“Hiks. Hiks”
rintihan suara itu semakin terdengar pilu. Lewis pun gelisah, hatinya diliputi
rasa panik yang mencekam. “Liz, tenanglah. Mendekatlah padaku sekarang. Jangan
menangis lagi” ucap Lewis lirih dan pelan. Ia masih mencurigai bahwa pelaku
dari penculikan Nina masih ada didalam rumahnya. Lewis menyadari kalau handphone-nya
dilengkapi dengan senter, ia lalu mencoba menyalakannya. Ia arahkan cahaya
senter ke sumber suara.
“Apa?! Siapa
kamu?!” teriak Lewis histeris. Ia melihat sesosok wanita berbaju putih polos
membungkuk di lantai. Terlihat lingkaran hitam di sekitar matanya. Wajahnya
putih pucat, dihiasi dengan kerutan dimana-mana. Serta air mata darah terlihat
keluar di sela-sela bola matanya. Ia menatap tajam Lewis yang mengarahkan sinar
senter tepat ke wajah wanita mengerikan itu.
“Siapa kamu?!
Dimana istri ku?!” bentak Lewis kepada wanita aneh itu. Ia melihat gigi taring
tajam menonjol di sela-sela bibir wanita itu. Lewis langsung terkaget dan
panik. Ia menyenter seisi rumah, namun istrinya tidak kunjung terlihat. “Kau
bawa kemana istri ku?! Jawab?!” bentak Lewis geram. Ia bersiap-siap menyerang
wanita tidak normal itu dengan berbekal amarah dan tangan kosong. Ia tak bisa
berpikir panjang lagi setelah anak dan istrinya hilang.
Tiba tiba,
“Hwarrr!” wanita itu melompat menindih Lewis. Tenaga wanita itu sangat kuat
walau terlihat lemah. Lewis yang setiap hari berkecimpung di dunia olahraga
bahkan tidak sanggup melawan tekanan wanita itu. “Tidak! Lepaskan aku! Tolong!”
teriak Lewis tak berdaya. Ia berusaha memukul wajah wanita itu, tapi tangannya
ditahan dengan erat. Kakinya tertahan oleh kaki wanita itu. Cahaya bulan pun
menyoroti kejadian mengerikan itu. Menyeruak ke sela-sela jendela dan menyinari
wajah wanita iblis itu. Terlihat senyuman kejam menghiasi wajahnya. Matanya
berubah menjadi merah. Gigi taringnya semakin menonjol. Dan wajahnya terlihat
mengkilap.
Sontak wanita
itu menggigit leher Lewis dengan cepat. Lewis hanya berteriak sekeras-kerasnya,
berharap para tetangga mendengar rintihannya. Namun dalam sekejap, pandangannya
kabur dan buram. Suaranya perlahan menghilang ditelan kegelapan. Tubuhnya
bergetar hebat tanda kesakitan. Matanya yang hidup perlahan sirna. Suara
jantung yang awalnya berdegup kencang pun lenyap. Wanita itu tak melewatkan
setetespun darah di tubuh Lewis. Dengan buas ia gigit leher Lewis. Tiba-tiba
wajah wanita itu mencerah. Terlihat mukanya yang pucat menjadi segar. Kerutan
di wajahnya pun menghilang. Ia lalu berjalan diantara kegelapan dan menghilang.
Meninggalkan tubuh Lewis yang kering tak bernyawa.
Ternyata, polisi
yang sudah menerima telepon dari Lewis dan mendengar sambungannya terputus
segera mengabarkan kepada Rodriguez, wakil kepala CID. Rodriguez lalu
memerintahkan pasukannya untuk menyisiri daerah yang diduga pusat panggilan
itu. Tak lama setelah mereka berpatroli, mereka lalu menerima laporan dari
warga bahwa ada seseorang yang tewas di salah satu perumahan di daerah Whitechaple.
Para pasukan CID beserta Rodriguez pun langsung menuju lokasi pembunuhan itu.
Di waktu yang
sama, di rumah Robeth, terlihat Donovan dan Robeth saling bercakap-cakap.
“Maksudmu Don?” tanya Robeth lagi. Pernyataan Donovan memaksa Robeth memasang
muka penuh tanya. Tiba-tiba terdengar suara yang sudah tidak asing lagi.
‘tlilililililit-tlilililililit’ bunyi suara handphone Robeth membuyarkan
diskusi mereka. Terlihat nama partnernya, Rodriguez. “Sebentar ya Don, ada
telepon dari wakil kepala CID” ucap Robeth seraya berjalan menjauhi Donovan
yang terlihat sedang berpikir keras. “Okey angkat dulu saja Rob” balas Donovan
sembari menyantap pie hangat rasa nanas.
“Halo Rodriguez?
Ada apa?” Tanya Robeth setelah memencet tombol ‘terima’ di handphone-nya. “Halo
Pak Robeth. Telah terjadi pembunuhan lagi pak. Kali ini terjadi di perumahan
White Street di dekat gang Whitechaple. Dimohon bapak segera menuju tempat
kejadian perkara sekarang juga Pak” ujar Rodriguez lantang. Terdengar suara
huru-hara para pasukan khusus CID sedang memblokade lokasi pembunuhan. “Apa!
Ada pembunuhan lagi? Oke aku akan langsung kesana. Tunggu sebentar” ucap Robeth
terkejut. Ia langsung menutup teleponnya.
“Ada apa Rob?
Kelihatannya ada kejadian yang gawat ya?” tanya Donovan penasaran. Ia melihat
kegusaran di wajah Robeth. “Ada pembunuhan lagi Don, ayo ikut aku” jawab Robeth
singkat. “Okey” balas Donovan lebih singkat.
Mobil Dinas
Robeth yang terparkir rapih di garasi rumahnya perlahan ia setir keluar.
Terlihat donovan yang duduk disamping Robeth menggigit-gigit ibu jarinya.
Pertanda ia tak sabar ingin segera melihat tubuh korban. Donovan yang tahu
betul kebiasaan partner lamanya itu pun menyalakan sirine mobil khusus CID
bermaksud mengebut. Dengan lihai Robeth membalap pengendara lain di sela-sela
padatnya jalan besar London. Setelah mengebut hampir 20 menit, mereka akhirnya
sampai di lokasi kejadian. Robeth dan Donovan langsung berlari kerumah kelam
itu.
“Lapor pak.
Ditemukan mayat laki-laki berusia 42 tahun dalam keadaan berbaring di lantai
ruang tengah. Korban diduga tewas kehabisan darah karena luka semacam sayatan
yang cukup lebar di leher. Korban diperkirakan tewas satu jam yang lalu
berdasarkan suhu badan korban yang mencapai 35 derajat. Kami menemukan sehelai
rambut dan sidik jari di tubuh korban yang diduga milik pelaku. Sekarang kami
sedang memproses bukti-bukti di rumah sakit Saint Rose pak. Sedangkan untuk anggota
keluarga yang lain masih belum ditemukan pak” lapor salah satu anggota forensik
kepada Robeth. “Apa tidak ditemukan bukti lain? Aku ingin melihat kondisi
korban” sahut Donovan. “Nak, antar kami ke tempat korban” ucap Robeth. Mereka
lalu menuju lokasi dimana korban ditemukan. Terlihat korban yang pucat
kehabisan darah. Mulutnya menganga seakan-akan menjerit. Matanya tertutup
setengah. Terlihat sisa air mata kepedihan membasahi mata Lewis yang tak
bernyawa lagi.
“Hemm, setelah
melihat kondisi korban, aku semakin yakin” gumam Donovan pelan. Ia seakan-akan
sedang menerawang jauh. “Yakin mengenai apa Don?” tanya Robeth diselimuti rasa
penasaran. “Yakin bahwa kejadian berantai ini ada kaitannya dengan kejadian
dimana orangtua ku dulu terbunuh. Jika memang dugaanku benar, sepertinya
sindikat gelap itu beraksi lagi” bisik Donovan. Ia tidak ingin dugaan ini
menggemparkan seluruh pasukan khusus CID, cukup kepalanya saja yang tahu. “Jika
memang seperti itu dugaanmu, maka aku memang harus memperlebar jangkauan investigasiku.
Kuharap kamu mau membantuku hingga selesai Don” ucap Robeth seraya memandangi
seantero lokasi kejadian.
”Sekarang,
kuperintahkan kalian berpatroli di sekitar daerah tempat kejadian perkara untuk
mencari anggota keluarga yang masih hilang. Jika kalian menemukan orang yang
mencurigakan segera tangkap untuk di interogasi. Status kota ini mulai saat ini
adalah siaga satu! Mengerti!” perintah Robeth kepada anak buahnya. “Siap Pak!”
jawab para pasukan khusus CID serempak. Mereka lalu bergegas menuju mobil dinas
mereka masing-masing untuk menyisiri jalanan kota London. Rodriguez yang sedari
tadi berada di daerah kejadian pun ikut berpatroli.
“Sekarang
bagaimana Don?” tanya Robeth kepada Donovan yang sembari tadi berdiam diri. “Sebaiknya kita ke rumah sakit tempat bukti itu
diselidiki Rob. Mungkin saja pelaku mengincar bukti yang tertinggal itu” ucap
Donovan dengan pandangan serius.
“Apa aku harus
memerintahkan anak buahku untuk menjaga rumah sakit itu?” tanya Robeth ragu. “Menurutku, sebaiknya kamu perintahkan sniper handalmu
untuk bersiaga di atas rumah sakit. Lalu dua pasukan ahli pisau berjaga di
pintu laboratorium. Perintahkan mereka untuk memakai peluru dan pisau yang
terbuat dari perak. Bagaimana?” usul Donovan sembari menggigiti kulit ibu
jarinya yang mulai meneteskan darah segar.
“Oke kalau itu
mau mu. Ayo kita berangkat ke rumah sakit sekarang juga” Ujar Robeth yang
sangat mempercayai seluruh perkataan Donovan. “Sebelum
itu, apakah kamu sudah berbekal senjata? Tolong beri aku pisau terbaikmu yang
terbuat dari perak. Apa kau punya?” tanya Donovan seraya beranjak dari lokasi
kejadian. “Pisau yang terbuat dari perak?
Ada beberapa di bagasi mobil. Akan kuambilkan” balas Robeth sambil berjalan
menuju mobil dinasnya. Mereka berdua lalu berjalan keluar dari rumah gelap itu.
Setelah Donovan
bersenjatakan pisau, ia lalu menyimpannya di saku celana nya. “Sebaiknya kamu
juga membawa pisau perak. Lawan kita kemungkinan manusia penghisap darah” ujar
Donovan pelan. "Apa?!" Robeth terkejut, matanya terbelalak kaget. Robeth
terdiam sejenak. "Hmm baiklah, kita sepertinya harus bersiap menghadapi
kemungkinan terburuk" ujar Robeth seraya mengambil pisau berbahan perak di
bagasi mobilnya. Mereka kemudian memasuki mobil dinas itu bermaksud untuk
menuju rumah sakit Saint Rose. Setelah Robeth memerintahkan beberapa anak
buahnya untuk bersiaga di rumah sakit seperti intruksi dari Donovan, ia lalu
bermaksud untuk menyalakan mobilnya.
“Tunggu! Aku
melihat bayangan mencurigakan di samping halaman rumah itu!” teriak Donovan
terkejut. “Mana?! Ayo kita kejar!” jawab
Robeth yang terkagetkan oleh teriakan sahabatnya itu.
Sontak Robeth
dan Donovan berlari menuju bayangan itu. Sang bayangan pun tiba-tiba berlari
menjauhi mereka berdua. Dengan berbekal senter, Robeth menyinari bagian
belakang tersangka itu. Tubuhnya jangkung dan kurus. Rambutnya putih sepanjang
punggung. Telinganya terlihat lebar dan panjang.
“Manusia macam apa itu?” ujar Robeth
terheran-heran. “Sepertinya itu salah satu bangsa vampire Rob, aku
sarankan kamu berhati-hati dan bersiaga. Malam ini akan menjadi malam yang
panjang” lirih Donovan sembari mempersiapkan senjatanya. “Sial, kuharap kita tidak menjadi korban berikutnya”
ucap Robeth getir. Mereka masih berlari mengejar sesosok makhluk aneh itu.
Terlihat makhluk aneh itu berlari menyisiri
jalan menuju sebuah gang yang terkenal dengan nama Whitechaple. Sebuah gang
yang masih menyimpan misteri pembunuhan dan menjadi saksi bisu atas beberapa
kasus yang belum terpecahkan.
“Sial, makhluk itu sepertinya sengaja memancing
kita kedalam gang mengerikan itu!” kata Robeth seraya mengambil pisaunya.
“Berhenti! Jangan berlari lagi!” teriak Robeth bersiap melempar pisau peraknya.
Namun makhluk aneh itu tetap berlari tanpa menoleh sedikitpun.
“Jangan incar bagian vitalnya Rob” saran
Donovan sembari berlari menyamping. Ia melihat sebuah gang mencekam tepat
didepannya. Seketika itu juga, Robeth melempar pisaunya tepat kearah makhluk
aneh itu. Robeth bermaksud mengincar bagian kakinya.
“Zlpt!”, tiba-tiba makhluk itu menghilang
ditelan bayang malam. Tak berjejak. Membuat kedua sahabat itu kebingungan.
“Sial, dia menghilang. Bagaimana sekarang Don?” tanya Robeth kebingungan, ia
tidak menduga incarannya menghilang. “Tenang. Kita lihat apakah ia masih di
sekitar sini atau tidak. Untung kita tidak terpancing kedalam gang mengerikan
itu. Sepertinya gang itu adalah pusat para penghisap darah. Sebaiknya pasukanmu
segera mengevakuasi gang itu” saran Donovan penuh selidik, seakan-akan ia
sangat yakin dengan dugaannya. “Okey, akan kupanggil pasukanku” jawab Robeth
sembari mengambil handphone-nya.
“Sebaiknya jangan kau lakukan itu” suara pria
lantang menggema mengejutkan mereka berdua. Terlihat sesosok pria berkulit
putih, seputih mayat. Rambutnya yang juga putih sepanjang pinggang. Tubuhnya
sangat tinggi. Telinga nya panjang dan lebar. Ia memakai jaket kulit dan celana
jeans berwarna hitam. Tampak sepatu boot berwarna coklat menghiasi kakinya.
Wajahnya ditutupi semacam masker. Ia memakai topi coboy yang juga berwarna
hitam. Kontras dengan kulitnya yang putih pucat. Matanya dingin dan sinis.
Tatapannya sangat tajam. Terlihat bola matanya merah menyala.
“Siapa kamu? Sepertinya kamu adalah orang yang
kami kejar tadi?” tanya Donovan seraya mengatur pernapasannya. Donovan yang
sudah tidak muda lagi bahkan lupa kalau dia sudah berumur. “Jawab, siapa
namamu!?” tambah Robeth sambil memasang muka garang.
“Perkenalkan, namaku Zen Van Dracul. Kalian
bisa memanggilku Zen. Sebaiknya kalian jangan menyuruh pasukan kalian
mengevakuasi gang itu. Karena gang itu adalah sarang dari clan Raven. Vampire
jenis Abchanchu. Jangan macam-macam dengan mereka” jelas sesosok pria misterius
bernama Zen. Pandangannya masih tajam menatap mereka berdua.
“Apa? Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan.
Tolong jelaskan secara rinci” ucap Robeth mengernyitkan dahinya. “Sepertinya
aku tahu maksudmu. Didalam sana adalah sarang dari suatu clan vampire ya? Dan
apakah serangkaian pembunuhan yang telah terjadi akhir-akhir ini adalah ulah
clan itu?” tanya Donovan sambil memandangi sekitar gang itu.
“Sepertinya begitu. Sebenarnya aku bermaksud
membunuh vampire yang sudah keterlaluan itu. Aku bermaksud membasmi mereka
semua. Tapi aku sedikit kewalahan. Jadi aku sengaja memancing kalian kedalam
sana agar kalian tahu apa yang aku maksud” tambah Zen dengan mimik wajah
serius.
“Apa yang kamu maksud?” tanya Robeth lagi. Ia
masih belum mengerti arah pembicaraan Zen. Sedangkan Donovan terlihat seperti
sedang memikirkan sesuatu. Suasana pun menjadi semakin mencekam.
BERSAMBUNG
No comments:
Post a Comment