**Beberapa jam sebelum Donovan dan Erick tiba
di Whitechaple**
Zlpt! sesosok pria jangkung, Zen, tiba-tiba
muncul di bibir gang Whitechaple. Dengan wajah penuh amarah ia berlari memasuki
gang sepi itu. Vampire-vampire yang terlihat bergelantungan di atap-atap gang kelam itu pun langsung terbang menyerang
Zen secara serempak. Vampire-vampire menyerang dari segala arah. Mereka
menyerang dengan kuku-kuku jari tangan mereka yang sangat panjang berusaha
menerkam Zen. Namun serangan-serangan itu tidak ada gunanya. Zen menghilang
seketika, hanya menyisakan hempasan angin yang cukup kuat. Sangat kuat bahkan
membuat tubuh vampire-vampire itu terpotong menjadi beberapa bagian. Teriakan
kematian pun menggema indah bak lantunan melodi. Zen tiba-tiba muncul di depan
potongan-potongan tubuh itu. Terlihat darah hitam pekat melekat di sisi runcing
pedangnya.
Lalu Zen melangkah
masuk menuju sisi dalam gang sempit itu. Terlihat segerombolan vampire kejam
bertopi bowler terbang menuju Zen. Tampak dari kejauhan tiga vampire yang sudah
tidak asing lagi bagi Zen. Mereka adalah Rey, Wend, dan Dimitri. Zen teringat
kejadian mengenaskan di rumah sakit Saint Rose yang didalangi oleh ketiga
jenderal itu. Dan
penculikan Robeth yang di lakukan Rey.
Sebenarnya ketiga
sosok Vampire itu sudah Zen kenal sejak dulu. Karena ketiganya terkenal sadis
dalam membunuh. Wend yang berperawakan gendut dan terlihat lendir menjijikkan
keluar dari taringnya, wajahnya sangat jelek. Dimitri bertubuh kerdil dan
telinganya sangat panjang melebihi kedua jenderal lainnya. Kecepatannya setara
dengan Zen. Dan gemar menyantap jantung segar manusia. Sedangkan Rey adalah
jenderal utamanya. Tubuhnya tinggi kurus dan mukanya sangat dingin. Terlihat
kuku-kuku jari yang sangat panjang melebihi vampire-vampire lainnya. Walau ia
tidak terlalu cepat. Namun matanya sangat peka terhadap benda yang bergerak
sangat cepat sekalipun. Dan kekuatannya hampir setara dengan pemimpin klan
Raven, Daniel De Raven.
Zen menebasi
seluruh pasukan vampire yang menyerangnya dengan mudah. Ia tebaskan dari
kejauhan sehingga angin tajam menebasi para vampire malang itu. Daging segar
terpotong-potong dan berjatuhan. Terlihat pula vampire yang kabur ketakutan.
Namun belum sempat vampire itu kabur, Dimitri dengan cepat menerkam vampire itu
dari belakang.
“Jangan ada yang
berani kabur! Serang makhluk setengah jadi itu! Atau aku bunuh kalian semua!”
perintah Dimitri seraya memelototi seluruh pasukan vampire yang ketakutan itu.
Dengan terpaksa pasukan-pasukan itu mengeroyok Zen yang mulai sedikit lelah
itu.
Dengan menggunakan
teknik yang sama, ia menghilang dan menyisakan angin kejam yang memotongi para
vampire itu. Teriakan teriakan kematian kembali terdengar nyaring. Zen langsung
berlari menuju Dimitri yang sedari tadi berdiri di belakang pasukan vampire
itu. Sedangkan Rey dan Wend sudah menghilang sedari tadi.
Zen berusaha menebas Dimitri, namun ia menghilang dalam sekejap. Seketika itu terlihat hujanan benda runcing tepat diatas Zen. Sial! umpat Zen ketika menyadari serangan benda runcing yang terlihat seperti potongan kuku itu. Ia pun seraya menghindar ke belakang.
"Kekekekekek!"
pekikan Dimitri sembari terbang menggunakan sepasang sayapnya tepat diatas Zen.
Sekali lagi Dimitri menghujani Zen dengan potongan kuku runcing.
"Arggh!" rintihan
kesakitan Zen ketika benda runcing itu menyayati tubuh Zen. Walau Zen mencoba
menghindarinya, ia tetap terkena sayatan-sayatan benda itu. Terlihat
goresan-goresan luka yang tak sedikit menghiasi tubuh Zen.
"Sial! Awas
kau makhluk kerdil!" gumam Zen penuh amarah. Ia lalu menghilang secepat
kilat. Dimitri pun seraya menghilang mengikuti Zen. Terjadi kilatan benturan
benda tajam di udara yang terlihat seperti percikan petir. Hal itu terjadi
cukup lama walau Dimitri dan Zen tidak terlihat secara kasat mata. Disaksikan
oleh mayat-mayat vampire yang mulai dikerubuti belatung dan makhluk menjijikkan
lainnya.
"Arrrgghh!"
terdengar teriakan dari udara, namun masih tak nampak wujud salah satu dari
mereka. Tiba-tiba sebuah benda bulat terlontar dari udara dan jatuh terpental
ke tanah. Disusul juga oleh sebuah tubuh kerdil tak berkepala jatuh dari udara.
Zen pun tiba-tiba muncul dengan wajah menyeringai puas. Dimitri mati dengan
kepala terpotong dari tubuhnya. Zen seraya melanjutkan perjalanannya walau
goresan-goresan senjata Dimitri sedikit mengganggu konsentrasinya.
Setelah Zen
melewati pintu bergagangkan kepala persis seperti yang ada di kuburan High Gate
dan memasuki ruangan didalam gang itu. Ia pun menyisiri dan membasmi
vampire-vampire dengan mudah. Ia tebasi hingga ia berhasil menyapu bersih
seluruh vampire di setiap sudut ruangan itu. Hingga akhirnya ia menjumpai
sebuah pintu reyot yang terlihat mengerikan.
Ia tarik pelan gagang pintu itu. Seketika itu pula
sebuah bayangan hitam menyeretnya masuk kedalam ruangan dibalik pintu itu.
"Tidak
lepaskan aku!" ronta Zen terkejut. Bayangan itu menyeretnya dengan paksa.
Zen memberontak tetapi bayangan itu tidak bisa dilepaskan. Hingga akhirnya ia
terhenti di sebuah ruangan penuh sarang laba-laba dan ruangan itu sangat kumuh.
Mata Zen yang sudah terbiasa dengan kegelapan itu melihat mayat-mayat manusia
tergeletak tak bernyawa.
Tampak dua pria dan
seorang wanita. Wanita itu berwajah sayu, matanya merah kehitaman terlihat
kelam. Tubuhnya kecil kurus, terlihat bayangan yang menyeret Zen masuk kedalam
tubuh wanita itu.
"Francisia!"
gumam Zen terlihat kaget. Ia menyadari kekuatan unik Francisia yang bisa
mengendalikan bayangan.
Sontak Rey dan Wend
menyerang Zen secara serempak. Zen yang mengandalkan kecepatannya seraya menghilang
berusaha mendekati Francisia. Sontak Zen tak bisa bergerak karena bayangan itu
kembali menahannya. Rey pun tak menyia-nyiakan
kesempatan itu. Ia menikam Zen dari belakang. "Argh!!"
teriakan kesakitan Zen menggema hingga ke sudut ruangan itu.
Terpaksa Zen mengeluarkan senjata rahasianya.
Sebuah permata hitam pekat keluar dari lubang maskernya. Permata itu terjatuh
dan mengeluarkan cahaya merah yang menusuk mata. Seketika itu juga Zen terbebas
dari ikatan bayangan itu dan menghilang.
***
"Zen! Kaukah
itu?!" Teriak Donovan terkaget-kaget. Erick hanya bisa melongo melihat kondisi
Zen yang terlihat parah.
Donovan dan Erick
seraya berlari kearah Zen bermaksud menopangnya. Tetapi Zen langsung jatuh
tersungkur di lantai. Napasnya tak teratur dan terengah-engah. Donovan dan
Erick yang tiba di samping Zen yang telah terjatuh itu pun berusaha menutupi
luka Zen. Erick mengambil suatu kain berwarna merah cerah dari kantong
celananya. Lalu ia tempelkan ke luka Zen yang menganga hebat. Darah-darah
berceceran deras. Kain itu seraya terserap kedalam luka itu dan menutupinya.
Zen terlihat sangat tersiksa menahan perih itu. Otaknya seakan-akan membeku
menahan sakit yang menggema-gema itu. Dengan perlahan, Zen berusaha
menggerakkan tangannya untuk membuka masker di wajahnya. Terlihat hidungnya tak
memiliki daun hidung bak tengkorak. Bibirnya berwarna merah legam dan terlihat
bercak-bercak di sekitar bibirnya. Bibirnya terlihat bergerak- gerak,
seakan-akan ingin berkata sesuatu.
"Robeth
sudah..." belum sempat ia menyelesaikan bisikannya tiba-tiba tubuhnya
menggeliat kesakitan. Badannya kejang-kejang, Kain yang tertempel di badannya
terlihat lagi, ia sekarat.
"Tampaknya ada
racun di lukanya." ucap Erick pilu. Tiba-tiba tubuh Zen menjadi kaku dan
dingin. Jantung nya tak berdetak. "Tidak!
Zen!" teriak Donovan lirih. Erick membisu.
BERSAMBUNG
No comments:
Post a Comment