Saturday, September 14, 2013

TARING [PART 5 - SADIS]

Dengan gesit Robeth menyetir mobil dinasnya. Suara sirine meraung-raung menyeruak ditengah heningnya malam mencekam kota London. Walau jalanan selalu dihiasi dengan gemerlap lampu yang menyinari disetiap pinggirnya. Namun hanya sedikit warga yang terlihat berjalan maupun berkendara, seakan-akan takut dimangsa serigala kelaparan.

“Kota ini sudah berubah ya. Sangat sepi” ucap Donovan bermaksud memulai percakapan. “Kota ini sudah tidak seperti dulu lagi. Hatiku miris sekali melihat semua ini. Sebagai kepala CID aku seperti tidak bisa berbuat apa-apa. Karena lawan kita bukan manusia” jelas Robeth sembari menambah kecepatan mobilnya.

“Jika lawan kita bukan manusia, bagaimana jika kita menyewa seluruh dhampire dan pembunuh bayaran terkenal yang tersebar di dunia. Mereka kita sewa untuk menetralisir gang Whitechapel” celetuk Donovan ketika idenya terbesit di benaknya. Ia pikir manusia biasa pasti akan kesulitan melawan manusia berdarah buas ini.

“Hmmm idemu bagus juga. Dan sepertinya sekarang aku harus memerintahkan pasukan khusus CID supaya mengevakuasi rumah sakit Saint Rose” ujar Robeth seraya mengambil handie-talkie yang tersedia di mobil dinasnya. Setelah ia berhasil memerintahkan pasukan-pasukannya, ia lalu menambah laju mobilnya. Donovan hanya terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu yang besar.

Akhirnya mereka berdua tiba di halaman rumah sakit Saint Rose. Terlihat rumah sakit besar itu gelap gulita. Tidak ada satu cahaya pun menyinarinya selain cahaya bulan dan bintang. Angin malam yang menusuk pun serasa mencekik tulang rusuk mereka.

“Sial, sepertinya kita terlambat” umpat Robeth kesal. Amarahnya meluap-luap. Pisau kecilnya ia pegang erat seraya memasang kuda-kuda siaga. Donovan hanya terdiam. Pisaunya yang lebih panjang juga mulai ia tunjukkan. “Mereka telah menyerang rumah sakit ini” ucap Zen yang tiba-tiba berada di belakang mereka. Membuat jantung kedua sahabat itu semakin berdegup kencang. “Shit! kau mengagetkanku Zen!” umpat Robeth.

“Lebih baik kita masuk dulu. Memastikan keadaan didalam” celetuk Donovan. Baiklah. Sebentar lagi pasukan-pasukanku akan tiba di sini” jelas Robeth seraya berjalan pelan menuju rumah sakit tua itu. Donovan dan Zen mengikutinya dari belakang.

Mereka pun tiba di lobby rumah sakit Saint Rose. Dengan berbekal senter dan penerangan seadanya, Donovan dan Robeth menyoroti seluruh ruangan lobby. Sedangkan Zen langsung masuk kedalam kegelapan, seakan-akan hitam adalah temannya. Terlihat sebuah pemandangan yang sangat mengenaskan. Tampak mayat-mayat manusia tergeletak di lantai. Tubuh mereka terkoyak-koyak. Terlihat tubuh tanpa kepala. Terlihat pula usus-usus dan organ segar berceceran di lantai lorong lantai satu itu. Darah segar berceceran di setiap lantai.

Di sudut pintu utama laboratorium terlihat dua mayat tanpa kepala yang sudah tidak asing lagi bagi Robeth. “Tidak! Rodriguez dan Vincent! Mengapa ini semua terjadi pada kalian!” teriak histeris Robeth. Wajahnya penuh penyesalan. Donovan hanya terdiam terpaku melihat seluruh potret mengerikan itu.

“Apa itu?!” bentak Donovan lantang. Terlihat di sudut atap lorong, sesosok makhluk menempel seperti kelelawar. Matanya merah menyala. Rambutnya hitam pekat. Telinganya sangat lebar serta gigi taring yang menonjol disela-sela bibirnya. Hidungnya pun terlihat seperti hidung kelelawar.

“Makhluk apa itu?! Donovan! Sebaiknya kamu keluar dari rumah sakit ini. Maaf sudah melibatkanmu hingga sejauh ini!” getir Robeth seraya memasang kuda-kuda bertahan dengan pisau perak sebagai senjatanya.

“Aku tidak mungkin meninggalkanmu Rob. Aku juga punya urusan dengan makhluk ini!” jawab Donovan yang juga memasang kuda-kuda. “Sial! Ya sudah. Sekarang bantu aku membunuh makhluk itu! Jangan…” belum selesai Robeth menyelesaikan kalimatnya, makhluk itu tiba-tiba terbang kearah mereka. Mereka yang terkaget-kaget sontak menebas-nebas pisau mereka berupaya untuk menyakiti makhluk itu. Padahal jarak antara mereka dan makhluk itu masih belum begitu dekat.

Namun makhluk itu tiba-tiba berhenti mendekat. Terlihat darah mulai keluar dari dadanya. Perlahan namun pasti, pedang runcingnya Zen menusuk punggung makhluk itu dari belakang. “Arrrggghhh!” terdengar erangan makhluk itu ketika pedang tajam menembus dari punggung ke dadanya. Zen seperti keluar dari kegelapan. Menyeruak secara tiba-tiba dan menusuk makhluk yang berupaya menyantap Donovan dan Robeth. Terlihat darah berwarna merah kehitaman mengalir dari dada makhluk itu. Seketika itu juga makhluk itu tewas tak bernyawa.

“Huft, aku kira hidupku akan berakhir disini. Terimakasih Zen. Aku berhutang nyawa kepadamu” lirih Robeth seraya berjalan menuju laboratorium. Donovan hanya tersenyum lega. Zen kembali masuk kedalam gelapnya lorong, menghilang.

Didalam laboratorum. Tampak potret pemandangan yang tak kalah mengerikan. Mayat-mayat tim forensik terkapar tak bernyawa dengan luka tusukan dan sayatan. Ada juga yang tengahnya berlubang. Dan ada juga yang tubuhnya terbelah menjadi dua. Darah pun seperti menggantikan cat laboratorium yang aslinya berwaran coklat muda itu.

“Sial! Keadaan disini lebih parah!” gumam Donovan kesal. Robeth yang terbelalak melihat kondisi laboratorium seraya mencari dokumen hasil identifikasi bukti. Namun tetap tidak ditemukan.

“Hey Rob! Aku menemukan sesuatu disini!” teriak Donovan yang terlihat membungkuk mengamati sesuatu di pojok laboratorium. Robeth yang masih panik karena semua dokumen hilang lalu berjalan kearah Donovan, berharap menemukan secercah harapan.

“Ada apa Don? Apa kau menemukan sesuatu?” tanya Robeth sambil berlari kecil menuju Donovan berada. “Aku menemukan kertas ini di balik ubin lantai yang sengaja diretakkan ini” ucap Donovan dengan mimik muka serius. “Mana sini aku lihat” pinta Robeth seraya mengambil secarik kertas dari tangan Donovan.

“Isi dari surat ini adalah, hasil identifikasi bukti mengarah kepada Francisia. Siapa Francisia itu Rob?” ujar Donovan sembari melihat kondisi sekitar. “Aku juga tidak tahu Don. Nanti akan aku cek di database” jawab Robeth sambil menyimpan surat itu kedalam kantongnya.

“Aku tahu siapa Francisia itu” tiba-tiba terdengar suara dibalik bayangan di sudut ruangan itu. Terlihat Zen keluar diantara bayangan dinding laboratorium.


“Zen! kau mengagetkanku lagi. Benarkah kau tahu siapa Francisia itu?” tanya Robeth yang jantungnya sedari tadi berdegup kencang. Donovan hanya terdiam tanpa berbicara sepatah katapun.

BERSAMBUNG

No comments:

Post a Comment