Dengan gesit Robeth menyetir mobil dinasnya.
Suara sirine meraung-raung menyeruak ditengah heningnya malam mencekam kota London.
Walau jalanan selalu dihiasi dengan gemerlap lampu yang menyinari disetiap
pinggirnya. Namun hanya sedikit warga yang terlihat berjalan maupun berkendara,
seakan-akan takut dimangsa serigala kelaparan.
“Kota ini sudah berubah ya. Sangat sepi” ucap Donovan
bermaksud memulai percakapan. “Kota ini sudah tidak seperti dulu lagi. Hatiku
miris sekali melihat semua ini. Sebagai kepala CID aku seperti tidak bisa
berbuat apa-apa. Karena lawan kita bukan manusia” jelas Robeth sembari menambah
kecepatan mobilnya.
“Jika lawan kita bukan manusia, bagaimana jika
kita menyewa seluruh dhampire dan pembunuh bayaran terkenal yang tersebar di
dunia. Mereka kita sewa untuk menetralisir gang Whitechapel” celetuk Donovan
ketika idenya terbesit di benaknya. Ia pikir manusia biasa pasti akan kesulitan
melawan manusia berdarah buas ini.
“Hmmm idemu bagus juga. Dan sepertinya sekarang
aku harus memerintahkan pasukan khusus CID supaya mengevakuasi rumah sakit
Saint Rose” ujar Robeth seraya mengambil handie-talkie yang tersedia di mobil
dinasnya. Setelah ia berhasil memerintahkan pasukan-pasukannya, ia lalu
menambah laju mobilnya. Donovan hanya terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu
yang besar.
Akhirnya mereka berdua tiba di halaman rumah
sakit Saint Rose. Terlihat rumah sakit besar itu gelap gulita. Tidak ada satu
cahaya pun menyinarinya selain cahaya bulan dan bintang. Angin malam yang
menusuk pun serasa mencekik tulang rusuk mereka.
“Sial, sepertinya kita terlambat” umpat Robeth
kesal. Amarahnya meluap-luap. Pisau kecilnya ia pegang erat seraya memasang
kuda-kuda siaga. Donovan hanya terdiam. Pisaunya yang lebih panjang juga mulai
ia tunjukkan. “Mereka telah menyerang rumah sakit ini” ucap Zen yang tiba-tiba
berada di belakang mereka. Membuat jantung kedua sahabat itu semakin berdegup
kencang. “Shit! kau mengagetkanku Zen!” umpat Robeth.
“Lebih baik kita masuk dulu. Memastikan keadaan
didalam” celetuk Donovan. Baiklah. Sebentar lagi pasukan-pasukanku akan tiba di
sini” jelas Robeth seraya berjalan pelan menuju rumah sakit tua itu. Donovan
dan Zen mengikutinya dari belakang.
Mereka pun tiba di lobby rumah sakit Saint
Rose. Dengan berbekal senter dan penerangan seadanya, Donovan dan Robeth
menyoroti seluruh ruangan lobby. Sedangkan Zen langsung masuk kedalam
kegelapan, seakan-akan hitam adalah temannya. Terlihat sebuah pemandangan yang sangat
mengenaskan. Tampak mayat-mayat manusia tergeletak di lantai. Tubuh mereka
terkoyak-koyak. Terlihat tubuh tanpa kepala. Terlihat pula usus-usus dan organ
segar berceceran di lantai lorong lantai satu itu. Darah segar berceceran di
setiap lantai.
Di sudut pintu utama laboratorium terlihat dua mayat
tanpa kepala yang sudah tidak asing lagi bagi Robeth. “Tidak! Rodriguez dan
Vincent! Mengapa ini semua terjadi pada kalian!” teriak histeris Robeth.
Wajahnya penuh penyesalan. Donovan hanya terdiam terpaku melihat seluruh potret
mengerikan itu.
“Apa itu?!” bentak Donovan lantang. Terlihat di
sudut atap lorong, sesosok makhluk menempel seperti kelelawar. Matanya merah
menyala. Rambutnya hitam pekat. Telinganya sangat lebar serta gigi taring yang
menonjol disela-sela bibirnya. Hidungnya pun terlihat seperti hidung kelelawar.
“Makhluk apa itu?! Donovan! Sebaiknya kamu
keluar dari rumah sakit ini. Maaf sudah melibatkanmu hingga sejauh ini!” getir
Robeth seraya memasang kuda-kuda bertahan dengan pisau perak sebagai
senjatanya.
“Aku tidak mungkin meninggalkanmu Rob. Aku juga
punya urusan dengan makhluk ini!” jawab Donovan yang juga memasang kuda-kuda. “Sial!
Ya sudah. Sekarang bantu aku membunuh makhluk itu! Jangan…” belum selesai
Robeth menyelesaikan kalimatnya, makhluk itu tiba-tiba terbang kearah mereka.
Mereka yang terkaget-kaget sontak menebas-nebas pisau mereka berupaya untuk
menyakiti makhluk itu. Padahal jarak antara mereka dan makhluk itu masih belum
begitu dekat.
Namun makhluk itu tiba-tiba berhenti mendekat.
Terlihat darah mulai keluar dari dadanya. Perlahan namun pasti, pedang
runcingnya Zen menusuk punggung makhluk itu dari belakang. “Arrrggghhh!”
terdengar erangan makhluk itu ketika pedang tajam menembus dari punggung ke
dadanya. Zen seperti keluar dari kegelapan. Menyeruak secara tiba-tiba dan
menusuk makhluk yang berupaya menyantap Donovan dan Robeth. Terlihat darah
berwarna merah kehitaman mengalir dari dada makhluk itu. Seketika itu juga
makhluk itu tewas tak bernyawa.
“Huft, aku kira hidupku akan berakhir disini.
Terimakasih Zen. Aku berhutang nyawa kepadamu” lirih Robeth seraya berjalan
menuju laboratorium. Donovan hanya tersenyum lega. Zen kembali masuk kedalam
gelapnya lorong, menghilang.
Didalam laboratorum. Tampak potret pemandangan
yang tak kalah mengerikan. Mayat-mayat tim forensik terkapar tak bernyawa
dengan luka tusukan dan sayatan. Ada juga yang tengahnya berlubang. Dan ada
juga yang tubuhnya terbelah menjadi dua. Darah pun seperti menggantikan cat
laboratorium yang aslinya berwaran coklat muda itu.
“Sial! Keadaan disini lebih parah!” gumam
Donovan kesal. Robeth yang terbelalak melihat kondisi laboratorium seraya
mencari dokumen hasil identifikasi bukti. Namun tetap tidak ditemukan.
“Hey Rob! Aku menemukan sesuatu disini!” teriak
Donovan yang terlihat membungkuk mengamati sesuatu di pojok laboratorium.
Robeth yang masih panik karena semua dokumen hilang lalu berjalan kearah
Donovan, berharap menemukan secercah harapan.
“Ada apa Don? Apa kau menemukan sesuatu?” tanya
Robeth sambil berlari kecil menuju Donovan berada. “Aku menemukan kertas ini di
balik ubin lantai yang sengaja diretakkan ini” ucap Donovan dengan mimik muka
serius. “Mana sini aku lihat” pinta Robeth seraya mengambil secarik kertas dari
tangan Donovan.
“Isi dari surat ini adalah, hasil identifikasi
bukti mengarah kepada Francisia. Siapa Francisia itu Rob?” ujar Donovan sembari
melihat kondisi sekitar. “Aku juga tidak tahu Don. Nanti akan aku cek di
database” jawab Robeth sambil menyimpan surat itu kedalam kantongnya.
“Aku tahu siapa Francisia itu” tiba-tiba
terdengar suara dibalik bayangan di sudut ruangan itu. Terlihat Zen keluar
diantara bayangan dinding laboratorium.
“Zen! kau mengagetkanku lagi. Benarkah kau tahu
siapa Francisia itu?” tanya Robeth yang jantungnya sedari tadi berdegup
kencang. Donovan hanya terdiam tanpa berbicara sepatah katapun.
BERSAMBUNG
No comments:
Post a Comment