Friday, September 13, 2013

JEJAK SANG IBU [FIKSI]

“Bang Agus, tolongin saya bang, ini ada soal logaritma yang susah, jengkel saya ndak bisa ngerjain” Ujar seorang wanita berparas cantik, Rini namanya.

“Mana Rin? oalah, ini soalnya gampang kok. begini caranya…” Ujar Agus, lelaki tampan berkacamata.
Di salah satu sudut kelas di sebuah universitas negeri ternama di Jogjakarta, dengan logat “jowo”nya, Agus menjelaskan dan menjabarkan soal algoritma yang sulit. Dari dulu Rini sangat menyukai Agus, selain berparas tampan dan pintar, Agus juga sesosok pria yang taat beribadah. Namun Agus memiliki kisah yang tidak diketahui hampir semua orang.

Di salah satu gubuk di kampung wijen, hidup sebuah keluarga kecil. Keluarga itu adalah Agus dan Ibunya. Dulu Agus dan Bapak serta Ibunya hidup harmonis di gubuk tua itu. Namun, Sang Ayah meninggal ketika sedang mencari ikan di laut. Waktu itu Agus masih berumur 5 tahun. Sejak itu Agus dan Ibunya berjuang melawan lapar. Ibunya bekerja sebagai pedagang sayur di pasar wijen, sedangkan Agus mencari sayur liar di hutan wijen. Kegiatan itu terus dilakukan selama 6 tahun. Namun sejak subuh tadi, Agus yang berumur 11 tahun disuruh langsung sekolah tanpa mencari sayuran liar terlebih dahulu. Agus juga mendapat pelukan hangat dan Ubi jalar mentah untuk bekal di sekolah.

Sore itu hujan deras mendera kampung wijen. Di sebuah gubuk di kampung itu, Agus sedang bingung mencari ibunya. “Bu! Ibu! Panjenengan teng pundi Bu?” Ujar Agus yang baru saja datang dari sekolah berjarak 1 km dari gubuknya, setelah melepas baju dan tasnya yang basah karena hujan, Agus lalu mencari ke seluruh ruangan di gubuk itu. Walaupun ruangan di gubuk itu hanya ada dua, Agus tetap gigih mencari Ibunya. Tapi dengan dibalut rasa panik dan tersiksa karena lapar, Ibunya pun masih tak kunjung ketemu. Menyerahlah si anak malang itu. Dengan muka lusuh, bercelana merah dan badan yang agak basah karena kehujanan, ia pun mengingat ingat memori tadi pagi. Sembari mengingat kenangan tadi subuh ketika ibunya masih ada, ia dengan tidak sengaja melihat ke sudut meja, ia menemukan sepucuk surat. “Surat siapa ini?” Gumamnya. Dibukalah surat itu.
  
Dari Ibu.
 Untuk Agus anakku.
Maafkan Ibu karena Ibu tak pernah cerita apa-apa. Maafkan Ibu karena Ibu tak pernah mengeluh tentang apapun. Maafkan Ibu karena kamu harus menempuh hidup tanpa Ibu. Nak Agus, jangan kamu bersedih karena kehilangan Ibu. Karena Ibu akan tetap ada di sisimu.
Tolong berikan surat ini kepada pakdhe Tono, dia pasti akan mengurusmu. Ibu sekarang sudah tidak bisa menemanimu lagi. Jaga kesehatanmu ya nak, belajar dan teruslah belajar, dan jangan lupa beribadah. Selamat tinggal anakku.

Air mata mengalir bak hujan kala itu. Tak kuasa Agus membendung kesedihan di dalam hatinya. Ia lalu berpikir tak karuan, semakin tak karuan karena surat tersebut menyiratkan kesedihan. Seakan-akan surat itu adalah tanda perpisahan dirinya dengan Ibu. Sembari mengusap peluh di pipinya. Ia lalu bertekad untuk mengantarkan surat itu kepada Pakdhe Tono. Ia lalu bergegas memakai kaos olahraga yang baru dicuci, lalu memacu sepedanya yang ia parkir didepan gubuk. Hujan pun sirna. Agus melaju dengan cepat melewati semak belukar dan persimpangan. Namun ditengah perjalanan ia dikagetkan oleh suara yang memanggil namanya. “Cah Agus! Cah Agus!” Teriak sesosok laki-laki paruh baya berbalut sarung dan peci, pak Rukyah namanya. Pak Rukyah adalah salah satu penduduk kampung Wijen yang juga menjabat sebagai guru agama di SD Wijen tempat Agus belajar. Dan kabarnya, pak Rukyah mempunyai mata batin, bisa melihat bangsa jin. “Wonten nopo pak? (Ada apa pak?)” Tanya Agus sambil mengatur napasnya yang ngos-ngosan. “Sampeyan kenopo cah kok grusa grusu numpak sepeda? iki wes maghrib, ayo maghriban sek (kamu kok tergesa gesa gitu naik sepedanya? sudah maghrib lho, ayo sholat maghrib dulu)”  nasehat pak Rukyah. “Kulo bade sowan dateng dalemipun Pakdhe kula Pak, Inggih pak, maturnuwun (saya mau mengunjungi rumah pakde saya pak, iya pak terimakasih)” Ujar Agus sopan sambil mengeluarkan sarung di tas sekolahnya yang setiap hari ia bawa.

Bersama dengan pak Rukyah, Agus menuntun sepeda nya menuju masjid tua tidak jauh dari tempat mereka bertegur sapa, masjid Al-Anwar namanya. Masjid itu sangat tua sampai-sampai ada bagian tembok yang retak dimakan usia. Di pinggir masjid terdapat pohon bambu berjejer-jejer. Dan di halaman masjid tumbuh pohon mangga yang sangat besar dan terlihat tua. Sesampainya mereka di masjid tua namun besar itu, pak Rukyah lalu menuju shaf paling depan dan bersiap sholat sunnah kobliyah maghrib. Sedangkan Agus harus menaruh sepedanya dulu di tempat parkir. Namun ketika Agus merantai ban sepedanya. Betapa terkejutnya ia ketika melirik ke salah satu sudut masjid, di pohon mangga tua itu, terdapat sesosok wanita tua yang menatapnya tajam, rambutnya putih, badannya kecil membungkuk dan berbaju putih kusam, wajahnya tak terlihat karena gelap, tetapi tatapannya terasa hingga menusuk sukma. Bahkan seluruh rambut di tangan Agus pun ikut merinding. Sontak suara Muadzin ber iqomah terdengar lantang. Karena belum berwudhu dan tak kuasa menahan takut, ia pun lalu menuju tempat wudhu. Setelah mengambil air wudhu, Agus lalu bergabung bersama jama’ah untuk menjalankan Sholat maghrib.

Setelah menjalankan sholat maghrib berjamaah, Agus lalu pamit kepada pak Rukyah untuk melanjutkan perjalanan. “Pak Kula pamit rumiyen nggeh, Bade ngelanjutaken perjalanan dateng griyanipun Pakdhe Tono (Pak saya pamit dulu ya, mau melanjutkan perjalanan ke rumah nya pakde Tono)” Kata Agus dengan logat krama inggilnya. “Iyo cah, ati-ati yo, Pak Tono lek gak salah iku omahe nang kampung sebelah yo cah? Ati-ati yo, iki enek sego bungkus, panganen yo lek luwe, karo lek sampeyan nang dalan diganggu jin, wocoen Ayat Al Kursi sampek jin e ilang (Iya nak, hati-hati ya, Pak Tono itu kalau tidak salah rumahnya di kampung sebelah ya nak? hati-hati ya, ini ada nasi bungkus, makanlah ketika lapar, dan jika kamu diganggu jin, baca saja Ayat Al Kursi biar jinnya hilang)” Ujar pak Rukyah tegas. “Inggih pak, kulo ngertos, maturnuwun nggih pak (Iya pak saya mengerti, terima kasih ya Pak)” Kata Agus sembari melepas rantai di ban sepeda dan mengalungkannya di badan sepeda. Setelah benar-benar berpamitan. Agus lalu melanjutkan perjalannya menuju kampung sebelah tempat Pakdhenya tinggal, kampung Napak Tilas.

Jarak antara Kampung Wijen dan Kampung Napak Tilas cukup jauh, kurang lebih 60 menit lamanya jika ditempuh dengan bersepeda. Sedangkan Agus masih mencapai daerah tepian kampung Wijen. Kampung Wijen dan Napak Tilas dibatasi oleh dua masjid tua yang telah dibangun beratus tahun yang lalu. Kampung Wijen diwakili oleh Masjid Al-Anwar, sedangkan Kampung Napak Tilas diwakili oleh Masjid Saka Tunggal. Jalan menuju perbatasan kampung Napak Tilas cukup sepi dan sempit, hanya cukup untuk dilalui dua sepeda ontel, dan disekitar jalan dihias dengan berbagai macam pohon, ada pohon beringin, pohon bambu, sawo, hingga pohon pisang. Biasanya warga melakukan perjalanan antar kampung pada pagi dan siang hari, karena takut dikageti jika lewat malam hari.

Malam itu Agus mengayuh sepeda kecilnya dengan cepat, pandangannya lurus ke depan. Tak ingin lagi ia melirik kanan kiri, karena kejadian tadi ketika di masjid masih tertancap di pikirannya. Di campur dengan keberadaan Ibunya yang menghilang secara misterius. Hatinya pun gundah gulana. “Ya Tuhan, mengapa semua ini terjadi pada diriku?” keluhnya dalam hati. Sambil mengayuh sepeda, ia membayangkan wajah ibunya pagi sebelum menghilang. “Astaga, aku tidak boleh melamun!” gumamnya. Tiba-tiba ada sesuatu yang mengusik Agus. “Ngiiik, ngiiik, ngiiik”, terdengar suara sepeda tua yang mengikuti Agus dari belakang. Bunyi kayuhan sepeda tua itu menggema di sela-sela jalan yang sepi. ”Siapa gerangan itu?” Gumam Agus penasaran. Ketika Agus mencoba menoleh ke belakang, betapa terkejutnya ia ketika melihat sesosok makhluk yang sudah tak asing lagi baginya. Sesosok makhluk yang sudah menjadi legenda kampung wijen. Sesosok pria tanpa kepala. Hantu pria tak berkepala itu sudah menjadi legenda tak hanya di kampung wijen, tetapi di kampung-kampung sebelah juga. Ceritanya, dulu ada seorang petani yang mendapatkan untung lumayan banyak dari hasil panen di sawahnya. Namun ketika si petani itu pulang menaiki sepeda tuanya di malam hari, ada seorang perampok yang ingin menyikat uang si petani. Dengan berbekal celurit si perampok membacok kepala si petani, dan na’asnya kepala pria malang itu lepas dan menggelinding entah kemana. Darah pun semburat tak karuan, sepeda tua itupun dalam sekejap berlumuran darah. Karena si perampok saat itu membawa sepeda juga, maka yang diambil adalah uang hasil panen, sedangkan mayat dan sepedanya ditinggalkan begitu saja. Sehari setelah kejadian, seluruh warga menemukan jasad pria malang itu tanpa berhasil menemukan kepala dan sepeda tua miliknya. Dan konon juga si perampok mati bunuh diri karena selalu digentayangi hantu tak berkepala itu. Dan hingga saat ini si hantu pria itu setiap malam mencari kepalanya yang hilang dan berkeliling di sekitar perbatasan kampung Wijen dan kampung Napak Tilas.

Agus memperhatikan dengan seksama hantu itu. Terlihat daging busuk di sekitar lehernya, dengan memakai pakaian petani dan topi petani dikalungkan di badannya, ia pun mengayuh sepeda tuanya. Walau terlihat pelan, namun kecepatannya bisa menandingi si Agus yang mengayuh sepedanya dengan cepat karena ketakutan. “Astaga ada hantu tak berkepala! Waaaa!” Agus yang malang itu berteriak lalu menggenjot sepedanya secepat mungkin. Tanpa memperhatikan jalan yang tak rata, ia tetap mengayuh sepedanya. Walaupun Agus sudah mengayuh sepedanya secepat mungkin, tapi si hantu nakal itu masih bisa mengejar, bahkan sekarang berada di samping Agus. Bau tengik dan busuk menyeruak disela-sela hidung Agus. Dagingnya yang sudah membusuk mulai menjulur dari leher. Dihias dengan belatung gemuk yang bergelantung di sela-sela leher itu. Tak tahan dengan pemandangan menjijikan itu, Agus pun langsung komat-kamit membaca Ayat Al Kursi. Hantu tak berkepala itu pun tiba-tiba memelankan kayuhannya. Semakin pelan dan pelan. Agus yang sadar bahwa aji-aji itu berhasil, masih tetap membaca Ayat suci itu. Akhirnya hantu itu sekejap hilang tak berjejak. “Alhamdulillah Ya Allah” gumamnya lega.

Separuh perjalanan telah Agus tempuh. Banyak jin-jin yang mengganggu ekspedisi kecil agus, tetapi tidak separah hantu tak berkepala tadi. “Laparr, berhenti dulu ah. Makan dulu..” Ujar si Agus lirih. Ia memang sudah kelaparan dari tadi, dan berniat menepi sejenak untuk menyantap nasi bungkus dari pak Rukyah, tapi apa daya, ketakutannya karena diganggu jin-jin nakal memupuskan niatnya untuk menepi. Tapi untungnya jalan sempit penuh pepohonan telah ia lewati. Sekarang Agus sedang berada di daerah persawahan. Banyak suara hewan hewan kecil seperti jangkrik, kodok, dan belalang. Agus melirik kanan dan kiri, berharap menemukan tempat istirahat. Dia lalu melihat ada sebuah gubuk kecil. Gubuk itu sebenarnya difungsikan untuk tempat istirahat para petani yang sedang bercocok tanam. Tetapi terkadang menjadi singgahan anak-anak kecil untuk melepas lelah usai bermain petak umpet. Agus dengan cepat duduk di gubuk tua itu, sembari membuka bungkusan nasi, tak lupa ia membaca bismillah agar tak diganggu makhluk halus lagi. Lalu dengan lahap ia menyantap nasi dengan lauk telur dadar dan mie itu. Dengan wajah puas dan kenyang, ia lalu membuang bungkus nasi yang sudah kosong ke tempat sampah dekat situ. Setelah meneguk air minum di tasnya. Ia lalu bersiap-siap melanjutkan perjalanan. “Oh Ibu, engkau dimana Ibu?” pikir Agus resah. Sampai sekarangpun ia masih memikirkan Ibunya yang menghilang secara misterius.

Agus mengayuh sepedanya dengan pelan, takut perutnya sakit karena kekenyangan. Badannya yang sudah sangat pegal sangat menyiksa. Tapi ia bertekad melanjutkan perjalanan jauhnya itu, paling tidak hingga menjumpai masjid Saka Tunggal, tanda bahwa ia telah memasuki kampung Napak Tilas. Perjalanan kurang lebih tinggal 20 menit lagi. Dengan berbekal semangat ia mengayuh sepedanya cukup cepat. Namun sekali lagi ia harus memasuki daerah alas. Dimana terdapat banyak sekali pohon-pohon tempat makhluk halus tinggal. Agus mengayuh sepedanya makin cepat. Dan semakin cepat ketika ia melihat sesosok makhluk hitam, besar, dan berbulu yang sering disebut genderuwo oleh warga setempat. Namun tiba-tiba Agus dikejutkan dengan sesosok wanita berambut hitam pekat berbaju putih sedang berdiri di tengah jalan, membelakangi Agus. Terpaksa Agus mengerem sepedanya supaya tidak menabrak wanita itu. “Hei mbak, jangan berdiri di tengah jalan! Nanti ketabrak lho!” Teriak Agus kesal. Wanita itu hanya terkekeh-kekeh, “hihihihi”. Wanita berambut panjang itu seketika menoleh kearah Agus. “Astaga!” Teriak Agus. Mata wanita itu putih pucat, mulutnya menganga hingga menyentuh kuping, dan hidungnya mengeluarkan cairan merah kehitaman. Sontak Agus membaca Ayat Kursi lagi. Semakin keras karena rasa takut menyelimutinya. Ia juga memejamkan mata, sambil membayangkan wajah Ibunya, ia melantunkan ayat Kursi keras-keras. Lalu ketika membuka mata, Agus melihat sesosok makhluk tembus pandang yang mirip ibunya mendekati hantu wanita itu. Mendekat dan mendekat. Hingga keduanya hilang tak berbekas. “Ibu? Apa tadi itu Ibu?” Kata Agus terkaget kaget. Dengan panik Agus menoleh kanan dan kiri berharap menemukan jejak sang Ibu. Namun apa daya, jejak itu telah hilang tak berbekas. "Ibu, Mengapa Kau menghilang dengan cepat?" isak Agus, tak terasa air matanya mengalir lembut di pipi. Menandakan bahwa ia sangat merindukan sang Ibu. "Aku tidak boleh berpikir negatif! sekarang aku harus melanjutkan perjalanan ini. Dan mencari kejelasan ke Pakdhe Tono!" tekad Agus dalam hati. Seketika itu juga Agus mengayuh sepeda kecilnya dengan lugas.

Perjalanan menuju Kampung Napak Tilas akan segera usai. Setidaknya 10 menit lagi Agus akan disambut oleh megahnya masjid tua bernama Saka Tunggal. Agus mengayuh sepedanya melewati jalan-jalan yang masih berupa alas, banyak pohon-pohon angker yang tumbuh di sekitarnya. Semenjak tadi, Agus sudah digoda berbagai macam Makhluk Halus, tapi ia tetap tegar dan pantang menyerah. "Tinggal sedikit lagi!" Teriak Agus dalam hati karena tak ingin menyerah ditengah jalan. Namun ketika kubah masjid Saka Tunggal mulai terlihat, pundak Agus terasa berat sekali. "Mungkin karena aku sudah terlalu pegal!" pikirnya. Tetapi rasa berat itu sangat tidak wajar. Seperti ada yang menaiki pundaknya. Walau napasnya sudah tak teratur lagi, tapi Agus tidak terlalu memikirkannya dan mengayuh semakin cepat, karena masjid Saka Tunggal sudah menampakkan dirinya. Namun celakanya, Agus sudah terlalu lelah untuk mengayuh. Perjalanan jauh yang ia tempuh sudah cukup berat baginya. Ditambah goda'an makhluk-makhluk nakal yang menyeruak bak angin jahat. Walau batin Agus memacu raganya agar kembali bekerja, tetapi percuma saja. Pandangan Agus mulai kasar, memudar, dan nanar. Kayuhannya semakin pelan. Pandangannya sudah tak jelas lagi, kakinya tidak mau bergerak, raganya sudah hampir mati. Seketika itu juga Agus ambruk dari sepedanya. Darah dari pelipis mata mengucur karena terbentur kerikil-kerikil kecil. "IBU! AKU SEKARAT IBU!" Batinnya lirih. Air matanya mengalir lagi dan semakin deras ketika menerima kenyataan pahit ini, dia kelelahan. Sebelum pandangannya memudar, ia mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Namun tiba-tiba semuanya gelap, bagai terhisap kedalam bayang-bayang sang hitam.

"Tidak!" Agus terbangun dari pingsannya. Badannya masih sulit untuk digerakkan karena lelah. Ia melihat sang rembulan menyeruak diantara jendela. Ketika melihat sekeliling, ia ternyata berada di sebuah kamar yang cukup luas. Lebih besar dari kamarnya. Agus menoleh kanan dan kiri. Terlihat ada sebuah kain bertuliskan arab dipaku disela-sela dinding. Setelah ia menamatkan tulisan arab itu, ternyata itu adalah Ayat Al Kursi. Tiba-tiba ada suara langkah kaki yang mendekat. Agus terkejut. Seketika itu pula pintu kamar terbuka pelan. Terlihat sesosok pria paruh baya. Dengan perawakan rapi, memakai sarung dan peci, dan berbaju putih bersih. "Sampeyan sudah sadar nak?" Tanya pria paruh baya itu. "Inggih pak, terima kasih sudah menyelamatkan saya, maaf ini dimana ya?" Tanya Agus sopan. "Maaf saya belum memperkenalkan diri, nama saya Amir. sekarang sampeyan sedang berada di kamar saya, di Masjid Saka Tunggal, saya pengurus masjid ini." ujarnya. "Ohh jadi bapak Amir yang menyelamatkan saya ketika pingsan di pinggir jalan ya pak? Maturnuwun sanget nggih pak (terima kasih banyak ya pak) " Kata Agus sembari memijit-mijit sendiri pundaknya yang masih pegal. "Tidak apa-apa kok nak. Saya kebetulan sedang mencari tanaman waktu itu, dan mendengar ada suara ibu-ibu minta tolong, namun ketika saya menuju sumber suara, saya melihat sampeyan tergeletak lemas. Jadi saya bawa sampeyan kesini. Tenang saja nak, jin yang menaiki pundakmu sudah saya usir" Jelas pria paruh baya itu. "Haah, suara Ibu-ibu minta tolong?" batin Agus heran. Hati Agus pun mulai resah. "Sampeyan belum sholat Isya' ya nak? Monggo sholat dulu, tapi sebelumnya minum ramuan ini ya nak, untuk menghilangkan pegal" ujar pak Amir. "inggih pak, Maturnuwun (iya pak, terima kasih)" kata Agus sopan. Setelah meminum ramuan itu, badan Agus terasa ringan, lelah dibadannya sudah berkurang. Agus langsung menuju ruang tengah Masjid Saka Tunggal. Ukiran-ukiran huruf arab menghiasi interior masjid. Ditambah pilar-pilar besar yang menyangga atap masjid itu, membuat siapapun yang mengunjungi masjid Saka Tunggal akan berdecak kagum. Agus lalu menuntaskan kewajibannya yang tertunda. Setelah selesai menyelesaikan Sholat Isya', Agus menceritakan semuanya kepada Pak Amir. "Begitu ya cah, tapi bahaya lho kalau melakukan perjalanan di malam hari, apalagi sampeyan masih kecil" Nasehat bapak berjenggot itu. "inggih saya mengerti pak, tapi apa boleh buat. Saya sangat kehilangan Ibu saya pak" Ujar Agus lirih. "Ya sudah, sekarang kamu istirahat di kamar saya saja, besok pagi-pagi baru menyelesaikan perjalanan kerumah pakdhe kamu" Kata pak Amir. "Iya pak, terima kasih banyak" Kata Agus, lalu ia berjalan menuju kamar tidur. Setelah merebahkan tubuh kecilnya, Agus lalu mencoba memejamkan mata. Berharap bisa memimpikan Ibunya. Gelap dan semakin gelap. Di mimpinya ia melihat Ibunya tersenyum indah, indah sekali. Seakan-akan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Kemudian Agus terlelap dalam mimpi indah itu.

Sang fajar menyeruak disela-sela awan cerah. Bayangan Masjid megah dan dedaunan menjadi pelengkap keindahan kala itu. Dibalut dengan pekikan ayam dan warna khas mentari. Agus terbangun oleh suara Bapak Amir yang menyuruhnya untuk mengambil Air Wudhu, subuh akan tiba. Setelah menyelesaikan Sholat Shubuh berjama'ah, Agus lalu mengemas barangnya dan bersiap-siap untuk melanjutkan ekspedisinya. Sebelum berangkat ia disuguhi sebungkus nasi hangat dan teh panas oleh Pak Amir. Dengan rasa syukur sedalam-dalamnya ia melahap dengan nikmat nasi bungkus itu. "Ternyata masih banyak orang-orang baik disekitarku ya Allah" ucap Agus penuh syukur sembari melahap semuanya. Setelah nasi itu habis tak bersisa, dan teh itu raib ia teguk, ia lalu pamit kepada Pak Amir dan mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya. "Hati-hati di jalan ya nak" ucap pak Amir lembut. "Inggih pak, maturnuwun sanget nggih, kula pamit, Assalamualaikum (iya pak, terima kasih banyak ya, saya pamit dulu, Assalamualaikum)" Ujar Agus sopan sembari menyiapkan sepeda lusuhnya. "Wa'alaikumussalam" Balas Pak Amir. Agus lalu menggenjot sepedanya. Menjauhi Masjid Saka Tunggal yang telah menjadi singgahannya kala itu.

Tampak sebuah rumah tua yang sudah tidak bisa dibilang gubuk lagi. halaman rumahnya terlihat cukup luas dan dihiasi dengan jemuran pakaian dan ikan asin. Rumah Pakdhe Tono sudah terlihat. Agus yang senang karena perjalanannya akan berakhir lalu mengayuh sepedanya semakin cepat, dan akhirnya ia tiba di halaman rumah Pakdhe Tono. "Assalamualaikum Pakdhe!" Teriak Agus tak sabar. "Wa'alaikumussalam" Balas seseorang yang sudah cukup berumur dari balik pintu. Tak lama pintu depan pun terbuka. Terlihat sesosok wanita yang sudah cukup tua, banyak kerutan di dahinya. Dan jilbab membalut dikepalanya, Budhe Tono namanya. "Nak Agus! Pak ada nak Agus! Ayo masuk nak!" Teriak Budhe Tono riang, ia lalu menyuruh Agus untuk masuk dan duduk di ruang tamu. Budhe dan Pakdhe Tono adalah sepasang suami istri yang cukup berada, Pakdhe Tono mempunyai kebun apel yang cukup luas, dan sebuah tambak yang berisi ikan-ikan yang bervariasi. Pakdhe Tono bertugas merawat semua aset itu, sedangkan Budhe Tono bertugas menjual hasil panen kepasar-pasar. Tapi sayang, pasutri itu belum dikaruniai seorang anak. "Nak Agus! Pakdhe ndak nyangka kamu bakal datang kesini, Aku sama budhemu rencananya mau kerumahmu nanti siang, tapi kamu ternyata sudah datang, Alhamdulillah" Ujar Pakdhe Tono yang muncul secara tiba-tiba dibalik pintu ruang tengah. Agus terbingung-bingung dengan perkataan Pakdhenya, ia lalu menyerahkan surat Ibunya kepada Pakdhe Tono. Setelah membaca surat itu, lalu pakdhe Tono menceritakan semuanya. Ya, semuanya. "Sebenarnya, beberapa tahun yang lalu Ibumu terserang penyakit berbahaya. Ditandai dengan batuk darah. Tapi karena mencukupi kehidupan sehari-hari saja dan menyekolahkanmu sudah cukup berat baginya, maka ia tidak menghiraukan penyakitnya. tapi akhir-akhir ini Ibumu sering muntah darah. Dan pagi itu, tak lama setelah cah Agus ke sekolah, Ibumu ambruk dan ditemukan oleh Bu Kuncoro, tetanggamu. Setelah beberapa menit dirawat dirumah Pak Kuncoro, Ibumu sadar dan menulis surat untukmu dan ditaruh di meja. Lalu meminta tolong Bu Kuncoro untuk mengantar Ibumu kerumah Pakdhe. Namun ketika Ibumu tiba dirumah Pakdhe, semuanya sudah terlambat, Ibumu meninggal tadi malam" Dengan isak tangis Pakdhe Tono menjelaskan semuanya. "Apa! Ibu meninggal?!" Teriak Agus tak percaya. Matanya sudah berkaca-kaca. Memang ketika perjalanan menuju rumah Pakdhe Tono banyak tanda-tanda bahwa Ibunya sudah meninggalkan dunia ini. Ditambah surat itu yang menyiratkan kesedihan yang mendalam. "Tapi! Kenapa hal itu harus terjadi ?!" Teriak Agus dalam hati. Tak kuasa menahan air mata, Agus lalu menangis sejadi-jadinya. Teriak sejadi-jadinya. Meronta sejadi-jadinya. Pakdhe Tono pun tak kuasa menahan air mata, begitu pula Budhe Tono yang baru saja menyiapkan segelas teh hangat di meja ruang tamu. "Sebenarnya, Bu Kuncoro menceritakan semuanya kepada Pakdhe, karena Ibumu selalu menceritakan keluh kesahnya kepada Bu Kuncoro, berharap dapat mengurangi penderita'an yang ada. Tapi apa daya, Allah mempunyai rencana lain, Kun Fayakun. Dan Pakdhe jadi mengerti maksud dari surat yang Ibumu tulis ini" ujar Pakdhe Tono sambil mengelap peluh di pipinya. "YA ALLAH, JIKA INI MEMANG JALAN YANG TERBAIK BAGIMU, HAMBA IKHLAS YA ALLAH" teriak Agus dalam hati. Setelah keadaan tenang. Agus lalu menemui raga Sang Ibu yang tergeletak lemas tak bernyawa di rumah sakit kampung Napak Tilas. Dan rencananya jenazah akan dimakamkan pada sore hari setelah dimandikan dan disholati. Agus menjalani serangkaian perpisahan dirinya dengan sang Ibu dengan tabah. Berharap Ibunya menemui Yang Maha Kuasa di Surga. Beberapa hari setelah itu, Agus dirawat oleh Pakdhe dan Budhenya di kampung Napak Tilas.

"Ayaah, tunggu Nabil dong Yah" teriak riang anak kecil mengikuti Ayahnya. Terlihat sebuah keluarga sedang tamasya di keukenhof, taman bunga tulip di Belanda. Keluarga kecil itu dengan riang bercakap-cakap dan bermain di sekitar taman keukenhof. Ya, itu adalah Agus bersama istrinya Rini, dan Anak pertamanya Nabila. Sudah 20 tahun berlalu sejak kejadian itu. Kini Agus telah mencapai puncak kesuksesannya dan menetap di belanda untuk menempuh gelar Profesor. Ditengah-tengah canda tawa keluarga kecil itu, Agus berkata dalam hati "Ibu, terima kasih atas senyum yang engkau berikan. Terima kasih atas jerit payah yang engkau berikan. Walau engkau menderita karena penyakit, tapi engkau selalu memberikan senyum indah padaku. Terima kasih atas segalanya, ibu"


TAMAT

No comments:

Post a Comment