Saturday, September 14, 2013

TARING [PART 10 - TRAGIS]

**Beberapa jam sebelum Donovan dan Erick tiba di Whitechaple**

Zlpt! sesosok pria jangkung, Zen, tiba-tiba muncul di bibir gang Whitechaple. Dengan wajah penuh amarah ia berlari memasuki gang sepi itu. Vampire-vampire yang terlihat bergelantungan di atap-atap gang kelam itu pun langsung terbang menyerang Zen secara serempak. Vampire-vampire menyerang dari segala arah. Mereka menyerang dengan kuku-kuku jari tangan mereka yang sangat panjang berusaha menerkam Zen. Namun serangan-serangan itu tidak ada gunanya. Zen menghilang seketika, hanya menyisakan hempasan angin yang cukup kuat. Sangat kuat bahkan membuat tubuh vampire-vampire itu terpotong menjadi beberapa bagian. Teriakan kematian pun menggema indah bak lantunan melodi. Zen tiba-tiba muncul di depan potongan-potongan tubuh itu. Terlihat darah hitam pekat melekat di sisi runcing pedangnya.

Lalu Zen melangkah masuk menuju sisi dalam gang sempit itu. Terlihat segerombolan vampire kejam bertopi bowler terbang menuju Zen. Tampak dari kejauhan tiga vampire yang sudah tidak asing lagi bagi Zen. Mereka adalah Rey, Wend, dan Dimitri. Zen teringat kejadian mengenaskan di rumah sakit Saint Rose yang didalangi oleh ketiga jenderal itu. Dan penculikan Robeth yang di lakukan Rey.

Sebenarnya ketiga sosok Vampire itu sudah Zen kenal sejak dulu. Karena ketiganya terkenal sadis dalam membunuh. Wend yang berperawakan gendut dan terlihat lendir menjijikkan keluar dari taringnya, wajahnya sangat jelek. Dimitri bertubuh kerdil dan telinganya sangat panjang melebihi kedua jenderal lainnya. Kecepatannya setara dengan Zen. Dan gemar menyantap jantung segar manusia. Sedangkan Rey adalah jenderal utamanya. Tubuhnya tinggi kurus dan mukanya sangat dingin. Terlihat kuku-kuku jari yang sangat panjang melebihi vampire-vampire lainnya. Walau ia tidak terlalu cepat. Namun matanya sangat peka terhadap benda yang bergerak sangat cepat sekalipun. Dan kekuatannya hampir setara dengan pemimpin klan Raven, Daniel De Raven. 

Zen menebasi seluruh pasukan vampire yang menyerangnya dengan mudah. Ia tebaskan dari kejauhan sehingga angin tajam menebasi para vampire malang itu. Daging segar terpotong-potong dan berjatuhan. Terlihat pula vampire yang kabur ketakutan. Namun belum sempat vampire itu kabur, Dimitri dengan cepat menerkam vampire itu dari belakang. 

“Jangan ada yang berani kabur! Serang makhluk setengah jadi itu! Atau aku bunuh kalian semua!” perintah Dimitri seraya memelototi seluruh pasukan vampire yang ketakutan itu. Dengan terpaksa pasukan-pasukan itu mengeroyok Zen yang mulai sedikit lelah itu.

Dengan menggunakan teknik yang sama, ia menghilang dan menyisakan angin kejam yang memotongi para vampire itu. Teriakan teriakan kematian kembali terdengar nyaring. Zen langsung berlari menuju Dimitri yang sedari tadi berdiri di belakang pasukan vampire itu. Sedangkan Rey dan Wend sudah menghilang sedari tadi.

Zen berusaha menebas Dimitri, namun ia menghilang dalam sekejap. Seketika itu terlihat hujanan benda runcing tepat diatas Zen. Sial! umpat Zen ketika menyadari serangan benda runcing yang terlihat seperti potongan kuku itu. Ia pun seraya menghindar ke belakang. 

"Kekekekekek!" pekikan Dimitri sembari terbang menggunakan sepasang sayapnya tepat diatas Zen. Sekali lagi Dimitri menghujani Zen dengan potongan kuku runcing. 

"Arggh!" rintihan kesakitan Zen ketika benda runcing itu menyayati tubuh Zen. Walau Zen mencoba menghindarinya, ia tetap terkena sayatan-sayatan benda itu. Terlihat goresan-goresan luka yang tak sedikit menghiasi tubuh Zen. 

"Sial! Awas kau makhluk kerdil!" gumam Zen penuh amarah. Ia lalu menghilang secepat kilat. Dimitri pun seraya menghilang mengikuti Zen. Terjadi kilatan benturan benda tajam di udara yang terlihat seperti percikan petir. Hal itu terjadi cukup lama walau Dimitri dan Zen tidak terlihat secara kasat mata. Disaksikan oleh mayat-mayat vampire yang mulai dikerubuti belatung dan makhluk menjijikkan lainnya. 

"Arrrgghh!" terdengar teriakan dari udara, namun masih tak nampak wujud salah satu dari mereka. Tiba-tiba sebuah benda bulat terlontar dari udara dan jatuh terpental ke tanah. Disusul juga oleh sebuah tubuh kerdil tak berkepala jatuh dari udara. Zen pun tiba-tiba muncul dengan wajah menyeringai puas. Dimitri mati dengan kepala terpotong dari tubuhnya. Zen seraya melanjutkan perjalanannya walau goresan-goresan senjata Dimitri sedikit mengganggu konsentrasinya.

Setelah Zen melewati pintu bergagangkan kepala persis seperti yang ada di kuburan High Gate dan memasuki ruangan didalam gang itu. Ia pun menyisiri dan membasmi vampire-vampire dengan mudah. Ia tebasi hingga ia berhasil menyapu bersih seluruh vampire di setiap sudut ruangan itu. Hingga akhirnya ia menjumpai sebuah pintu reyot yang terlihat mengerikan. 

Ia tarik pelan gagang pintu itu. Seketika itu pula sebuah bayangan hitam menyeretnya masuk kedalam ruangan dibalik pintu itu. 

"Tidak lepaskan aku!" ronta Zen terkejut. Bayangan itu menyeretnya dengan paksa. Zen memberontak tetapi bayangan itu tidak bisa dilepaskan. Hingga akhirnya ia terhenti di sebuah ruangan penuh sarang laba-laba dan ruangan itu sangat kumuh. Mata Zen yang sudah terbiasa dengan kegelapan itu melihat mayat-mayat manusia tergeletak tak bernyawa. 

Tampak dua pria dan seorang wanita. Wanita itu berwajah sayu, matanya merah kehitaman terlihat kelam. Tubuhnya kecil kurus, terlihat bayangan yang menyeret Zen masuk kedalam tubuh wanita itu.

"Francisia!" gumam Zen terlihat kaget. Ia menyadari kekuatan unik Francisia yang bisa mengendalikan bayangan.

Sontak Rey dan Wend menyerang Zen secara serempak. Zen yang mengandalkan kecepatannya seraya menghilang berusaha mendekati Francisia. Sontak Zen tak bisa bergerak karena bayangan itu kembali menahannya. Rey pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia menikam Zen dari belakang. "Argh!!" teriakan kesakitan Zen menggema hingga ke sudut ruangan itu.

Terpaksa Zen mengeluarkan senjata rahasianya. Sebuah permata hitam pekat keluar dari lubang maskernya. Permata itu terjatuh dan mengeluarkan cahaya merah yang menusuk mata. Seketika itu juga Zen terbebas dari ikatan bayangan itu dan menghilang.

***

"Zen! Kaukah itu?!" Teriak Donovan terkaget-kaget. Erick hanya bisa melongo melihat kondisi Zen yang terlihat parah.

Donovan dan Erick seraya berlari kearah Zen bermaksud menopangnya. Tetapi Zen langsung jatuh tersungkur di lantai. Napasnya tak teratur dan terengah-engah. Donovan dan Erick yang tiba di samping Zen yang telah terjatuh itu pun berusaha menutupi luka Zen. Erick mengambil suatu kain berwarna merah cerah dari kantong celananya. Lalu ia tempelkan ke luka Zen yang menganga hebat. Darah-darah berceceran deras. Kain itu seraya terserap kedalam luka itu dan menutupinya. Zen terlihat sangat tersiksa menahan perih itu. Otaknya seakan-akan membeku menahan sakit yang menggema-gema itu. Dengan perlahan, Zen berusaha menggerakkan tangannya untuk membuka masker di wajahnya. Terlihat hidungnya tak memiliki daun hidung bak tengkorak. Bibirnya berwarna merah legam dan terlihat bercak-bercak di sekitar bibirnya. Bibirnya terlihat bergerak- gerak, seakan-akan ingin berkata sesuatu.

"Robeth sudah..." belum sempat ia menyelesaikan bisikannya tiba-tiba tubuhnya menggeliat kesakitan. Badannya kejang-kejang, Kain yang tertempel di badannya terlihat lagi, ia sekarat.

"Tampaknya ada racun di lukanya." ucap Erick pilu. Tiba-tiba tubuh Zen menjadi kaku dan dingin. Jantung nya tak berdetak. "Tidak! Zen!" teriak Donovan lirih. Erick membisu.

BERSAMBUNG

No comments:

Post a Comment