Friday, September 13, 2013

TARING [PART 3 - MANGSA]

“Hiks. Hiks” rintihan suara itu semakin terdengar pilu. Lewis pun gelisah, hatinya diliputi rasa panik yang mencekam. “Liz, tenanglah. Mendekatlah padaku sekarang. Jangan menangis lagi” ucap Lewis lirih dan pelan. Ia masih mencurigai bahwa pelaku dari penculikan Nina masih ada didalam rumahnya. Lewis menyadari kalau handphone-nya dilengkapi dengan senter, ia lalu mencoba menyalakannya. Ia arahkan cahaya senter ke sumber suara.

“Apa?! Siapa kamu?!” teriak Lewis histeris. Ia melihat sesosok wanita berbaju putih polos membungkuk di lantai. Terlihat lingkaran hitam di sekitar matanya. Wajahnya putih pucat, dihiasi dengan kerutan dimana-mana. Serta air mata darah terlihat keluar di sela-sela bola matanya. Ia menatap tajam Lewis yang mengarahkan sinar senter tepat ke wajah wanita mengerikan itu.

“Siapa kamu?! Dimana istri ku?!” bentak Lewis kepada wanita aneh itu. Ia melihat gigi taring tajam menonjol di sela-sela bibir wanita itu. Lewis langsung terkaget dan panik. Ia menyenter seisi rumah, namun istrinya tidak kunjung terlihat. “Kau bawa kemana istri ku?! Jawab?!” bentak Lewis geram. Ia bersiap-siap menyerang wanita tidak normal itu dengan berbekal amarah dan tangan kosong. Ia tak bisa berpikir panjang lagi setelah anak dan istrinya hilang.

Tiba tiba, “Hwarrr!” wanita itu melompat menindih Lewis. Tenaga wanita itu sangat kuat walau terlihat lemah. Lewis yang setiap hari berkecimpung di dunia olahraga bahkan tidak sanggup melawan tekanan wanita itu. “Tidak! Lepaskan aku! Tolong!” teriak Lewis tak berdaya. Ia berusaha memukul wajah wanita itu, tapi tangannya ditahan dengan erat. Kakinya tertahan oleh kaki wanita itu. Cahaya bulan pun menyoroti kejadian mengerikan itu. Menyeruak ke sela-sela jendela dan menyinari wajah wanita iblis itu. Terlihat senyuman kejam menghiasi wajahnya. Matanya berubah menjadi merah. Gigi taringnya semakin menonjol. Dan wajahnya terlihat mengkilap.

Sontak wanita itu menggigit leher Lewis dengan cepat. Lewis hanya berteriak sekeras-kerasnya, berharap para tetangga mendengar rintihannya. Namun dalam sekejap, pandangannya kabur dan buram. Suaranya perlahan menghilang ditelan kegelapan. Tubuhnya bergetar hebat tanda kesakitan. Matanya yang hidup perlahan sirna. Suara jantung yang awalnya berdegup kencang pun lenyap. Wanita itu tak melewatkan setetespun darah di tubuh Lewis. Dengan buas ia gigit leher Lewis. Tiba-tiba wajah wanita itu mencerah. Terlihat mukanya yang pucat menjadi segar. Kerutan di wajahnya pun menghilang. Ia lalu berjalan diantara kegelapan dan menghilang. Meninggalkan tubuh Lewis yang kering tak bernyawa.

Ternyata, polisi yang sudah menerima telepon dari Lewis dan mendengar sambungannya terputus segera mengabarkan kepada Rodriguez, wakil kepala CID. Rodriguez lalu memerintahkan pasukannya untuk menyisiri daerah yang diduga pusat panggilan itu. Tak lama setelah mereka berpatroli, mereka lalu menerima laporan dari warga bahwa ada seseorang yang tewas di salah satu perumahan di daerah Whitechaple. Para pasukan CID beserta Rodriguez pun langsung menuju lokasi pembunuhan itu.

Di waktu yang sama, di rumah Robeth, terlihat Donovan dan Robeth saling bercakap-cakap. “Maksudmu Don?” tanya Robeth lagi. Pernyataan Donovan memaksa Robeth memasang muka penuh tanya. Tiba-tiba terdengar suara yang sudah tidak asing lagi. ‘tlilililililit-tlilililililit’ bunyi suara handphone Robeth membuyarkan diskusi mereka. Terlihat nama partnernya, Rodriguez. “Sebentar ya Don, ada telepon dari wakil kepala CID” ucap Robeth seraya berjalan menjauhi Donovan yang terlihat sedang berpikir keras. “Okey angkat dulu saja Rob” balas Donovan sembari menyantap pie hangat rasa nanas.

“Halo Rodriguez? Ada apa?” Tanya Robeth setelah memencet tombol ‘terima’ di handphone-nya. “Halo Pak Robeth. Telah terjadi pembunuhan lagi pak. Kali ini terjadi di perumahan White Street di dekat gang Whitechaple. Dimohon bapak segera menuju tempat kejadian perkara sekarang juga Pak” ujar Rodriguez lantang. Terdengar suara huru-hara para pasukan khusus CID sedang memblokade lokasi pembunuhan. “Apa! Ada pembunuhan lagi? Oke aku akan langsung kesana. Tunggu sebentar” ucap Robeth terkejut. Ia langsung menutup teleponnya.

“Ada apa Rob? Kelihatannya ada kejadian yang gawat ya?” tanya Donovan penasaran. Ia melihat kegusaran di wajah Robeth. “Ada pembunuhan lagi Don, ayo ikut aku” jawab Robeth singkat. “Okey” balas Donovan lebih singkat.

Mobil Dinas Robeth yang terparkir rapih di garasi rumahnya perlahan ia setir keluar. Terlihat donovan yang duduk disamping Robeth menggigit-gigit ibu jarinya. Pertanda ia tak sabar ingin segera melihat tubuh korban. Donovan yang tahu betul kebiasaan partner lamanya itu pun menyalakan sirine mobil khusus CID bermaksud mengebut. Dengan lihai Robeth membalap pengendara lain di sela-sela padatnya jalan besar London. Setelah mengebut hampir 20 menit, mereka akhirnya sampai di lokasi kejadian. Robeth dan Donovan langsung berlari kerumah kelam itu.

“Lapor pak. Ditemukan mayat laki-laki berusia 42 tahun dalam keadaan berbaring di lantai ruang tengah. Korban diduga tewas kehabisan darah karena luka semacam sayatan yang cukup lebar di leher. Korban diperkirakan tewas satu jam yang lalu berdasarkan suhu badan korban yang mencapai 35 derajat. Kami menemukan sehelai rambut dan sidik jari di tubuh korban yang diduga milik pelaku. Sekarang kami sedang memproses bukti-bukti di rumah sakit Saint Rose pak. Sedangkan untuk anggota keluarga yang lain masih belum ditemukan pak” lapor salah satu anggota forensik kepada Robeth. “Apa tidak ditemukan bukti lain? Aku ingin melihat kondisi korban” sahut Donovan. “Nak, antar kami ke tempat korban” ucap Robeth. Mereka lalu menuju lokasi dimana korban ditemukan. Terlihat korban yang pucat kehabisan darah. Mulutnya menganga seakan-akan menjerit. Matanya tertutup setengah. Terlihat sisa air mata kepedihan membasahi mata Lewis yang tak bernyawa lagi.

“Hemm, setelah melihat kondisi korban, aku semakin yakin” gumam Donovan pelan. Ia seakan-akan sedang menerawang jauh. “Yakin mengenai apa Don?” tanya Robeth diselimuti rasa penasaran. “Yakin bahwa kejadian berantai ini ada kaitannya dengan kejadian dimana orangtua ku dulu terbunuh. Jika memang dugaanku benar, sepertinya sindikat gelap itu beraksi lagi” bisik Donovan. Ia tidak ingin dugaan ini menggemparkan seluruh pasukan khusus CID, cukup kepalanya saja yang tahu. “Jika memang seperti itu dugaanmu, maka aku memang harus memperlebar jangkauan investigasiku. Kuharap kamu mau membantuku hingga selesai Don” ucap Robeth seraya memandangi seantero lokasi kejadian.

”Sekarang, kuperintahkan kalian berpatroli di sekitar daerah tempat kejadian perkara untuk mencari anggota keluarga yang masih hilang. Jika kalian menemukan orang yang mencurigakan segera tangkap untuk di interogasi. Status kota ini mulai saat ini adalah siaga satu! Mengerti!” perintah Robeth kepada anak buahnya. “Siap Pak!” jawab para pasukan khusus CID serempak. Mereka lalu bergegas menuju mobil dinas mereka masing-masing untuk menyisiri jalanan kota London. Rodriguez yang sedari tadi berada di daerah kejadian pun ikut berpatroli.

“Sekarang bagaimana Don?” tanya Robeth kepada Donovan yang sembari tadi berdiam diri. “Sebaiknya kita ke rumah sakit tempat bukti itu diselidiki Rob. Mungkin saja pelaku mengincar bukti yang tertinggal itu” ucap Donovan dengan pandangan serius.

“Apa aku harus memerintahkan anak buahku untuk menjaga rumah sakit itu?” tanya Robeth ragu. “Menurutku, sebaiknya kamu perintahkan sniper handalmu untuk bersiaga di atas rumah sakit. Lalu dua pasukan ahli pisau berjaga di pintu laboratorium. Perintahkan mereka untuk memakai peluru dan pisau yang terbuat dari perak. Bagaimana?” usul Donovan sembari menggigiti kulit ibu jarinya yang mulai meneteskan darah segar.

“Oke kalau itu mau mu. Ayo kita berangkat ke rumah sakit sekarang juga” Ujar Robeth yang sangat mempercayai seluruh perkataan Donovan. “Sebelum itu, apakah kamu sudah berbekal senjata? Tolong beri aku pisau terbaikmu yang terbuat dari perak. Apa kau punya?” tanya Donovan seraya beranjak dari lokasi kejadian. “Pisau yang terbuat dari perak? Ada beberapa di bagasi mobil. Akan kuambilkan” balas Robeth sambil berjalan menuju mobil dinasnya. Mereka berdua lalu berjalan keluar dari rumah gelap itu.

Setelah Donovan bersenjatakan pisau, ia lalu menyimpannya di saku celana nya. “Sebaiknya kamu juga membawa pisau perak. Lawan kita kemungkinan manusia penghisap darah” ujar Donovan pelan. "Apa?!" Robeth terkejut, matanya terbelalak kaget. Robeth terdiam sejenak. "Hmm baiklah, kita sepertinya harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk" ujar Robeth seraya mengambil pisau berbahan perak di bagasi mobilnya. Mereka kemudian memasuki mobil dinas itu bermaksud untuk menuju rumah sakit Saint Rose. Setelah Robeth memerintahkan beberapa anak buahnya untuk bersiaga di rumah sakit seperti intruksi dari Donovan, ia lalu bermaksud untuk menyalakan mobilnya.

“Tunggu! Aku melihat bayangan mencurigakan di samping halaman rumah itu!” teriak Donovan terkejut. “Mana?! Ayo kita kejar!” jawab Robeth yang terkagetkan oleh teriakan sahabatnya itu.

Sontak Robeth dan Donovan berlari menuju bayangan itu. Sang bayangan pun tiba-tiba berlari menjauhi mereka berdua. Dengan berbekal senter, Robeth menyinari bagian belakang tersangka itu. Tubuhnya jangkung dan kurus. Rambutnya putih sepanjang punggung. Telinganya terlihat lebar dan panjang.

“Manusia macam apa itu?” ujar Robeth terheran-heran. “Sepertinya itu salah satu bangsa vampire Rob, aku sarankan kamu berhati-hati dan bersiaga. Malam ini akan menjadi malam yang panjang” lirih Donovan sembari mempersiapkan senjatanya. “Sial, kuharap kita tidak menjadi korban berikutnya” ucap Robeth getir. Mereka masih berlari mengejar sesosok makhluk aneh itu.

Terlihat makhluk aneh itu berlari menyisiri jalan menuju sebuah gang yang terkenal dengan nama Whitechaple. Sebuah gang yang masih menyimpan misteri pembunuhan dan menjadi saksi bisu atas beberapa kasus yang belum terpecahkan.

“Sial, makhluk itu sepertinya sengaja memancing kita kedalam gang mengerikan itu!” kata Robeth seraya mengambil pisaunya. “Berhenti! Jangan berlari lagi!” teriak Robeth bersiap melempar pisau peraknya. Namun makhluk aneh itu tetap berlari tanpa menoleh sedikitpun.

“Jangan incar bagian vitalnya Rob” saran Donovan sembari berlari menyamping. Ia melihat sebuah gang mencekam tepat didepannya. Seketika itu juga, Robeth melempar pisaunya tepat kearah makhluk aneh itu. Robeth bermaksud mengincar bagian kakinya. 

“Zlpt!”, tiba-tiba makhluk itu menghilang ditelan bayang malam. Tak berjejak. Membuat kedua sahabat itu kebingungan. “Sial, dia menghilang. Bagaimana sekarang Don?” tanya Robeth kebingungan, ia tidak menduga incarannya menghilang. “Tenang. Kita lihat apakah ia masih di sekitar sini atau tidak. Untung kita tidak terpancing kedalam gang mengerikan itu. Sepertinya gang itu adalah pusat para penghisap darah. Sebaiknya pasukanmu segera mengevakuasi gang itu” saran Donovan penuh selidik, seakan-akan ia sangat yakin dengan dugaannya. “Okey, akan kupanggil pasukanku” jawab Robeth sembari mengambil handphone-nya. 

“Sebaiknya jangan kau lakukan itu” suara pria lantang menggema mengejutkan mereka berdua. Terlihat sesosok pria berkulit putih, seputih mayat. Rambutnya yang juga putih sepanjang pinggang. Tubuhnya sangat tinggi. Telinga nya panjang dan lebar. Ia memakai jaket kulit dan celana jeans berwarna hitam. Tampak sepatu boot berwarna coklat menghiasi kakinya. Wajahnya ditutupi semacam masker. Ia memakai topi coboy yang juga berwarna hitam. Kontras dengan kulitnya yang putih pucat. Matanya dingin dan sinis. Tatapannya sangat tajam. Terlihat bola matanya merah menyala. 

“Siapa kamu? Sepertinya kamu adalah orang yang kami kejar tadi?” tanya Donovan seraya mengatur pernapasannya. Donovan yang sudah tidak muda lagi bahkan lupa kalau dia sudah berumur. “Jawab, siapa namamu!?” tambah Robeth sambil memasang muka garang. 

“Perkenalkan, namaku Zen Van Dracul. Kalian bisa memanggilku Zen. Sebaiknya kalian jangan menyuruh pasukan kalian mengevakuasi gang itu. Karena gang itu adalah sarang dari clan Raven. Vampire jenis Abchanchu. Jangan macam-macam dengan mereka” jelas sesosok pria misterius bernama Zen. Pandangannya masih tajam menatap mereka berdua.

“Apa? Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan. Tolong jelaskan secara rinci” ucap Robeth mengernyitkan dahinya. “Sepertinya aku tahu maksudmu. Didalam sana adalah sarang dari suatu clan vampire ya? Dan apakah serangkaian pembunuhan yang telah terjadi akhir-akhir ini adalah ulah clan itu?” tanya Donovan sambil memandangi sekitar gang itu. 

“Sepertinya begitu. Sebenarnya aku bermaksud membunuh vampire yang sudah keterlaluan itu. Aku bermaksud membasmi mereka semua. Tapi aku sedikit kewalahan. Jadi aku sengaja memancing kalian kedalam sana agar kalian tahu apa yang aku maksud” tambah Zen dengan mimik wajah serius.

“Apa yang kamu maksud?” tanya Robeth lagi. Ia masih belum mengerti arah pembicaraan Zen. Sedangkan Donovan terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Suasana pun menjadi semakin mencekam.

BERSAMBUNG

No comments:

Post a Comment