Saturday, September 14, 2013

TARING [PART 9 - TERJANG]

Mereka berdua melangkah sangat pelan memasuki jalanan gang gelap itu. Si kucing dan Donovan terlihat sangat waspada. Terlihat tikungan di depan mereka yang menampakkan sedikit darah hitam di lantai tikungan itu. Sontak mereka berdua langsung bergegas menuju tikungan sempit yang terhias darah.

Sesampainya mereka di tikungan itu, terlihat potongan-potongan tubuh vampire yang sudah tak bernyawa. Seluruh vampire itu memakai pakaian yang seragam, lengkap dengan topi bowlernya. Terlihat pula ceceran darah menghiasi lantai tikungan itu. Jalan yang menyempit pun semakin sempit ketika tubuh-tubuh vampire itu menghalangi jalan mereka.

“Sepertinya sudah ada yang mendahului kita ya?” ujar si kucing hitam itu. Donovan hanya terdiam mengangguk kecil. Ia pikir hanya seseorang saja yang bisa berbuat seperti itu. Yaitu Zen.

Tampak di ujung jalan terdapat sebuah pintu yang membuat gang itu menjadi buntu. Pintu itu berwarna hitam pekat dan gagangnya sama persis seperti gerbang yang ada di kuburan High End.

“Sepertinya pintu itu menghubungkan kita ke dunia vampire. Apakah kamu yakin mau ikut bersamaku? Kamu sebaiknya menunggu diluar saja” ucap Erick dengan mulut kucingnya yang mungil itu, masih dalam bentuk kucing.

“Aku akan memastikan sendiri kondisi sahabatku, aku akan tetap ikut bersamamu” jawab Donovan terlihat gundah dan tegang. Ketakutannya sudah memuncak. Ia tidak pernah menghadapi vampire sebelumnya. Tapi amarah dan kecemasan membuatnya berani menghadapi rasa takutnya itu. Sudah cukup ia kehilangan orangtuanya, ia tidak ingin kehilangan seseorang yang berarti baginya untuk yang kedua kali. “Ya sudah. Aku harap kamu tidak membebaniku” tambah Erick seraya mempercepat langkahnya. Donovan mengangguk yakin seraya mempercepat larinya.

Akhirnya mereka berdua tiba di depan sebuah pintu itu. Pintu yang mengeluarkan hawa penat. Sambil termegap-megap, Donovan mencoba mengeluarkan seluruh barang di koper besinya itu. Pikirnya, koper berat itu hanya akan menghambat perjalanannya. Untung dia membawa semacam tas pinggang. Maka ia taruhlah seluruh perlengkapan itu kedalam tasnya. Termasuk bom tangan dan pisau berbentuk salib. Sedangkan pistol yang telah terisi penuh itu tetap ia pegang erat.

Erick Jhonson lalu berubah wujud menjadi manusia. Ia lalu buka perlahan pintu itu, sembari memasang kuda-kuda siaga. Tak terlihat apapun. Semuanya serba gelap. Erick lalu mengeluarkan sejenis batu berwarna jingga dari dalam saku celananya. Ia sontak melemparkan batu itu kedalam pekatnya ruangan. Tiba-tiba kilatan cahaya keluar ketika batu itu menghantam lantai ruangan. Kilatan-kilatan yang membuat silau itu pun perlahan padam dan menerangi ruangan itu. Donovan hanya berdecak kagum Bagaimana bisa sebuah batu menerangi seisi ruangan? Pikirnya. Erick hanya terdiam dan mengamati seantero ruangan yang terlihat kotor itu. Terlihat sesosok pria berpakaian ala bangsawan british membelakangi mereka. Seakan-akan takut melihat sinar yang muncul dari batu sebesar genggaman tangan itu. Mereka berdua pun melangkah masuk kedalam ruangan itu.

Tiba-tiba lelaki berpakaian rapi itu berbalik seraya berlari menuju Erick dan Donovan. Mereka berdua yang terkaget-kaget pun langsung menghindari pria itu. Terlihat mulutnya yang seperti anjing kelaparan, tapi dilengkapi taring yang sangat besar. Dan juga matanya yang seluruhnya berwarna merah pekat. Donovan gemetaran menghadapinya. Erick langsung menyerang vampire itu dari belakang. Vampire yang berwajah buruk itu pun mencoba menghindar. Tapi tangan kanan vampire itu terkena hantaman keras Erick yang tangannya penuh dengan coretan bahasa latin. Sontak tangan kanan vampire itu meledak, daging-daging berhamburan. Vampire itu meronta-ronta kesakitan. Terlihat mulutnya menganga hebat. Darah hitam keluar dari lubang tubuhnya itu. Erick yang tak ingin membuang-buang waktu lagi pun menghantamkan telapak tangannya ke kepala vampire itu. Sontak kepala itu meledak tak bersisa. Donovan hanya terdiam terpaku melihat seluruh adegan penjagalan itu. Dalam sekejap, vampire itu menjadi seonggok daging yang tak bernyawa lagi. Sungguh luar biasa, pikirnya.

Mereka pun melanjutkan penelusuran mereka. Terlihat lorong-lorong ruangan itu yang bercabang-cabang. Erick langsung mengeluarkan semacam kompas kecil berwarna hijau. Jarum pada kompas itu bergerak gerak sendiri. “Ini alat pendeteksi vampire. Jarum pada kompas ini menunjuk kearah si raja vampire itu berada. Kamu jangan diam saja, gunakan senjatamu itu!” jelas Erick sambil menggerutu. Donovan yang sebenarnya ahli dalam bersenjata jadi seperti anak kecil yang memegang pistol air menghadapi raksasa bertubuh besar. Saat itu pula ia bertekad untuk ikut membasmi vampire-vampire itu. Matanya seakan-akan ikut berkobar karena terbakar api semangat.

“Kelihatannya para vampire itu sudah hampir disapu bersih oleh seseorang. Kau tahu siapa itu?” tanya Erick sembari berjalan pelan mengikuti petunjuk kompas kumal itu. “Ya sepertinya aku tahu. Orang itu bernama Zen Van Dracul” balas Donovan seraya mengikuti Erick dari belakang.

“Apa?!” tiba-tiba Erick menghentikan langkahnya. “Kau bilang Zen Van Dracul? Dia adalah sang pemimpin dhampire-dhampire dari 8 penjuru negara di muka bumi ini. Mana mungkin ia sudi berurusan dengan klan Raven yang baru saja bangkit ini?” tanya Erick terlihat heran. Donovan tampak lebih terheran-heran. Ia baru tahu jika Zen adalah pemimpin dari para dhampire.

“Jadi kamu sudah mengetahui keberadaan klan ini ya?” tanya Donovan dengan nada lirih. “Aku hanya menunggu dari pihak kepolisian untuk menyewaku. Ingat, aku adalah pemburu vampire. Bukan anggota kepolisian” pungkas Erick sembari menyusuri lorong-lorong gelap penuh nyamuk. Donovan hanya bisa menghela napas panjang.

Setelah mereka berdua menelusuri lorong-lorong ruangan gelap tanpa halangan sedikitpun. Mereka melihat dari kejauhan, sebuah pintu reyot yang berbahankan kayu. Tapi sebelum mereka dapat menjangkau pintu itu. Terlihat empat vampire yang memakai pakaian sama persis seperti vampire yang Erick bunuh. Mereka berwajah hampir mirip, walau potongan rambut mereka berbeda-beda.

Tiba-tiba ke empat pria bertaring itu berlari menuju Donovan dan Erick. Terlihat dua vampire menyerang Erick dan sisanya menyerang Donovan. Erick berusaha menghindari serangan mereka, begitu juga Donovan. Donovan yang lelah menghindar langsung menembakkan senjatanya tepat ke kepala salah satu vampire itu. Terlihat kepala vampire itu membeku dan mengeras. Seketika itu pula vampire itu roboh. Donovan tersenyum lega, puas berhasil membunuh satu vampire. Vampire yang tersisa itu pun seraya berlari garang kearah Donovan. Ia terlihat marah karena rekannya mati dibunuh Donovan. Donovan menghindari dan mulai terdesak. Ia merogoh tas ranselnya dan menemukan sebuah pisau berbentuk salib. Ia keluarkan pisau itu dan menunjukkan kepada vampire ganas itu. Terlihat vampire itu seperti menjauh dan sedikit menjauh. Sontak Donovan menembakkan lagi pistolnya tepat ditubuh vampire itu hingga mati.

Di lain sisi, Erick tanpa kesusahan sedikitpun menghindari segala serangan dari vampire-vampire kelaparan itu. Disaat terdesak, ia menjelma menjadi kucing dan menelusup diantara kaki-kaki vampire itu. Setelah berhasil melewati selangkangan para vampire itu, dengan sekejap Erick berubah menjadi manusia dan menghantamkan telapak tangannya berulang kali hingga vampire itu meledak berkeping-keping. Ia menyeringai puas setelah para vampire itu mati tak berbentuk.

“Kau berhasil mengatasinya juga ya, aku salut” puji Erick ketika melihat Donovan membunuh kedua vampire itu. Donovan pun tersenyum lega.

Kemudian mereka berdua berjalan menuju sebuah pintu reyot itu tanpa halangan. Tapi sebelum mereka sempat mendekat, pintu reyot itu seperti membuka secara perlahan. Seakan-akan ada seseorang yang membuka dari balik pintu itu. Pintu terbuka sangat pelan dan pelan. Membuat Donovan dan Erick terkejut dan bersiaga. Takut jika sesosok vampire mengerikan muncul dari balik pintu itu. Pintu itu pun semakin terbuka lebar. Tampak sesosok pria memakai baju berbahan kulit yang terlihat compang camping. Topi coboy menghiasi kepalanya. Maskernya masih terpasang di mulutnya. Namun terlihat darah hitam segar keluar dari perutnya. “Zen! Kaukah itu?!” Teriak Donovan terkaget-kaget. Erick hanya bisa melongo melihat kondisi Zen yang parah itu.


BERSAMBUNG

No comments:

Post a Comment