyan nang dalan diganggu jin, wocoen Ayat Al Kursi sampek jin e ilang
(Iya nak, hati-hati ya, Pak Tono itu kalau tidak salah rumahnya di kampung
sebelah ya nak? hati-hati ya, ini ada nasi bungkus, makanlah ketika lapar, dan
jika kamu diganggu jin, baca saja Ayat Al Kursi biar jinnya hilang)” Ujar pak
Rukyah tegas. “Inggih pak, kulo ngertos, maturnuwun nggih pak (Iya pak saya
mengerti, terima kasih ya Pak)” Kata Agus sembari melepas rantai di ban sepeda
dan mengalungkannya di badan sepeda. Setelah benar-benar berpamitan. Agus lalu
melanjutkan perjalannya menuju kampung sebelah tempat Pakdhenya tinggal,
kampung Napak Tilas.
Jarak
antara Kampung Wijen dan Kampung Napak Tilas cukup jauh, kurang lebih 60 menit
lamanya jika ditempuh dengan bersepeda. Sedangkan Agus masih mencapai daerah
tepian kampung Wijen. Kampung Wijen dan Napak Tilas dibatasi oleh dua masjid
tua yang telah dibangun beratus tahun yang lalu. Kampung Wijen diwakili oleh
Masjid Al-Anwar, sedangkan Kampung Napak Tilas diwakili oleh Masjid Saka
Tunggal. Jalan menuju perbatasan kampung Napak Tilas cukup sepi dan sempit,
hanya cukup untuk dilalui dua sepeda ontel, dan disekitar jalan dihias dengan
berbagai macam pohon, ada pohon beringin, pohon bambu, sawo, hingga pohon
pisang. Biasanya warga melakukan perjalanan antar kampung pada pagi dan siang
hari, karena takut dikageti jika lewat malam hari.
Malam
itu Agus mengayuh sepeda kecilnya dengan cepat, pandangannya lurus ke depan.
Tak ingin lagi ia melirik kanan kiri, karena kejadian tadi ketika di masjid
masih tertancap di pikirannya. Di campur dengan keberadaan Ibunya yang
menghilang secara misterius. Hatinya pun gundah gulana. “Ya Tuhan, mengapa
semua ini terjadi pada diriku?” keluhnya dalam hati. Sambil mengayuh sepeda, ia
membayangkan wajah ibunya pagi sebelum menghilang. “Astaga, aku tidak boleh
melamun!” gumamnya. Tiba-tiba ada sesuatu yang mengusik Agus. “Ngiiik, ngiiik,
ngiiik”, terdengar suara sepeda tua yang mengikuti Agus dari belakang. Bunyi
kayuhan sepeda tua itu menggema di sela-sela jalan yang sepi. ”Siapa gerangan
itu?” Gumam Agus penasaran. Ketika Agus mencoba menoleh ke belakang, betapa
terkejutnya ia ketika melihat sesosok makhluk yang sudah tak asing lagi
baginya. Sesosok makhluk yang sudah menjadi legenda kampung wijen. Sesosok pria
tanpa kepala. Hantu pria tak berkepala itu sudah menjadi legenda tak hanya di
kampung wijen, tetapi di kampung-kampung sebelah juga. Ceritanya, dulu ada seorang
petani yang mendapatkan untung lumayan banyak dari hasil panen di sawahnya.
Namun ketika si petani itu pulang menaiki sepeda tuanya di malam hari, ada
seorang perampok yang ingin menyikat uang si petani. Dengan berbekal celurit si
perampok membacok kepala si petani, dan na’asnya kepala pria malang itu lepas
dan menggelinding entah kemana. Darah pun semburat tak karuan, sepeda tua
itupun dalam sekejap berlumuran darah. Karena si perampok saat itu membawa
sepeda juga, maka yang diambil adalah uang hasil panen, sedangkan mayat dan
sepedanya ditinggalkan begitu saja. Sehari setelah kejadian, seluruh warga
menemukan jasad pria malang itu tanpa berhasil menemukan kepala dan sepeda tua
miliknya. Dan konon juga si perampok mati bunuh diri karena selalu digentayangi
hantu tak berkepala itu. Dan hingga saat ini si hantu pria itu setiap malam
mencari kepalanya yang hilang dan berkeliling di sekitar perbatasan kampung
Wijen dan kampung Napak Tilas.
Agus
memperhatikan dengan seksama hantu itu. Terlihat daging busuk di sekitar
lehernya, dengan memakai pakaian petani dan topi petani dikalungkan di
badannya, ia pun mengayuh sepeda tuanya. Walau terlihat pelan, namun
kecepatannya bisa menandingi si Agus yang mengayuh sepedanya dengan cepat
karena ketakutan. “Astaga ada hantu tak berkepala! Waaaa!” Agus yang malang itu
berteriak lalu menggenjot sepedanya secepat mungkin. Tanpa memperhatikan jalan
yang tak rata, ia tetap mengayuh sepedanya. Walaupun Agus sudah mengayuh
sepedanya secepat mungkin, tapi si hantu nakal itu masih bisa mengejar, bahkan
sekarang berada di samping Agus. Bau tengik dan busuk menyeruak disela-sela
hidung Agus. Dagingnya yang sudah membusuk mulai menjulur dari leher. Dihias
dengan belatung gemuk yang bergelantung di sela-sela leher itu. Tak tahan
dengan pemandangan menjijikan itu, Agus pun langsung komat-kamit membaca Ayat
Al Kursi. Hantu tak berkepala itu pun tiba-tiba memelankan kayuhannya. Semakin
pelan dan pelan. Agus yang sadar bahwa aji-aji itu berhasil, masih tetap
membaca Ayat suci itu. Akhirnya hantu itu sekejap hilang tak berjejak.
“Alhamdulillah Ya Allah” gumamnya lega.
Separuh
perjalanan telah Agus tempuh. Banyak jin-jin yang mengganggu ekspedisi kecil
agus, tetapi tidak separah hantu tak berkepala tadi. “Laparr, berhenti dulu ah.
Makan dulu..” Ujar si Agus lirih. Ia memang sudah kelaparan dari tadi, dan
berniat menepi sejenak untuk menyantap nasi bungkus dari pak Rukyah, tapi apa
daya, ketakutannya karena diganggu jin-jin nakal memupuskan niatnya untuk
menepi. Tapi untungnya jalan sempit penuh pepohonan telah ia lewati. Sekarang
Agus sedang berada di daerah persawahan. Banyak suara hewan hewan kecil seperti
jangkrik, kodok, dan belalang. Agus melirik kanan dan kiri, berharap menemukan
tempat istirahat. Dia lalu melihat ada sebuah gubuk kecil. Gubuk itu sebenarnya
difungsikan untuk tempat istirahat para petani yang sedang bercocok tanam.
Tetapi terkadang menjadi singgahan anak-anak kecil untuk melepas lelah usai
bermain petak umpet. Agus dengan cepat duduk di gubuk tua itu, sembari membuka
bungkusan nasi, tak lupa ia membaca bismillah agar tak diganggu makhluk halus
lagi. Lalu dengan lahap ia menyantap nasi dengan lauk telur dadar dan mie itu.
Dengan wajah puas dan kenyang, ia lalu membuang bungkus nasi yang sudah kosong
ke tempat sampah dekat situ. Setelah meneguk air minum di tasnya. Ia lalu
bersiap-siap melanjutkan perjalanan. “Oh Ibu, engkau dimana Ibu?” pikir Agus
resah. Sampai sekarangpun ia masih memikirkan Ibunya yang menghilang secara
misterius.
Agus
mengayuh sepedanya dengan pelan, takut perutnya sakit karena kekenyangan.
Badannya yang sudah sangat pegal sangat menyiksa. Tapi ia bertekad melanjutkan
perjalanan jauhnya itu, paling tidak hingga menjumpai masjid Saka Tunggal,
tanda bahwa ia telah memasuki kampung Napak Tilas. Perjalanan kurang lebih
tinggal 20 menit lagi. Dengan berbekal semangat ia mengayuh sepedanya cukup
cepat. Namun sekali lagi ia harus memasuki daerah alas. Dimana terdapat banyak
sekali pohon-pohon tempat makhluk halus tinggal. Agus mengayuh sepedanya makin
cepat. Dan semakin cepat ketika ia melihat sesosok makhluk hitam, besar, dan
berbulu yang sering disebut genderuwo oleh warga setempat. Namun tiba-tiba Agus
dikejutkan dengan sesosok wanita berambut hitam pekat berbaju putih sedang
berdiri di tengah jalan, membelakangi Agus. Terpaksa Agus mengerem sepedanya
supaya tidak menabrak wanita itu. “Hei mbak, jangan berdiri di tengah jalan!
Nanti ketabrak lho!” Teriak Agus kesal. Wanita itu hanya terkekeh-kekeh,
“hihihihi”. Wanita berambut panjang itu seketika menoleh kearah Agus. “Astaga!”
Teriak Agus. Mata wanita itu putih pucat, mulutnya menganga hingga menyentuh
kuping, dan hidungnya mengeluarkan cairan merah kehitaman. Sontak Agus membaca
Ayat Kursi lagi. Semakin keras karena rasa takut menyelimutinya. Ia juga
memejamkan mata, sambil membayangkan wajah Ibunya, ia melantunkan ayat Kursi
keras-keras. Lalu ketika membuka mata, Agus melihat sesosok makhluk tembus
pandang yang mirip ibunya mendekati hantu wanita itu. Mendekat dan mendekat.
Hingga keduanya hilang tak berbekas. “Ibu? Apa tadi itu Ibu?” Kata Agus
terkaget kaget. Dengan panik Agus menoleh kanan dan kiri berharap menemukan
jejak sang Ibu. Namun apa daya, jejak itu telah hilang tak berbekas. "Ibu,
Mengapa Kau menghilang dengan cepat?" isak Agus, tak terasa air matanya
mengalir lembut di pipi. Menandakan bahwa ia sangat merindukan sang Ibu.
"Aku tidak boleh berpikir negatif! sekarang aku harus melanjutkan
perjalanan ini. Dan mencari kejelasan ke Pakdhe Tono!" tekad Agus dalam
hati. Seketika itu juga Agus mengayuh sepeda kecilnya dengan lugas.
Perjalanan
menuju Kampung Napak Tilas akan segera usai. Setidaknya 10 menit lagi Agus akan
disambut oleh megahnya masjid tua bernama Saka Tunggal. Agus mengayuh sepedanya
melewati jalan-jalan yang masih berupa alas, banyak pohon-pohon angker yang
tumbuh di sekitarnya. Semenjak tadi, Agus sudah digoda berbagai macam Makhluk
Halus, tapi ia tetap tegar dan pantang menyerah. "Tinggal sedikit
lagi!" Teriak Agus dalam hati karena tak ingin menyerah ditengah jalan.
Namun ketika kubah masjid Saka Tunggal mulai terlihat, pundak Agus terasa berat
sekali. "Mungkin karena aku sudah terlalu pegal!" pikirnya. Tetapi
rasa berat itu sangat tidak wajar. Seperti ada yang menaiki pundaknya. Walau
napasnya sudah tak teratur lagi, tapi Agus tidak terlalu memikirkannya dan
mengayuh semakin cepat, karena masjid Saka Tunggal sudah menampakkan dirinya.
Namun celakanya, Agus sudah terlalu lelah untuk mengayuh. Perjalanan jauh yang
ia tempuh sudah cukup berat baginya. Ditambah goda'an makhluk-makhluk nakal
yang menyeruak bak angin jahat. Walau batin Agus memacu raganya agar kembali
bekerja, tetapi percuma saja. Pandangan Agus mulai kasar, memudar, dan nanar.
Kayuhannya semakin pelan. Pandangannya sudah tak jelas lagi, kakinya tidak mau
bergerak, raganya sudah hampir mati. Seketika itu juga Agus ambruk dari
sepedanya. Darah dari pelipis mata mengucur karena terbentur kerikil-kerikil
kecil. "IBU! AKU SEKARAT IBU!" Batinnya lirih. Air matanya mengalir
lagi dan semakin deras ketika menerima kenyataan pahit ini, dia kelelahan.
Sebelum pandangannya memudar, ia mendengar suara langkah kaki mendekat ke
arahnya. Namun tiba-tiba semuanya gelap, bagai terhisap kedalam bayang-bayang
sang hitam.
"Tidak!"
Agus terbangun dari pingsannya. Badannya masih sulit untuk digerakkan karena lelah.
Ia melihat sang rembulan menyeruak diantara jendela. Ketika melihat sekeliling,
ia ternyata berada di sebuah kamar yang cukup luas. Lebih besar dari kamarnya.
Agus menoleh kanan dan kiri. Terlihat ada sebuah kain bertuliskan arab dipaku
disela-sela dinding. Setelah ia menamatkan tulisan arab itu, ternyata itu
adalah Ayat Al Kursi. Tiba-tiba ada suara langkah kaki yang mendekat. Agus
terkejut. Seketika itu pula pintu kamar terbuka pelan. Terlihat sesosok pria
paruh baya. Dengan perawakan rapi, memakai sarung dan peci, dan berbaju putih
bersih. "Sampeyan sudah sadar nak?" Tanya pria paruh baya itu.
"Inggih pak, terima kasih sudah menyelamatkan saya, maaf ini dimana
ya?" Tanya Agus sopan. "Maaf saya belum memperkenalkan diri, nama
saya Amir. sekarang sampeyan sedang berada di kamar saya, di Masjid Saka
Tunggal, saya pengurus masjid ini." ujarnya. "Ohh jadi bapak Amir
yang menyelamatkan saya ketika pingsan di pinggir jalan ya pak? Maturnuwun
sanget nggih pak (terima kasih banyak ya pak) " Kata Agus sembari memijit-mijit
sendiri pundaknya yang masih pegal. "Tidak apa-apa kok nak. Saya kebetulan
sedang mencari tanaman waktu itu, dan mendengar ada suara ibu-ibu minta tolong,
namun ketika saya menuju sumber suara, saya melihat sampeyan tergeletak lemas.
Jadi saya bawa sampeyan kesini. Tenang saja nak, jin yang menaiki pundakmu
sudah saya usir" Jelas pria paruh baya itu. "Haah, suara Ibu-ibu
minta tolong?" batin Agus heran. Hati Agus pun mulai resah. "Sampeyan
belum sholat Isya' ya nak? Monggo sholat dulu, tapi sebelumnya minum ramuan ini
ya nak, untuk menghilangkan pegal" ujar pak Amir. "inggih pak,
Maturnuwun (iya pak, terima kasih)" kata Agus sopan. Setelah meminum
ramuan itu, badan Agus terasa ringan, lelah dibadannya sudah berkurang. Agus
langsung menuju ruang tengah Masjid Saka Tunggal. Ukiran-ukiran huruf arab
menghiasi interior masjid. Ditambah pilar-pilar besar yang menyangga atap
masjid itu, membuat siapapun yang mengunjungi masjid Saka Tunggal akan berdecak
kagum. Agus lalu menuntaskan kewajibannya yang tertunda. Setelah selesai
menyelesaikan Sholat Isya', Agus menceritakan semuanya kepada Pak Amir.
"Begitu ya cah, tapi bahaya lho kalau melakukan perjalanan di malam hari,
apalagi sampeyan masih kecil" Nasehat bapak berjenggot itu. "inggih saya
mengerti pak, tapi apa boleh buat. Saya sangat kehilangan Ibu saya pak"
Ujar Agus lirih. "Ya sudah, sekarang kamu istirahat di kamar saya saja,
besok pagi-pagi baru menyelesaikan perjalanan kerumah pakdhe kamu" Kata
pak Amir. "Iya pak, terima kasih banyak" Kata Agus, lalu ia berjalan
menuju kamar tidur. Setelah merebahkan tubuh kecilnya, Agus lalu mencoba
memejamkan mata. Berharap bisa memimpikan Ibunya. Gelap dan semakin gelap. Di
mimpinya ia melihat Ibunya tersenyum indah, indah sekali. Seakan-akan
mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Kemudian Agus terlelap dalam mimpi
indah itu.
Sang
fajar menyeruak disela-sela awan cerah. Bayangan Masjid megah dan dedaunan
menjadi pelengkap keindahan kala itu. Dibalut dengan pekikan ayam dan warna
khas mentari. Agus terbangun oleh suara Bapak Amir yang menyuruhnya untuk
mengambil Air Wudhu, subuh akan tiba. Setelah menyelesaikan Sholat Shubuh
berjama'ah, Agus lalu mengemas barangnya dan bersiap-siap untuk melanjutkan
ekspedisinya. Sebelum berangkat ia disuguhi sebungkus nasi hangat dan teh panas
oleh Pak Amir. Dengan rasa syukur sedalam-dalamnya ia melahap dengan nikmat
nasi bungkus itu. "Ternyata masih banyak orang-orang baik disekitarku ya
Allah" ucap Agus penuh syukur sembari melahap semuanya. Setelah nasi itu
habis tak bersisa, dan teh itu raib ia teguk, ia lalu pamit kepada Pak Amir dan
mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya. "Hati-hati di jalan ya
nak" ucap pak Amir lembut. "Inggih pak, maturnuwun sanget nggih, kula
pamit, Assalamualaikum (iya pak, terima kasih banyak ya, saya pamit dulu,
Assalamualaikum)" Ujar Agus sopan sembari menyiapkan sepeda lusuhnya.
"Wa'alaikumussalam" Balas Pak Amir. Agus lalu menggenjot sepedanya.
Menjauhi Masjid Saka Tunggal yang telah menjadi singgahannya kala itu.
Tampak
sebuah rumah tua yang sudah tidak bisa dibilang gubuk lagi. halaman rumahnya
terlihat cukup luas dan dihiasi dengan jemuran pakaian dan ikan asin. Rumah
Pakdhe Tono sudah terlihat. Agus yang senang karena perjalanannya akan berakhir
lalu mengayuh sepedanya semakin cepat, dan akhirnya ia tiba di halaman rumah
Pakdhe Tono. "Assalamualaikum Pakdhe!" Teriak Agus tak sabar.
"Wa'alaikumussalam" Balas seseorang yang sudah cukup berumur dari
balik pintu. Tak lama pintu depan pun terbuka. Terlihat sesosok wanita yang
sudah cukup tua, banyak kerutan di dahinya. Dan jilbab membalut dikepalanya,
Budhe Tono namanya. "Nak Agus! Pak ada nak Agus! Ayo masuk nak!"
Teriak Budhe Tono riang, ia lalu menyuruh Agus untuk masuk dan duduk di ruang
tamu. Budhe dan Pakdhe Tono adalah sepasang suami istri yang cukup berada,
Pakdhe Tono mempunyai kebun apel yang cukup luas, dan sebuah tambak yang berisi
ikan-ikan yang bervariasi. Pakdhe Tono bertugas merawat semua aset itu,
sedangkan Budhe Tono bertugas menjual hasil panen kepasar-pasar. Tapi sayang,
pasutri itu belum dikaruniai seorang anak. "Nak Agus! Pakdhe ndak nyangka
kamu bakal datang kesini, Aku sama budhemu rencananya mau kerumahmu nanti
siang, tapi kamu ternyata sudah datang, Alhamdulillah" Ujar Pakdhe Tono
yang muncul secara tiba-tiba dibalik pintu ruang tengah. Agus
terbingung-bingung dengan perkataan Pakdhenya, ia lalu menyerahkan surat Ibunya
kepada Pakdhe Tono. Setelah membaca surat itu, lalu pakdhe Tono menceritakan
semuanya. Ya, semuanya. "Sebenarnya, beberapa tahun yang lalu Ibumu terserang
penyakit berbahaya. Ditandai dengan batuk darah. Tapi karena mencukupi
kehidupan sehari-hari saja dan menyekolahkanmu sudah cukup berat baginya, maka
ia tidak menghiraukan penyakitnya. tapi akhir-akhir ini Ibumu sering muntah
darah. Dan pagi itu, tak lama setelah cah Agus ke sekolah, Ibumu ambruk dan
ditemukan oleh Bu Kuncoro, tetanggamu. Setelah beberapa menit dirawat dirumah
Pak Kuncoro, Ibumu sadar dan menulis surat untukmu dan ditaruh di meja. Lalu
meminta tolong Bu Kuncoro untuk mengantar Ibumu kerumah Pakdhe. Namun ketika
Ibumu tiba dirumah Pakdhe, semuanya sudah terlambat, Ibumu meninggal tadi
malam" Dengan isak tangis Pakdhe Tono menjelaskan semuanya. "Apa! Ibu
meninggal?!" Teriak Agus tak percaya. Matanya sudah berkaca-kaca. Memang ketika
perjalanan menuju rumah Pakdhe Tono banyak tanda-tanda bahwa Ibunya sudah
meninggalkan dunia ini. Ditambah surat itu yang menyiratkan kesedihan yang
mendalam. "Tapi! Kenapa hal itu harus terjadi ?!" Teriak Agus dalam
hati. Tak kuasa menahan air mata, Agus lalu menangis sejadi-jadinya. Teriak
sejadi-jadinya. Meronta sejadi-jadinya. Pakdhe Tono pun tak kuasa menahan air
mata, begitu pula Budhe Tono yang baru saja menyiapkan segelas teh hangat di
meja ruang tamu. "Sebenarnya, Bu Kuncoro menceritakan semuanya kepada
Pakdhe, karena Ibumu selalu menceritakan keluh kesahnya kepada Bu Kuncoro,
berharap dapat mengurangi penderita'an yang ada. Tapi apa daya, Allah mempunyai
rencana lain, Kun Fayakun. Dan Pakdhe jadi mengerti maksud dari surat yang
Ibumu tulis ini" ujar Pakdhe Tono sambil mengelap peluh di pipinya.
"YA ALLAH, JIKA INI MEMANG JALAN YANG TERBAIK BAGIMU, HAMBA IKHLAS YA
ALLAH" teriak Agus dalam hati. Setelah keadaan tenang. Agus lalu menemui
raga Sang Ibu yang tergeletak lemas tak bernyawa di rumah sakit kampung Napak
Tilas. Dan rencananya jenazah akan dimakamkan pada sore hari setelah dimandikan
dan disholati. Agus menjalani serangkaian perpisahan dirinya dengan sang Ibu
dengan tabah. Berharap Ibunya menemui Yang Maha Kuasa di Surga. Beberapa hari
setelah itu, Agus dirawat oleh Pakdhe dan Budhenya di kampung Napak Tilas.
"Ayaah,
tunggu Nabil dong Yah" teriak riang anak kecil mengikuti Ayahnya. Terlihat
sebuah keluarga sedang tamasya di keukenhof, taman bunga tulip di Belanda.
Keluarga kecil itu dengan riang bercakap-cakap dan bermain di sekitar taman
keukenhof. Ya, itu adalah Agus bersama istrinya Rini, dan Anak pertamanya
Nabila. Sudah 20 tahun berlalu sejak kejadian itu. Kini Agus telah mencapai
puncak kesuksesannya dan menetap di belanda untuk menempuh gelar Profesor.
Ditengah-tengah canda tawa keluarga kecil itu, Agus berkata dalam hati "Ibu,
terima kasih atas senyum yang engkau berikan. Terima kasih atas jerit payah
yang engkau berikan. Walau engkau menderita karena penyakit, tapi engkau selalu
memberikan senyum indah padaku. Terima kasih atas segalanya, ibu"
TAMAT
No comments:
Post a Comment