Asa pun memupus.
Harapan mengabur. Cahaya mulai memudar. Degupan jantung Zen pun tak terdengar
lagi. Suasana menjadi hening seketika.
“Aku tidak
menyangka seorang Dhampire kuat seperti Zen bisa tewas disini” gumam Donovan
seakan-akan meratapi nasibnya yang telah diujung tanduk.
“Ia tidak mati” ucap
Erick setelah mengamati cukup lama tubuh Zen. “Hanya tubuhnya berhenti bekerja sementara
untuk mengeluarkan cairan sejenis antibiotik agar melawan racun didalam
tubuhnya. Dhampire tidak akan mati semudah itu. Lebih baik kita lanjutkan perburuan ini” jelas Erick seraya menegapkan badannya
dan melangkah pelan menuju pintu reyot itu. Donovan pun berseri kembali dan
mengikuti Erick dari belakang.
Pintu itu menganga sedikit. Menampakkan gelap
yang merekah dibalik sisi pintu tua itu. Seolah-olah menantikan mangsa untuk
ditelannya. Mereka berdua pun perlahan membuka pintu itu. “Arrrrgghh!!” Sekali
lagi bayangan hitam pekat menarik mereka berdua hingga terseret kedalam suatu
ruangan dimana Zen tertikam.
“Sial! Dimana ini?” umpat Donovan pelan. Erick
langsung mengeluarkan batu berwarna jingga yang serupa dengan batu yang pernah
ia pakai sebelumnya. Ia lempar batu itu kedalam gelapnya ruangan. Seketika itu
pula kilatan-kilatan cahaya terpercik tatkala batu itu terpental. Dan semakin
terang ketika batu itu tak bergerak lagi. Dengan mata setengah terbuka, mereka amati
ruangan itu. Terlihat tumpukan mayat-mayat yang terlihat pucat dengan bekas
gigitan di lehernya. Terlihat pula mayat seorang gadis kecil, seorang wanita,
dan seorang pria tergeletak di tumpukan paling atas. Bau busuk yang menyeruak
dari tumpukan itu seakan-akan mengaduk-aduk perut Donovan dan Erick. Tampak juga
dua pria bertaring dan seorang wanita berdiri tepat di hadapan Donovan dan
Erick. Ya. Mereka adalah Wend. Rey, dan Francisia.
Tiba-tiba, mata Donovan terbelalak tatkala ia
melihat salah satu mayat di tumpukan teratas. “Tidak! Bukankah itu Robeth!
Tidak!!” jeritan dan rintihan Donovan menghebat dikala ia melihat sahabatnya
tergeletak tak bernyawa. Erick berusaha menenangkan Donovan yang tiba-tiba
tertunduk seakan-akan rohnya hilang dari tubuhnya. Terdiam tak bergerak.
“Tak kusangka masih saja ada manusia yang nekad
masuk kesini” ejek Wend seraya mendekati mereka berdua. Erick langsung berubah
wujud menjadi kucing hitam dan melesat cepat ke belakang Wend. Terlihat di
mulut mungil Erick seutas benang biru yang terurai panjang. Ia kelilingi dengan
cepat kaki Wend yang terlihat besar.
“Awas Wend!” teriak Rey, tapi peringatan itu
tidak ada artinya. Tiba-tiba saja, seutas benang itu berubah menjadi lilitan
api yang membakar hebat tubuh gemuk Wend.
“Arrgghh!” erangan kesakitan Wend ketika api
berwarna biru gelap itu mengikis tubuhnya. Sontak tubuhnya ambruk tak bernyawa.
Francisia hanya terdiam saja. Donovan masih terdiam meringkik tak bergerak.
“Haha, kau hebat juga kucing!” puji Rey
setengah menghina. Erick langsung berlari dengan cepat kearah Rey dengan wujud
kucingnya berharap bisa memakai teknik yang sama. Namun Rey yang bisa melihat
benda yang bergerak cepat seraya menapakkan kakinya ketanah. Seketika itu pula
tanah-tanah bergemetar retak. Erick langsung terhenti dan terjatuh. Dengan
cepat Rey berusaha menginjak tubuh kucing Erick yang tergeletak jatuh. Dalam
sekejap Erick berubah lagi menjadi manusia. Namun tapakan kaki Rey menghantam
tepat di dada Erick seraya menggetarkan tubuh kekarnya.
“Uggh!” erangan kesakitan menjalari Erick. Mulutnya
mengeluarkan darah segar. Ia mencoba menghantam kaki kurus Rey yang berada di
dadanya. Namun Rey mengangkat kakinya sesaat sebelum tangan mengerikan Erick
menyentuh kakinya. Pertarungan pun berlangsung sengit.
Di lain sisi, Francisia yang sedari tadi
mengamati pertarungan sengit itu pun mendekati Donovan yang terlihat sangat
syok melihat kematian sahabatnya itu. Perlahan namun pasti, ia dekati sesosok
manusia berkumis tipis itu. Mendekat dan mendekat. Hingga akhirnya ia tiba di
samping Donovan yang sedari tadi hanya terdiam mematung. Tiba-tiba ia
menyodorkan kepalanya kearah leher Donovan. Ia mencoba menggigit donovan.
Dengan perlahan ia memasukkan gigi taringnya
seraya menyedot setiap tetesan darah yang mengalir dari leher Donovan.
“Arrrgghh!” jerit Donovan lirih ketika darahnya dihisap secara perlahan. Erick
yang mendengar erangan kesakitan itu langsung menoleh dan terkejut ketika
Francisia menghisap darah Donovan.
“Tidak!” teriak Erick seraya mengambil sebuah benda
di sakunya. Benda bulat bergerigi. Ia lemparkan tepat kearah Francisia yang
sedang sibuk menyantap darah segar Donovan.
‘Zrash!’ kepala Francisia terpotong dari
tubuhnya. Gerigi itu hampir mengenai leher Donovan. Bayangan hitam pun seketika
keluar dari tubuh Francisia yang tak berkepala itu. Donovan tergeletak.
Jantungnya berdegup kencang. Tubuhnya mati rasa. Pandangannya kabur. Lidahnya
kelu. Ia sekarat.
“Donovan! Jika kau ingin hidup, Minum darah
Francisia! Argh!” teriak Erick diikuti erangan kesakitan karena tangannya
tertikam oleh jari kuku Rey yang sangat panjang. Erick yang kesakitan itu
seraya memegang erat tangan Rey yang menancap di tangan kirinya. Sangat erat.
Lalu tiba-tiba tangan Rey meledak karena terpegang oleh tangan kanan Erick yang
telapaknya penuh mantra aneh.
Di sisi lain. Donovan yang sekarat itu
merangkak kearah kolam darah yang menyeruak di leher Francisia. Ia merangkat
sangat pelan. Setelah kolam darah telah berhasil ia jangkau, langsung ia
celupkan mulutnya di kolam itu. Hanya satu tegukan darah. Tiba-tiba jantungnya
berdegup sangat keras dan kencang. Membuat Donovan kejang-kejang kesakitan.
Kepalanya serasa memanas dan perih. Darahnya seakan-akan mendidih. Ia
meronta-ronta, menggelepar, dan menggeliat kesakitan. Setelah cukup lama
mengerang kesakitan. Ia terdiam seakan-akan sedang tertidur pulas. Tampak gigi
taringnya membesar. Wajahnya pucat pasi. Matanya berubah menjadi merah gelap.
Kumisnya masih tipis.
“Uaaghh!” Rey seraya mundur cukup jauh. Tangan
kirinya hilang separuh. Terlihat tulang menonjol dari balik potongan daging
itu. Rey terlihat kesakitan dan marah. Erick seraya meminum sebuah ramuan dari
saku nya. Tiba-tiba muncul ukiran-ukiran aneh ditubuh Erick. Matanya seluruhnya
hitam pekat. Taring tiba-tiba menyeruak di bibirnya. Rambutnya yang coklat
mendadak berwarna putih. Rambut-rambut halus menyembul di seluruh badannya.
Badannya membesar dan menggempal. Ia berubah menjadi Werefolf.
“Sial” umpat Rey seraya berlari menuju Erick
yang berubah ganas itu. Serangan demi serangan pun terjadi. Ia goreskan
kuku-kuku panjangnya namun tak mengenai Erick. Walau Erick berubah menjadi
besar, namun kegesitannya tak berkurang. Erick menghindari dengan cepat seluruh
terkaman ganas Rey. Setelah Rey lelah menyerang, Erick tiba-tiba mengoyak leher
Rey dengan taring besarnya itu hingga nyaris putus. Rey mengerang lirih
terlihat sekarat. Setelah puas mengoyak leher. Erick langsung memukul kepala
Rey hingga putus. Darah pun dengan sukses menyembul keluar dari lehernya. Badan
tanpa kepala itupun ambruk tak berdaya. Erick melolong tanda puas.
Erick pun berubah lagi seperti semula.
Tampaknya ia bisa mengkontrol transformasinya yang kedua itu. Dengan wujud
manusianya, ia berusaha mendekati Donovan. Walau ia tahu racun di lukanya telah
menyebar.
“Jleb!” tiba-tiba terlihat pedang menonjol dari
dada Erick. Sebuah terkaman tak terduga melumpuhkan Erick. Lalu goresan pedang
itu menebas Erick menjadi dua bagian.
“Arrrgghh!” Erick pun tak berdaya lagi. Ia mati
seketika. Terlihat sesosok pria berumur yang penuh jenggot putih di dagunya.
Kumisnya pun melengkapi kerimbunan dagunya. Wajahnya sangat putih dan terlihat
garang. Matanya mirip dengan mata Francisia. Ia memakai jubah hitam besar dan
terlihat pedang berlumuran darah menjadi senjatanya. Ialah Daniel De Raven.
“Tidak! Francisia sayangku!” Teriak Daniel
setelah melihat putrinya tergeletak tak bernyawa. Ia marah besar. Donovan yang
sedari tadi pingsan akhirnya tersadarkan karena erangan kemarahan Daniel De
Raven itu. Ia mendangak dengan posisi masih tertelungkup. Ia melihat tubuh
Erick yang terbelah menjadi dua itu. Ia langsung bangkit penuh amarah. Donovan
sudah tidak seperti dulu lagi.
“Kau ya yang membunuh anakku?! Bersiap-siaplah
untuk mati!” teriak Daniel seraya menyeruak maju dengan membabi buta. Donovan
yang seperti mendapatkan kekuatan itu seraya menghilang dengan cepat. Daniel
pun ikut menghilang ditelan kegelapan. Terjadi percikan benda tajam di udara.
Donovan memakai senjata pisau salibnya yang telah ia bawa selama ini. Walau ia
tahu ia sudah menjadi makhluk terlarang. Tapi ia masih belum terkena efek salib
itu selama 12 jam dari perubahannya, itu yang ia tahu. Daniel yang lebih kuat
langsung mementalkan Donovan hingga menghantam tembok ruangan itu hingga retak.
Ia muntah darah saat itu juga. Daniel yang tak menyia-nyiakan kesempatan itu
pun langsung terbang kearah Donovan berusaha menikamnya.
Tiba-tiba Zen muncul tepat di depan Daniel. Ia
tikam daniel tepat di jantungnya. “Uaghh! Sial kau...” belum sempat ia
selesaikan perkataannya, Daniel tergeletak tak bernyawa. Sedangkan Donovan
melihat seluruh kejadian itu dengan pandangan buram. Layaknya siluet yang
saling bertubrukan. Semakin buram dan kabur. Ia pun pingsan.
***
Di sebuah ruangan di salah satu rumah sakit di New
York, tampak seorang pria yang tergeletak lemas diatas kasur berwarna putih.
Cairan infus menghiasi samping kirinya. Di sebelah kanan terlihat sesosok
wanita yang sedikit berumur memegang tangan pria itu erat. Seakan-akan ia tidak
ingin kehilangan pria itu lagi. Seolah-olah ia tak ingin dilliputi rasa cemas
lagi. Sang pria itu tiba-tiba membuka matanya dan melihat wanita itu yang
terlihat pucat.
“Lily? Kaukah itu?” bisik Donovan ketika
melihat istrinya duduk di sampingnya dengan muka penuh cemas. Lily pun
memandang Donovan dengan senyuman lega.
“Suamiku, aku sangat mencemaskanku. Aku sedari
dulu mengharapkan kedatanganmu dengan keadaan sehat bugar. Bukan dengan keadaan
seperti ini. Tapi aku lega kau sudah sadar Darling” ucap Lily sembari
tersenyum.
“Maafkan aku Lily. Tapi aku tidak bisa berdiam
diri disini lagi. Aku bukanlah aku yang dulu. Ku harap kau mengerti” jelas
lirih Donovan seraya menatap tajam mata Lily. Berharap istrinya tahu akan
maksud dari ucapan Donovan.
“Aku tidak mengerti apa maksudmu, Darling”
jawab Lily sedikit berbisik. Ia membuang muka dengan hati yang gusar.
***
Di salah satu pemakaman kota Prostejov,
terlihat sesosok pria bertaring sedang berjalan menuju kelamnya pemakaman itu.
Ia menggeser salah satu makam tua di ruangan pemakaman. Tampak tulang belulang
yang masih utuh dan lengkap. Kulit tipis dan kerut melapisi tengkorak itu.
Pakaian adat slovakia pun terpasang di tubuh tulang itu. Pria misterius itu pun
seraya mengeluarkan sebuah botol berisi cairan merah pekat. Lalu kemudian ia
teteskan tepat di mulut tengkorak itu yang gigi taringnya terlihat dengan
jelas. Tiba-tiba mulut tengkorak itu bergerak-gerak seperti menghisap cairan
mirip darah itu. Sontak tubuh tengkorak itu membengkak. Menjadi seperti tumbuh
seonggok daging diantara tulang belulang dan kulit tipis itu. Kelopak matanya
pun terbuka dan mulutnya menyeringai puas. Tengkorak itu berubah menjadi
sesosok pria tampan dengan muka yang sangat dingin.
“Akhirnya kau membangkitkanku Emperiano, terima
kasih” ucap pria dingin itu sembari bangkit dari peti matinya. Pria yang
bernama Emperiano itu pun menyeringai kejam.
“Sekarang kuasai kota ini, Lurupin. Bangkitkan
semua anak-anakmu” ucap Emperiano sembari meninggalkan ruangan itu. Menghilang.
Sesosok pria bernama Lurupin mengangguk pelan.
***
Keesokan paginya, Lily berjalan menuju kamar
tempat Donovan dirawat. Ia langkahkan kakinya dengan pelan sembari membawakan
buah apel kesenangan Donovan. Ia pun tiba di pintu kamar itu. Ia buka perlahan
hingga tampak seluruh interior ruangan itu.
“Tidak! Donovan dimana kamu!” jerit Lily ketika
melihat suaminya tak ada di kasur. Pintu jendela terbuka. Ia langsung berlari
kearah suster yang sedari tadi berjaga. Seluruh sudut rumah sakit pun telah
Lily dan suster telusuri. Namun sosok Donovan masih tidak terlihat. Ia
menghilang meninggalkan sepucuk surat di kamar dimana ia dirawat.
‘Dear Lily, maafkan aku. Ada tugas yang belum
terselesaikan. Aku harus pergi untuk sementara waktu. Kuharap kau mau
memaafkanku. Jaga dirimu baik-baik. Donovan’
Lily pun menangis deras tatkala membaca surat
itu. Di iringi oleh nyanyian burung gereja dan gumaman para suster yang mencoba
menenangkan Lily.
***
Malam hari setelah menghilangnya Donovan, di
salah satu kota di Slovakia, tampak dua orang sedang berjalan menuju salah satu
bar di kota itu. Satu memakai masker di wajahnya. Dan satunya memiliki kumis
tipis dengan taring menghiasi mulutnya. Ya. Mereka adalah Zen dan Donovan.
Mereka pun seraya berjalan menuju bar yang terlihat reyot itu.
“Apa kau sudah siap Don?” tanya Zen tanpa
menoleh sedikitpun. Donovan pun mengangguk seraya berlari kearah bar. Donovan
yang awalnya seorang pria biasa pun sudah berubah menjadi sesosok pemburu
manusia bertaring. Dengan didampingi Zen, mereka berusaha membasmi seluruh
manusia bertaring di bumi ini. Dan mencari rekan-rekan yang bisa mereka
percayai. Petualangan panjang Donovan dan Zen pun baru dimulai.
TAMAT
No comments:
Post a Comment