Robeth dan Donovan
telah berteman sejak mereka masih kecil. Mereka berdua berasal dari sebuah kota
bernama Southwell. Sebuah kota yang dihiasi gedung-gedung tua seperti British
Horological Institute dan Southwell Minister, yang kerap dijadikan objek wisata
oleh para turis. Dan di kota itu juga pernah terdengar mitos tentang hidupnya
manusia bertaring, namun sampai sekarang kebenarannya masih belum terungkap.
Robeth yang 3 tahun
lebih muda daripada Donovan bertemu pertama kali ketika memasuki sekolah dasar
di kota itu. Mereka bertemu lantaran hobby yang sama, yaitu membahas
kasus-kasus unik tak terpecahkan, yang sering disebut dengan x-files. Walau Robeth tidak sepintar
Donovan, tetapi ia adalah sesosok lelaki pemberani. Sedangkan Donovan, selain
jenius, ia juga mempunyai kharisma yang kuat. Walau Donovan 3 tahun lebih tua
daripada Robeth, tetapi karena tubuhnya yang pendek itu, ia sering dikerjai
oleh teman-temannya. Namun Robeth yang ketika itu lebih muda selalu membela
Donovan, walau ia tahu bahwa lawannya lebih besar darinya.
Ketika masih kecil,
Donovan sudah terpesona oleh teka-teki kasus misterius. Ia senang menyimak dan
menganalisa sendiri kasus-kasus yang ia lihat di koran. Mungkin karena pengaruh
dari ayahnya yang menjadi kepala kepolisian kota Southwell. Kecerdasannya pun
sangat terlihat tatkala Donovan selalu menjadi ranking teratas tidak hanya di
sekolahnya, bahkan di kota itu. Sayangnya, Donovan dan Robeth terpisah cukup
lama setelah kedua orangtua Donovan dibunuh oleh sindikat gelap ketika Donovan
berusia 11 tahun.
Kala itu Ayah
Donovan sedang mengusut kasus pembunuhan misterius yang terjadi di kota
Southwell. Pembunuhan yang telah memakan korban hampir 10 orang. Waktu itu, Stephen yang menemukan
bukti dan analisa yang kuat, berencana memproses sindikat itu ke pengadilan.
Namun na’as, semalam sebelum Stephen menuju ke kantor polisi, antek-antek
sindikat itu mendatangi rumah Donovan, dan membunuh semua yang ada di rumah itu
serta mengambil bukti-bukti yang ada. Ibu dan Ayah Donovan tewas mengenaskan
dengan luka gigitan di leher. Donovan yang kebetulan sedang bermain ke rumah
Robeth pun selamat dari kejadian mengerikan itu. Kasus mengerikan itu pun
terkubur dan tidak pernah terkuak hingga sekarang. Kejadian itu pun membuat
Donovan pindah ke lembaga panti asuhan dan dirawat disana.
Robeth dan Donovan
bertemu lagi beberapa puluh tahun kemudian, setelah Donovan memasuki CID.
Robeth yang mengetahui sahabatnya bekerja di CID pun akhirnya ikut bergabung
setahun setelahnya. Membuat mereka bersahabat dan berpartner lagi. Donovan yang
menjabat menjadi kepala pasukan khusus CID, dan Donovan sebagai wakilnya.
Karena analisa-analisa Donovan yang sangat akurat, ditambah keberanian Robeth
dalam pengambilan keputusan, maka mereka berdua sempat dijuluki The Great Falcons.
'Ting-tong', suara
bel menggema disetiap sudut rumah khas British berwarna coklat tua. Dibalut
dengan corak batu bata indah ditembok luar. Interiornya sungguh menawan walau
hanya dilengkapi dengan 4 ruangan saja, yakni ruang tengah, ruang tamu, kamar
mandi, dan kamar tidur. Dengan ditambah ornamen-ornamen unik dan cat berwarna
kelabu tua dan garis putih di setiap dindingnya. Terlihat kepala rusa, harimau,
singa, dan hewan-hewan buas lainnya dipajang di dinding ruang tengah.
Dihangatkan oleh perapian yang terpasang indah di sebelah televisi sederhana.
Perabotan-perabotan yang tertata rapi menambah pesona rumah minimalis itu.
Pemilik rumah itu tidak lain adalah Robeth.
“Tunggu sebentar,
aku menuju kesana” teriak Robeth berharap tamu yang sedang menunggu dapat bersabar.
'Ting-tong', balas tamu tak sabar. Terlihat butiran salju mulai menampakkan
dirinya. Cuaca di luar cukup dingin. Robeth pun seraya membuka perlahan pintu
masuk rumahnya. Tampak sesosok pria berkumis tipis menggigil kedinginan. “Hey
Robeth, kemana saja kamu? Kamu mau buat aku kedinginan diluar sini ya?” gerutu
Donovan sedikit kesal, ia sudah menunggu sedari tadi diluar. Wajahnya memerah
karena diserang dingin yang melekit. “Wah Donovan! Ternyata kamu sudah sampai!
Maafkan aku, tadi aku sedang menyiapkan dinner.
Ayo masuk!” jawab Robeth senang, sembari mengajak sahabatnya untuk
menghangatkan diri dirumah menawan itu. “Okey” Jawab Donovan singkat seraya menerobos
masuk tanpa rasa malu sedikitpun.
Segelas coklat
panas terhidang lengkap dengan camilannya. Robeth yang telah melepas sibuk dari
menyiapkan dinner itupun lalu
menghidangkan sepiring pie berbalut selai nanas kepada Donovan yang sembari
tadi menyeruput coklat panas.
“Tak kusangka kamu
secepat ini datang kerumahku. Padahal baru tadi pagi aku meneleponmu” ujar
Robeth takjub. “Iya, aku sudah tidak sabar ingin membantumu menangani kasus
misterius itu. Oiya, korban tewas kehabisan darah lantaran luka gigitan di
leher dan luka lecet ditubuhnya ya? Dan juga motifnya belum jelas dan murni
pembunuhan? Apa kamu tidak merasa ada yang ganjil Rob?” tanya Donovan
menggebu-gebu.
“Iya, semua yang
kamu katakan adalah benar. Aku juga merasa ada yang ganjil dalam kasus ini.
Pelakunya sepertinya sejenis manusia penghisap darah. Menurutmu bagaimana Don?”
jawab Robeth seraya memakan camilan. “Kau benar. Aku merasa, kasus ini ada
kaitannya dengan kasus yang tak terkuak beberapa tahun silam” ujar Donovan
dengan mimik serius. “Maksudmu Don?” tanya Robeth lagi. Pernyataan Donovan
memaksa Robeth memasang muka penuh tanya.
Di waktu
yang sama di sudut lain kota London, nampak sebuah rumah sederhana. Terlihat
gadis kecil berusia sekitar 7 tahun di balik jendela kamar rumah sederhana itu,
sedang memandangi bintang-bintang di langit. Tampak butiran salju ranum
melayang-layang di udara, menambah pesona malam itu. Tak sengaja ia melihat
seekor anjing mungil menggigil kedinginan ditengah putihnya trotoar. “Oh anjing
kecil yang malang” ujar gadis kecil bernama Nina. Karena merasa iba, ia lalu
diam-diam keluar dari rumahnya. Ia melirik dari ruang tengah. Ternyata Ibunya
sedang memasak di dapur. Sedangkan Ayahnya tertidur pulas di kamar. Nina seraya
memberanikan diri keluar rumah.
“Aaaaaaaa!
Mom Dad tolong!” Tiba tiba terdengar suara
teriakan Nina meraung-raung. Sang Ayah yang bernama Lewis sontak terbangun. Eliza,
sang Ibu yang sedang memasak di dapur pun terkejut. Mereka lalu berlari menuju
sumber suara. Ia melihat pintu masuk terbuka. Lewis seketika mengecek seisi
rumah dengan panik, namun sang anak tidak kunjung ditemukan. Eliza terisak pilu sembari mencari Nina di luar
rumah. “Nina! Nina! Dimana kamu nak!” teriak histeris sang ibu. Ia berteriak
tak berdaya, menangis sebisanya, merintih sekuatnya, namun anaknya tak kunjung
nampak. Seketika itu sang suami menyuruh Eliza masuk. “Pelankan suaramu!
Sekarang kamu masuk saja! Tutup pintunya! Aku akan menelepon polisi sekarang!
Diamlah!” Bentak Lewis terlihat panik. Ia lalu memencet tombol telepon rumahnya
bermaksud untuk menelepon polisi. “Halo pak polisi?” ujar Lewis setelah
mendengar teleponnya diangkat. ‘Blztt!’, tiba-tiba listrik mati. Sontak kedua
pasangan itu kaget. Seluruh ruangan di rumah itu menjadi gelap. Tak ada cahaya
satu pun yang nampak kecuali terangnya bintang dan bulan. “Hiks. Hiks”
terdengar suara wanita menangis. “Liz kamu masih disitu?” tanya Lewis sedikit
berbisik.
BERSAMBUNG
No comments:
Post a Comment