“Waktu, kau begitu kejam. Mengapa kau terus
berputar?”
Aku
letih. Dulu aku dengan mudahnya menghamburkan seluruh
uang hasil kerja kerasku, bak daun di pepohonan. Sekarang aku sudah muak menjamah
setiap tempat hiburan di seluruh belahan negara. Aku sudah letih menikmati kegilaan dunia ini. Hanya saja mengapa aku tersadar disaat ku akan menutup mata? Hei waktu, jawab aku.
Hari ini aku sungguh kesal. Aku sangat jengkel terhadap waktu yang terus berputar. Seakan-akan protesku tak pernah ia hiraukan. Aku hanya bisa bertahan hidup selama kurang dari satu bulan karena penyakit mengerikan ini. Pun aku masih tak berdaya meratapi waktu yang terus berputar.
Hari ini aku sungguh kesal. Aku sangat jengkel terhadap waktu yang terus berputar. Seakan-akan protesku tak pernah ia hiraukan. Aku hanya bisa bertahan hidup selama kurang dari satu bulan karena penyakit mengerikan ini. Pun aku masih tak berdaya meratapi waktu yang terus berputar.
Tak
terasa, sudah setengah bulan kujalani kehidupan membosankan di rumah putih ini.
Walau aku selalu memperhatikan waktu, tapi dia tetap tak menghiraukanku.
Seluruh rambutku rontok layaknya kotoran yang dibuang dengan mudahnya. Kulitku
membiru seperti habis dipukuli preman jalanan. Tubuhku mengurus bagai ikan asin
yang dikeringkan. Aku sekarat.
Waktu,
andai ku dapat menghentikan detikmu, akan kuhampiri keluargaku yang telah
hancur berantakan. Akan kudatangi kedua orangtua ku yang telah menderita karena
ku. Akan kudatangi sahabat dan teman karibku yang telah aku tipu selama ini. Aku sangat menyesali perbuatanku dulu. Walau berandai-andai pun, sudah
terlambat. Waktu, andai kau tahu hidupku tak panjang lagi.
Kurasakan
kejangan tulang-tulangku bergemeletuk keras. Kesakitan yang sungguh maha
dahsyat menghentak otakku hebat. Ku berteriak sangat kencang. Ku meronta-ronta
kesakitan. Aku sadar, hidupku meredup. Pandanganku mulai kabur. Napasku mulai
putus. Gemuruh orang berbaju putih mendekatiku. Namun percuma saja, aku tahu
ajal menanti ku di pojokan kamar. Ia menyeringai seram. Kulihat samar, wajah
kedua pasutri sepuh yang sudah tak asing lagi berdiri disampingku. Ku berusaha berucap ‘maaf', namun terlambat, aku ditarik paksa oleh
sesosok ajal yang sudah menantiku sembari tadi. Selamat tinggal waktu, selamat
tinggal dunia.
TAMAT
caesar deer
caesar deer
No comments:
Post a Comment