Friday, September 13, 2013

TARING [PART 2 - REUNI]

Robeth dan Donovan telah berteman sejak mereka masih kecil. Mereka berdua berasal dari sebuah kota bernama Southwell. Sebuah kota yang dihiasi gedung-gedung tua seperti British Horological Institute dan Southwell Minister, yang kerap dijadikan objek wisata oleh para turis. Dan di kota itu juga pernah terdengar mitos tentang hidupnya manusia bertaring, namun sampai sekarang kebenarannya masih belum terungkap. 

Robeth yang 3 tahun lebih muda daripada Donovan bertemu pertama kali ketika memasuki sekolah dasar di kota itu. Mereka bertemu lantaran hobby yang sama, yaitu membahas kasus-kasus unik tak terpecahkan, yang sering disebut dengan x-files. Walau Robeth tidak sepintar Donovan, tetapi ia adalah sesosok lelaki pemberani. Sedangkan Donovan, selain jenius, ia juga mempunyai kharisma yang kuat. Walau Donovan 3 tahun lebih tua daripada Robeth, tetapi karena tubuhnya yang pendek itu, ia sering dikerjai oleh teman-temannya. Namun Robeth yang ketika itu lebih muda selalu membela Donovan, walau ia tahu bahwa lawannya lebih besar darinya.

Ketika masih kecil, Donovan sudah terpesona oleh teka-teki kasus misterius. Ia senang menyimak dan menganalisa sendiri kasus-kasus yang ia lihat di koran. Mungkin karena pengaruh dari ayahnya yang menjadi kepala kepolisian kota Southwell. Kecerdasannya pun sangat terlihat tatkala Donovan selalu menjadi ranking teratas tidak hanya di sekolahnya, bahkan di kota itu. Sayangnya, Donovan dan Robeth terpisah cukup lama setelah kedua orangtua Donovan dibunuh oleh sindikat gelap ketika Donovan berusia 11 tahun. 

Kala itu Ayah Donovan sedang mengusut kasus pembunuhan misterius yang terjadi di kota Southwell. Pembunuhan yang telah memakan korban hampir 10 orang. Waktu itu, Stephen yang menemukan bukti dan analisa yang kuat, berencana memproses sindikat itu ke pengadilan. Namun na’as, semalam sebelum Stephen menuju ke kantor polisi, antek-antek sindikat itu mendatangi rumah Donovan, dan membunuh semua yang ada di rumah itu serta mengambil bukti-bukti yang ada. Ibu dan Ayah Donovan tewas mengenaskan dengan luka gigitan di leher. Donovan yang kebetulan sedang bermain ke rumah Robeth pun selamat dari kejadian mengerikan itu. Kasus mengerikan itu pun terkubur dan tidak pernah terkuak hingga sekarang. Kejadian itu pun membuat Donovan pindah ke lembaga panti asuhan dan dirawat disana. 

Robeth dan Donovan bertemu lagi beberapa puluh tahun kemudian, setelah Donovan memasuki CID. Robeth yang mengetahui sahabatnya bekerja di CID pun akhirnya ikut bergabung setahun setelahnya. Membuat mereka bersahabat dan berpartner lagi. Donovan yang menjabat menjadi kepala pasukan khusus CID, dan Donovan sebagai wakilnya. Karena analisa-analisa Donovan yang sangat akurat, ditambah keberanian Robeth dalam pengambilan keputusan, maka mereka berdua sempat dijuluki The Great Falcons. 

'Ting-tong', suara bel menggema disetiap sudut rumah khas British berwarna coklat tua. Dibalut dengan corak batu bata indah ditembok luar. Interiornya sungguh menawan walau hanya dilengkapi dengan 4 ruangan saja, yakni ruang tengah, ruang tamu, kamar mandi, dan kamar tidur. Dengan ditambah ornamen-ornamen unik dan cat berwarna kelabu tua dan garis putih di setiap dindingnya. Terlihat kepala rusa, harimau, singa, dan hewan-hewan buas lainnya dipajang di dinding ruang tengah. Dihangatkan oleh perapian yang terpasang indah di sebelah televisi sederhana. Perabotan-perabotan yang tertata rapi menambah pesona rumah minimalis itu. Pemilik rumah itu tidak lain adalah Robeth. 

“Tunggu sebentar, aku menuju kesana” teriak Robeth berharap tamu yang sedang menunggu dapat bersabar. 'Ting-tong', balas tamu tak sabar. Terlihat butiran salju mulai menampakkan dirinya. Cuaca di luar cukup dingin. Robeth pun seraya membuka perlahan pintu masuk rumahnya. Tampak sesosok pria berkumis tipis menggigil kedinginan. “Hey Robeth, kemana saja kamu? Kamu mau buat aku kedinginan diluar sini ya?” gerutu Donovan sedikit kesal, ia sudah menunggu sedari tadi diluar. Wajahnya memerah karena diserang dingin yang melekit. “Wah Donovan! Ternyata kamu sudah sampai! Maafkan aku, tadi aku sedang menyiapkan dinner. Ayo masuk!” jawab Robeth senang, sembari mengajak sahabatnya untuk menghangatkan diri dirumah menawan itu. “Okey” Jawab Donovan singkat seraya menerobos masuk tanpa rasa malu sedikitpun.

Segelas coklat panas terhidang lengkap dengan camilannya. Robeth yang telah melepas sibuk dari menyiapkan dinner itupun lalu menghidangkan sepiring pie berbalut selai nanas kepada Donovan yang sembari tadi menyeruput coklat panas. 

“Tak kusangka kamu secepat ini datang kerumahku. Padahal baru tadi pagi aku meneleponmu” ujar Robeth takjub. “Iya, aku sudah tidak sabar ingin membantumu menangani kasus misterius itu. Oiya, korban tewas kehabisan darah lantaran luka gigitan di leher dan luka lecet ditubuhnya ya? Dan juga motifnya belum jelas dan murni pembunuhan? Apa kamu tidak merasa ada yang ganjil Rob?” tanya Donovan menggebu-gebu.

“Iya, semua yang kamu katakan adalah benar. Aku juga merasa ada yang ganjil dalam kasus ini. Pelakunya sepertinya sejenis manusia penghisap darah. Menurutmu bagaimana Don?” jawab Robeth seraya memakan camilan. “Kau benar. Aku merasa, kasus ini ada kaitannya dengan kasus yang tak terkuak beberapa tahun silam” ujar Donovan dengan mimik serius. “Maksudmu Don?” tanya Robeth lagi. Pernyataan Donovan memaksa Robeth memasang muka penuh tanya.

Di waktu yang sama di sudut lain kota London, nampak sebuah rumah sederhana. Terlihat gadis kecil berusia sekitar 7 tahun di balik jendela kamar rumah sederhana itu, sedang memandangi bintang-bintang di langit. Tampak butiran salju ranum melayang-layang di udara, menambah pesona malam itu. Tak sengaja ia melihat seekor anjing mungil menggigil kedinginan ditengah putihnya trotoar. “Oh anjing kecil yang malang” ujar gadis kecil bernama Nina. Karena merasa iba, ia lalu diam-diam keluar dari rumahnya. Ia melirik dari ruang tengah. Ternyata Ibunya sedang memasak di dapur. Sedangkan Ayahnya tertidur pulas di kamar. Nina seraya memberanikan diri keluar rumah.

“Aaaaaaaa! Mom Dad tolong!” Tiba tiba terdengar suara teriakan Nina meraung-raung. Sang Ayah yang bernama Lewis sontak terbangun. Eliza, sang Ibu yang sedang memasak di dapur pun terkejut. Mereka lalu berlari menuju sumber suara. Ia melihat pintu masuk terbuka. Lewis seketika mengecek seisi rumah dengan panik, namun sang anak tidak kunjung ditemukan. Eliza  terisak pilu sembari mencari Nina di luar rumah. “Nina! Nina! Dimana kamu nak!” teriak histeris sang ibu. Ia berteriak tak berdaya, menangis sebisanya, merintih sekuatnya, namun anaknya tak kunjung nampak. Seketika itu sang suami menyuruh Eliza masuk. “Pelankan suaramu! Sekarang kamu masuk saja! Tutup pintunya! Aku akan menelepon polisi sekarang! Diamlah!” Bentak Lewis terlihat panik. Ia lalu memencet tombol telepon rumahnya bermaksud untuk menelepon polisi. “Halo pak polisi?” ujar Lewis setelah mendengar teleponnya diangkat. ‘Blztt!’, tiba-tiba listrik mati. Sontak kedua pasangan itu kaget. Seluruh ruangan di rumah itu menjadi gelap. Tak ada cahaya satu pun yang nampak kecuali terangnya bintang dan bulan. “Hiks. Hiks” terdengar suara wanita menangis. “Liz kamu masih disitu?” tanya Lewis sedikit berbisik.

BERSAMBUNG

No comments:

Post a Comment