Saturday, September 14, 2013

TARING [PART 11 - KLIMAKS]

Asa pun memupus. Harapan mengabur. Cahaya mulai memudar. Degupan jantung Zen pun tak terdengar lagi. Suasana menjadi hening seketika.

“Aku tidak menyangka seorang Dhampire kuat seperti Zen bisa tewas disini” gumam Donovan seakan-akan meratapi nasibnya yang telah diujung tanduk.

“Ia tidak mati” ucap Erick setelah mengamati cukup lama tubuh Zen. “Hanya tubuhnya berhenti bekerja sementara untuk mengeluarkan cairan sejenis antibiotik agar melawan racun didalam tubuhnya. Dhampire tidak akan mati semudah itu. Lebih baik kita lanjutkan perburuan  ini” jelas Erick seraya menegapkan badannya dan melangkah pelan menuju pintu reyot itu. Donovan pun berseri kembali dan mengikuti Erick dari belakang.

Pintu itu menganga sedikit. Menampakkan gelap yang merekah dibalik sisi pintu tua itu. Seolah-olah menantikan mangsa untuk ditelannya. Mereka berdua pun perlahan membuka pintu itu. “Arrrrgghh!!” Sekali lagi bayangan hitam pekat menarik mereka berdua hingga terseret kedalam suatu ruangan dimana Zen tertikam.

“Sial! Dimana ini?” umpat Donovan pelan. Erick langsung mengeluarkan batu berwarna jingga yang serupa dengan batu yang pernah ia pakai sebelumnya. Ia lempar batu itu kedalam gelapnya ruangan. Seketika itu pula kilatan-kilatan cahaya terpercik tatkala batu itu terpental. Dan semakin terang ketika batu itu tak bergerak lagi. Dengan mata setengah terbuka, mereka amati ruangan itu. Terlihat tumpukan mayat-mayat yang terlihat pucat dengan bekas gigitan di lehernya. Terlihat pula mayat seorang gadis kecil, seorang wanita, dan seorang pria tergeletak di tumpukan paling atas. Bau busuk yang menyeruak dari tumpukan itu seakan-akan mengaduk-aduk perut Donovan dan Erick. Tampak juga dua pria bertaring dan seorang wanita berdiri tepat di hadapan Donovan dan Erick. Ya. Mereka adalah Wend. Rey, dan Francisia.

Tiba-tiba, mata Donovan terbelalak tatkala ia melihat salah satu mayat di tumpukan teratas. “Tidak! Bukankah itu Robeth! Tidak!!” jeritan dan rintihan Donovan menghebat dikala ia melihat sahabatnya tergeletak tak bernyawa. Erick berusaha menenangkan Donovan yang tiba-tiba tertunduk seakan-akan rohnya hilang dari tubuhnya. Terdiam tak bergerak.

“Tak kusangka masih saja ada manusia yang nekad masuk kesini” ejek Wend seraya mendekati mereka berdua. Erick langsung berubah wujud menjadi kucing hitam dan melesat cepat ke belakang Wend. Terlihat di mulut mungil Erick seutas benang biru yang terurai panjang. Ia kelilingi dengan cepat kaki Wend yang terlihat besar.

“Awas Wend!” teriak Rey, tapi peringatan itu tidak ada artinya. Tiba-tiba saja, seutas benang itu berubah menjadi lilitan api yang membakar hebat tubuh gemuk Wend.

“Arrgghh!” erangan kesakitan Wend ketika api berwarna biru gelap itu mengikis tubuhnya. Sontak tubuhnya ambruk tak bernyawa. Francisia hanya terdiam saja. Donovan masih terdiam meringkik tak bergerak.

“Haha, kau hebat juga kucing!” puji Rey setengah menghina. Erick langsung berlari dengan cepat kearah Rey dengan wujud kucingnya berharap bisa memakai teknik yang sama. Namun Rey yang bisa melihat benda yang bergerak cepat seraya menapakkan kakinya ketanah. Seketika itu pula tanah-tanah bergemetar retak. Erick langsung terhenti dan terjatuh. Dengan cepat Rey berusaha menginjak tubuh kucing Erick yang tergeletak jatuh. Dalam sekejap Erick berubah lagi menjadi manusia. Namun tapakan kaki Rey menghantam tepat di dada Erick seraya menggetarkan tubuh kekarnya.

“Uggh!” erangan kesakitan menjalari Erick. Mulutnya mengeluarkan darah segar. Ia mencoba menghantam kaki kurus Rey yang berada di dadanya. Namun Rey mengangkat kakinya sesaat sebelum tangan mengerikan Erick menyentuh kakinya. Pertarungan pun berlangsung sengit.

Di lain sisi, Francisia yang sedari tadi mengamati pertarungan sengit itu pun mendekati Donovan yang terlihat sangat syok melihat kematian sahabatnya itu. Perlahan namun pasti, ia dekati sesosok manusia berkumis tipis itu. Mendekat dan mendekat. Hingga akhirnya ia tiba di samping Donovan yang sedari tadi hanya terdiam mematung. Tiba-tiba ia menyodorkan kepalanya kearah leher Donovan. Ia mencoba menggigit donovan.

Dengan perlahan ia memasukkan gigi taringnya seraya menyedot setiap tetesan darah yang mengalir dari leher Donovan. “Arrrgghh!” jerit Donovan lirih ketika darahnya dihisap secara perlahan. Erick yang mendengar erangan kesakitan itu langsung menoleh dan terkejut ketika Francisia menghisap darah Donovan.

“Tidak!” teriak Erick seraya mengambil sebuah benda di sakunya. Benda bulat bergerigi. Ia lemparkan tepat kearah Francisia yang sedang sibuk menyantap darah segar Donovan.

‘Zrash!’ kepala Francisia terpotong dari tubuhnya. Gerigi itu hampir mengenai leher Donovan. Bayangan hitam pun seketika keluar dari tubuh Francisia yang tak berkepala itu. Donovan tergeletak. Jantungnya berdegup kencang. Tubuhnya mati rasa. Pandangannya kabur. Lidahnya kelu. Ia sekarat.

“Donovan! Jika kau ingin hidup, Minum darah Francisia! Argh!” teriak Erick diikuti erangan kesakitan karena tangannya tertikam oleh jari kuku Rey yang sangat panjang. Erick yang kesakitan itu seraya memegang erat tangan Rey yang menancap di tangan kirinya. Sangat erat. Lalu tiba-tiba tangan Rey meledak karena terpegang oleh tangan kanan Erick yang telapaknya penuh mantra aneh.

Di sisi lain. Donovan yang sekarat itu merangkak kearah kolam darah yang menyeruak di leher Francisia. Ia merangkat sangat pelan. Setelah kolam darah telah berhasil ia jangkau, langsung ia celupkan mulutnya di kolam itu. Hanya satu tegukan darah. Tiba-tiba jantungnya berdegup sangat keras dan kencang. Membuat Donovan kejang-kejang kesakitan. Kepalanya serasa memanas dan perih. Darahnya seakan-akan mendidih. Ia meronta-ronta, menggelepar, dan menggeliat kesakitan. Setelah cukup lama mengerang kesakitan. Ia terdiam seakan-akan sedang tertidur pulas. Tampak gigi taringnya membesar. Wajahnya pucat pasi. Matanya berubah menjadi merah gelap. Kumisnya masih tipis.

“Uaaghh!” Rey seraya mundur cukup jauh. Tangan kirinya hilang separuh. Terlihat tulang menonjol dari balik potongan daging itu. Rey terlihat kesakitan dan marah. Erick seraya meminum sebuah ramuan dari saku nya. Tiba-tiba muncul ukiran-ukiran aneh ditubuh Erick. Matanya seluruhnya hitam pekat. Taring tiba-tiba menyeruak di bibirnya. Rambutnya yang coklat mendadak berwarna putih. Rambut-rambut halus menyembul di seluruh badannya. Badannya membesar dan menggempal. Ia berubah menjadi Werefolf.

“Sial” umpat Rey seraya berlari menuju Erick yang berubah ganas itu. Serangan demi serangan pun terjadi. Ia goreskan kuku-kuku panjangnya namun tak mengenai Erick. Walau Erick berubah menjadi besar, namun kegesitannya tak berkurang. Erick menghindari dengan cepat seluruh terkaman ganas Rey. Setelah Rey lelah menyerang, Erick tiba-tiba mengoyak leher Rey dengan taring besarnya itu hingga nyaris putus. Rey mengerang lirih terlihat sekarat. Setelah puas mengoyak leher. Erick langsung memukul kepala Rey hingga putus. Darah pun dengan sukses menyembul keluar dari lehernya. Badan tanpa kepala itupun ambruk tak berdaya. Erick melolong tanda puas.

Erick pun berubah lagi seperti semula. Tampaknya ia bisa mengkontrol transformasinya yang kedua itu. Dengan wujud manusianya, ia berusaha mendekati Donovan. Walau ia tahu racun di lukanya telah menyebar.

“Jleb!” tiba-tiba terlihat pedang menonjol dari dada Erick. Sebuah terkaman tak terduga melumpuhkan Erick. Lalu goresan pedang itu menebas Erick menjadi dua bagian.

“Arrrgghh!” Erick pun tak berdaya lagi. Ia mati seketika. Terlihat sesosok pria berumur yang penuh jenggot putih di dagunya. Kumisnya pun melengkapi kerimbunan dagunya. Wajahnya sangat putih dan terlihat garang. Matanya mirip dengan mata Francisia. Ia memakai jubah hitam besar dan terlihat pedang berlumuran darah menjadi senjatanya. Ialah Daniel De Raven.

“Tidak! Francisia sayangku!” Teriak Daniel setelah melihat putrinya tergeletak tak bernyawa. Ia marah besar. Donovan yang sedari tadi pingsan akhirnya tersadarkan karena erangan kemarahan Daniel De Raven itu. Ia mendangak dengan posisi masih tertelungkup. Ia melihat tubuh Erick yang terbelah menjadi dua itu. Ia langsung bangkit penuh amarah. Donovan sudah tidak seperti dulu lagi.

“Kau ya yang membunuh anakku?! Bersiap-siaplah untuk mati!” teriak Daniel seraya menyeruak maju dengan membabi buta. Donovan yang seperti mendapatkan kekuatan itu seraya menghilang dengan cepat. Daniel pun ikut menghilang ditelan kegelapan. Terjadi percikan benda tajam di udara. Donovan memakai senjata pisau salibnya yang telah ia bawa selama ini. Walau ia tahu ia sudah menjadi makhluk terlarang. Tapi ia masih belum terkena efek salib itu selama 12 jam dari perubahannya, itu yang ia tahu. Daniel yang lebih kuat langsung mementalkan Donovan hingga menghantam tembok ruangan itu hingga retak. Ia muntah darah saat itu juga. Daniel yang tak menyia-nyiakan kesempatan itu pun langsung terbang kearah Donovan berusaha menikamnya.

Tiba-tiba Zen muncul tepat di depan Daniel. Ia tikam daniel tepat di jantungnya. “Uaghh! Sial kau...” belum sempat ia selesaikan perkataannya, Daniel tergeletak tak bernyawa. Sedangkan Donovan melihat seluruh kejadian itu dengan pandangan buram. Layaknya siluet yang saling bertubrukan. Semakin buram dan kabur. Ia pun pingsan.

***

Di sebuah ruangan di salah satu rumah sakit di New York, tampak seorang pria yang tergeletak lemas diatas kasur berwarna putih. Cairan infus menghiasi samping kirinya. Di sebelah kanan terlihat sesosok wanita yang sedikit berumur memegang tangan pria itu erat. Seakan-akan ia tidak ingin kehilangan pria itu lagi. Seolah-olah ia tak ingin dilliputi rasa cemas lagi. Sang pria itu tiba-tiba membuka matanya dan melihat wanita itu yang terlihat pucat.

“Lily? Kaukah itu?” bisik Donovan ketika melihat istrinya duduk di sampingnya dengan muka penuh cemas. Lily pun memandang Donovan dengan senyuman lega.

“Suamiku, aku sangat mencemaskanku. Aku sedari dulu mengharapkan kedatanganmu dengan keadaan sehat bugar. Bukan dengan keadaan seperti ini. Tapi aku lega kau sudah sadar Darling” ucap Lily sembari tersenyum.

“Maafkan aku Lily. Tapi aku tidak bisa berdiam diri disini lagi. Aku bukanlah aku yang dulu. Ku harap kau mengerti” jelas lirih Donovan seraya menatap tajam mata Lily. Berharap istrinya tahu akan maksud dari ucapan Donovan.

“Aku tidak mengerti apa maksudmu, Darling” jawab Lily sedikit berbisik. Ia membuang muka dengan hati yang gusar.

***

Di salah satu pemakaman kota Prostejov, terlihat sesosok pria bertaring sedang berjalan menuju kelamnya pemakaman itu. Ia menggeser salah satu makam tua di ruangan pemakaman. Tampak tulang belulang yang masih utuh dan lengkap. Kulit tipis dan kerut melapisi tengkorak itu. Pakaian adat slovakia pun terpasang di tubuh tulang itu. Pria misterius itu pun seraya mengeluarkan sebuah botol berisi cairan merah pekat. Lalu kemudian ia teteskan tepat di mulut tengkorak itu yang gigi taringnya terlihat dengan jelas. Tiba-tiba mulut tengkorak itu bergerak-gerak seperti menghisap cairan mirip darah itu. Sontak tubuh tengkorak itu membengkak. Menjadi seperti tumbuh seonggok daging diantara tulang belulang dan kulit tipis itu. Kelopak matanya pun terbuka dan mulutnya menyeringai puas. Tengkorak itu berubah menjadi sesosok pria tampan dengan muka yang sangat dingin.

“Akhirnya kau membangkitkanku Emperiano, terima kasih” ucap pria dingin itu sembari bangkit dari peti matinya. Pria yang bernama Emperiano itu pun menyeringai kejam.

“Sekarang kuasai kota ini, Lurupin. Bangkitkan semua anak-anakmu” ucap Emperiano sembari meninggalkan ruangan itu. Menghilang. Sesosok pria bernama Lurupin mengangguk pelan.

***

Keesokan paginya, Lily berjalan menuju kamar tempat Donovan dirawat. Ia langkahkan kakinya dengan pelan sembari membawakan buah apel kesenangan Donovan. Ia pun tiba di pintu kamar itu. Ia buka perlahan hingga tampak seluruh interior ruangan itu.

“Tidak! Donovan dimana kamu!” jerit Lily ketika melihat suaminya tak ada di kasur. Pintu jendela terbuka. Ia langsung berlari kearah suster yang sedari tadi berjaga. Seluruh sudut rumah sakit pun telah Lily dan suster telusuri. Namun sosok Donovan masih tidak terlihat. Ia menghilang meninggalkan sepucuk surat di kamar dimana ia dirawat.

‘Dear Lily, maafkan aku. Ada tugas yang belum terselesaikan. Aku harus pergi untuk sementara waktu. Kuharap kau mau memaafkanku. Jaga dirimu baik-baik. Donovan’

Lily pun menangis deras tatkala membaca surat itu. Di iringi oleh nyanyian burung gereja dan gumaman para suster yang mencoba menenangkan Lily.

***

Malam hari setelah menghilangnya Donovan, di salah satu kota di Slovakia, tampak dua orang sedang berjalan menuju salah satu bar di kota itu. Satu memakai masker di wajahnya. Dan satunya memiliki kumis tipis dengan taring menghiasi mulutnya. Ya. Mereka adalah Zen dan Donovan. Mereka pun seraya berjalan menuju bar yang terlihat reyot itu.

“Apa kau sudah siap Don?” tanya Zen tanpa menoleh sedikitpun. Donovan pun mengangguk seraya berlari kearah bar. Donovan yang awalnya seorang pria biasa pun sudah berubah menjadi sesosok pemburu manusia bertaring. Dengan didampingi Zen, mereka berusaha membasmi seluruh manusia bertaring di bumi ini. Dan mencari rekan-rekan yang bisa mereka percayai. Petualangan panjang Donovan dan Zen pun baru dimulai.


TAMAT

No comments:

Post a Comment