Thursday, September 12, 2013

PROTESKU [FIKSI]

“Waktu, kau begitu kejam. Mengapa kau terus berputar?”

Aku letih. Dulu aku dengan mudahnya menghamburkan seluruh uang hasil kerja kerasku, bak daun di pepohonan. Sekarang aku sudah muak menjamah setiap tempat hiburan di seluruh belahan negara. Aku sudah letih menikmati kegilaan dunia ini. Hanya saja mengapa aku tersadar disaat ku akan menutup mata? Hei waktu, jawab aku.

Hari ini aku sungguh kesal. Aku sangat jengkel terhadap waktu yang terus berputar. Seakan-akan protesku tak pernah ia hiraukan. Aku hanya bisa bertahan hidup selama kurang dari satu bulan karena penyakit mengerikan ini. Pun aku masih tak berdaya meratapi waktu yang terus berputar.

Tak terasa, sudah setengah bulan kujalani kehidupan membosankan di rumah putih ini. Walau aku selalu memperhatikan waktu, tapi dia tetap tak menghiraukanku. Seluruh rambutku rontok layaknya kotoran yang dibuang dengan mudahnya. Kulitku membiru seperti habis dipukuli preman jalanan. Tubuhku mengurus bagai ikan asin yang dikeringkan. Aku sekarat.

Waktu, andai ku dapat menghentikan detikmu, akan kuhampiri keluargaku yang telah hancur berantakan. Akan kudatangi kedua orangtua ku yang telah menderita karena ku. Akan kudatangi sahabat dan teman karibku yang telah aku tipu selama ini. Aku sangat menyesali perbuatanku dulu. Walau berandai-andai pun, sudah terlambat. Waktu, andai kau tahu hidupku tak panjang lagi.

Kurasakan kejangan tulang-tulangku bergemeletuk keras. Kesakitan yang sungguh maha dahsyat menghentak otakku hebat. Ku berteriak sangat kencang. Ku meronta-ronta kesakitan. Aku sadar, hidupku meredup. Pandanganku mulai kabur. Napasku mulai putus. Gemuruh orang berbaju putih mendekatiku. Namun percuma saja, aku tahu ajal menanti ku di pojokan kamar. Ia menyeringai seram. Kulihat samar, wajah kedua pasutri sepuh yang sudah tak asing lagi berdiri disampingku. Ku berusaha berucap ‘maaf', namun terlambat, aku ditarik paksa oleh sesosok ajal yang sudah menantiku sembari tadi. Selamat tinggal waktu, selamat tinggal dunia.

TAMAT

caesar deer

No comments:

Post a Comment