SUASANA malam kala itu sangat mencekam. Pepohonan tampak
seperti monster berbadan kekar. Dibalut dengan dedaunan yang terlihat gelap
mendayu-dayu, membuat monster itu tampak nyata. Hawa dingin menyelimuti kota London,
terlihat beberapa gang tua menjorok diantara jalan besar. Penerangan yang
sangat remang membuat gang-gang tua itu telihat kelam dan suram. Semakin
mencekam setelah terjadi teror pembunuhan berantai misterius di salah satu gang
sempit bernama Whitechaple. Kejadian pembunuhan yang menggemparkan warga kota London,
membuat hampir seluruh penduduk kota itu takut untuk keluar di malam hari. Kota
London adalah salah satu kota tertua di belahan bumi bagian barat.
Sungai-sungai jernih mengalir di pinggir jalanan kota tua itu. Dibalut dengan
jembatan besar berwarna biru tua yang dilengkapi dengan ornamen-ornamen tua,
menambah pesona keindahan kota London. Sayangnya, teror pembunuhan itu
menghempaskan semua pesona. Merenggut denyut nadi kota tua itu.
Kala itu, di sudut trotoar terlihat wanita belia berparas
cantik berjalan pelan melewati heningnya malam. Wanita berkulit kuning langsat itu
memakai gaun merah, sepatu hak tinggi, dan rambut coklat panjang yang tergerai
indah sepanjang pinggang. Pesona kosmetik tersebar di seluruh bagian tubuhnya.
Wanita itu bernama Vionna. Beberapa waktu lalu, ia menghadiri pesta pernikahan
sahabatnya, dan berniat pulang berjalan kaki, sembari menikmati hitamnya malam.
Ia tidak menghiraukan desas-desus pembunuhan berantai itu. Karena ia tidak bisa
menahan ego-nya untuk menikmati pesona London. Namun Ia menyadari, hawa dingin
dan sesosok monster berwujud pohon menghiasi setiap sudut jalan itu.
Seakan-akan takut diserang monster yang selalu terdiam, ditambah hawa dingin
yang merasuk hingga ke rusuknya, maka ia pun berjalan semakin cepat. Semakin
cepat tatkala ia melihat sesosok lelaki berwajah putih pucat berjalan di
seberang jalan.
Lelaki itu memakai topi bowler
berwarna hitam yang menutupi hampir separuh wajahnya. Setelan jas berwarna hitam
dan sarung tangan hitam melekat erat. Dilengkapi dengan celana kain hitam
bermerek dan dress-shoes hitam yang
terpasang rapi di kakinya. Terlihat lelaki itu berjalan mendekati wanita belia
berparas cantik yang sembari tadi digoda oleh genitnya malam. Vionna dikejutkan
oleh senyuman ganas pria misterius itu yang menampakkan sedikit gigi taringnya.
Wajahnya sudah sedikit terlihat walau terhalang bayang-bayang pohon tua di
sekitar trotoar. Matanya berwarna merah tua. Tampak goresan luka menghias pipi
kanan pria itu. Senyuman ganas itu pun terlihat sangat nyata. Vionna yang
menyadari ‘bahaya’ itu seraya berjalan memutar berusaha menghindar. Tiba-tiba
lelaki itu berlari ke arah wanita malang itu. Vionna yang terkejut lantas
berlari menjauhinya. Ia berteriak sekencang-kencangnya. Sepatu hak tingginya
pun tanggal. Lantas ia jinjing rok terusannya agar bisa berlari lebih cepat.
Namun apa daya, lelaki itu berlari sangat cepat dan ganas, terdengar tawanya
yang mengerikan, taringnya semakin tampak. Vionna berteriak meminta tolong, tetapi
tak ada seorangpun terlihat. Lelaki itu berlari semakin dekat dan dekat.
Seketika badan lelaki pucat itu mendekap Vionna dari belakang. “tidak! Lepaskan
aku!” teriak Vionna histeris, air mata mengalir dari kedua bola matanya. Tubuh
halus itu dibekap sangat kasar. Sangat keras dan erat. Membuat Vionna tidak
bisa bergerak. Walau mencoba untuk melawan,
meronta, serta berteriak sekeras-kerasnya, percuma.
Lelaki ganas itu menyeret Vionna kearah Whitechaple, salah
satu gang sempit tak bertuan. Vionna hanya bisa memberontak sebisanya. Tetapi
perlawanan Vionna tidaklah berarti. Mereka berdua pun berada diantara gelapnya
gang mencekam itu. Vionna terlihat tak berdaya. Kosmetiknya luntur lantaran keringat
dan peluh air mata. Gaun merahnya lusuh dan robek. Kakinya pun tak beralaskan
lagi.
Setelah puas menyeret Vionna kedalam gelapnya Whitechaple, taring
tajam pria itu langsung menerobos disela-sela leher Vionna. Daging segar
terkoyak perlahan. Darah segar yang mengalir pun diteguknya, tak sedikit pula
yang tercecer di leher jenjang Vionna. Lelaki itu terus menghisap hingga
mukanya yang pucat menjadi segar kembali. Sebaliknya, wajah Vionna menjadi
pucat pasi. Isak tangis berubah menjadi teriakan kesakitan. Pandangannya menjadi
buram dan samar. Suaranya yang serak karena lelah pun perlahan padam. Mulutnya
yang menganga karena melepas perih itupun perlahan menutup. Jantungnya yang awalnya
berdegup kencang itupun sontak berhenti. Pohon besar yang terlihat seperti
monster seolah-olah tertawa. Sekali lagi, gang Whitechaple menjadi saksi bisu
kejadian tragis itu.
Pagi hari setelah kejadian mengerikan itu, gang Whitechaple
terlihat ramai. Tampak pasukan kepolisian khusus criminal-investigation-department (CID) mengisolasi tempat kejadian
perkara. CID adalah salah satu departemen di kepolisian London yang khusus menginvestigasi
kasus-kasus kriminal, baik itu pencurian, pembunuhan, dan lainnya. Pakaian
mereka pun berbeda dengan kepolisian lainnya. Pasukan khusus CID memakai seragam
berwarna biru tua. Dilengkapi dengan rompi anti peluru berwarna hitam dan sarung
tangan biru muda, serta lencana bertuliskan CID. Terlihat lambang CID
terpampang indah di sisi kiri baju. Celana kain pun seragam dengan bajunya.
Mereka pun terlihat gagah memblokade lokasi kejadian.
“Lapor Pak, wanita dengan
luka gigitan pada leher ini diduga tewas karena kehabisan darah. Korban ditemukan
dalam keadaan telungkup. Bajunya kotor dan robek. Sepatu hak tinggi nya
ditemukan terpisah dari tempat kejadian. Diperkirakan korban tewas pada pukul
00.00 dini hari tadi Pak, karena Suhu tubuh korban mencapai 29 derajat. Selain
luka gigitan, dan lecet-lecet pada tubuhnya, tidak ditemukan lagi luka pada
korban. Sidik jari pelaku pada tubuh korban juga tidak ditemukan. Dan
bukti-bukti yang ditemukan di tempat kejadian juga sangat sedikit” Lapor salah
satu tim forensik kepada kepala pasukan khusus CID. “Jika dilihat dari bekas
luka itu, dan cara korban mati, terlihat wanita itu dipaksa memasuki gang Whitechaple.
Terlihat dari bekas lecet disekitar kaki, dan letak sepatu dan letak tubuh
korban ketika ditemukan, cukup berjauhan. Tapi bukti yang mengarah ke pelaku sangat sedikit. Dan tidak ditemukan sama
sekali sidik jari pelaku. Pasti pelakunya sangat profesional, dan bukan manusia
biasa.” Duga kepala pasukan khusus CID, Robeth namanya. “Benar juga pak. Tapi kejadian
Ini sudah terulang sebanyak lima kali pak, dan ini adalah korban yang ke enam. Apakah
kita harus menunggu korban yang ke tujuh baru bertindak cepat?” protes partner
sekaligus wakil kepala pasukan khusus CID, bernama Rodriguez. “Aku mempunyai kenalan,
namanya Donovan. Ia adalah mantan kepala pasukan khusus CID. Dan sudah pensiun
sekitar 1 tahun yang lalu. Ia sangat lihai menyelidiki kasus-kasus rumit dan
tidak normal seperti ini, kita bisa meminta pertolongannya” ujar Robeth seraya
mengeluarkan handphone-nya.
Di waktu yang sama, di belahan kota yang berbeda. Nampak
sepasang suami-istri sedang asyik memutari setiap sudut toko dealer mobil mewah
di kota New York. “Kamu yakin dengan keputusanmu darling? Lebih baik kamu pikir
sekali lagi deh, kamu khan tidak pandai menyetir” ujar wanita yang terlihat
cantik dan menawan, bernama Lily. Wajahnya kurus langsing. Pakaiannya yang
memadukan beberapa warna cerah itu terlihat serasi. Kulitnya berwarna putih
seperti orang barat pada umumnya. Rambut hitamnya tergerai sebatas pundak.
Wajahnya sayu dan ramah. Ia terlihat selalu tersenyum dimanapun ia berada. “Yakin
dong darling, walau kemampuan menyetirku sangat meragukan, tapi aku harus
mempelajarinya. Khan repot kalau kemana-mana disopiri terus” jawab pria
berkumis tipis, Donovan namanya. “Lagipula, kalau menyetir mobil saja aku tidak
bisa, bagaimana aku bisa menjadi seorang kepala keluarga yang baik?” tambah
Donovan sembari berkeliling mencari mobil yang ia rasa cocok. Lily yang sembari
tadi cemas menjadi sedikit berkurang dengan perkataan Donovan yang terkesan bijaksana.
Donovan adalah mantan kepala pasukan khusus CID yang memutuskan pensiun karena
bermaksud menikahi Lily. Ia berpostur tegap dan sedikit pendek. Terlihat kumis
tipis menghiasi parasnya. Kacamata bulat pun membalut indah dimatanya. Dengan
dipadu oleh kaos santai berwarna putih bertuliskan ‘I am the Champ’ dan celana pendek berkain jeans. Serta sepatu
santai berwarna coklat. Rambutnya yang berwarna coklat itu selalu tertata rapi
layaknya seorang kutu-buku pada umumnya. Tapi Donovan bukanlah sekedar
kutu-buku biasa, tetapi sesosok kutu-buku yang tampan dan jenius.
Tiba-tiba handphone Donovan berdering, membuyarkan konsentrasinya.
“siapa ini pagi-pagi sudah telepon. Oh Robeth ternyata” ujar Donovan
seraya mengangkat handphone-nya. “Hallo Robeth!”
ujar Donovan senang campur kangen karena sudah lama tidak bertemu sahabatnya. “Hallo Donovan, lama tidak bertemu! apa kabar?” tanya
Robeth bermaksud basa-basi. “Iya lama
kita tidak bertemu, sobat! Kabarku Sehat. Kalau kamu?” ujar Donovan seraya
tersenyum, ia lalu menjauhi Lily dan duduk di kursi yang disediakan dealer
mobil. “Aku sekarang agak pusing Don.
Karena aku sedang menangani kasus yang sangat membingungkan” keluh Robeth
sembari menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan kota London. “Membingungkan? Kasus seperti apa yang membuatmu
kebingungan?” tanya Donovan heran. Lalu
Robeth menceritakan semua kronologi kasus mengerikan itu. Setelah Robeth puas
menceritakan dan mencurahkan isi hatinya, Donovan terdiam sejenak.
“Jadi,
apa kamu pernah mendengar, uhm..” tambah Robeth sedikit ragu. “manusia yang
senang menghisap darah?” tanya nya sembari membaca laporan hasil forensik serta
bersandar di punggung mobil dinasnya. Donovan
yang mendengar seluruh cerita Robeth sontak menggebu-gebu. Apalagi setelah
mendengar tentang manusia penghisap darah. Seakan-akan ada letupan gairah yang
membuatnya sangat bersemangat. Bahkan semangatnya melampaui usianya sendiri.
“Jangan-jangan
kau belum menemukan bukti-bukti seperti secuil kuku pelaku, ataupun rambut
halus yang diduga milik pelaku? Sebenarnya aku mencium bahaya yang sangat besar
bersarang dalam kasus ini. Tapi tenang saja, aku pasti akan membantumu, okey?”
kata Donovan sembari beranjak dari kursi.
“Sebenarnya
belum, sepertinya pelakunya sangat cerdik. Okey thanks Don. Kau memang sahabat
terbaikku” ujar Robeth tersenyum lega karena sesosok sahabat yang ia anggap
jenius berkenan membantu investigasinya.
“Iya,
sama-sama. Aku juga senang membantumu. Ya sudah, aku tutup dulu ya teleponnya.
Sudah ditunggu Lily. Nanti aku kabari kalau sudah berada di London. See ya” kata Donovan sembari menuju
kearah istrinya, Lily.
“Iya
Don, kutunggu kau dirumahku ya. See ya”
balas Robeth sembari menutup handphone mini-nya itu.
Lily
yang sembari tadi menunggu suaminya, tersenyum hangat ketika melihat Donovan
mendekat. Dengan pandangan penuh selidik, Lily bertanya penasaran, “Kenapa tadi
Robeth meneleponmu darling?”
“Robeth
sekarang sedang membutuhkan bantuanku darling, kelihatannya aku harus pergi ke
London. Urusan membeli mobil kita tunda dulu saja ya?” pinta Donovan sembari
menatap Lily dengan pandangan yang khas. Ia tahu bahwa istrinya tidak suka jika
ia menangani kasus yang bukan miliknya.
Lily
yang tak rela suaminya pergi pun menarik napas panjang-panjang seraya membuang
muka. Mimik parasnya menyiratkan
kekesalan, seakan-akan menahan sakit tak tertahankan. “Oh dear, tak bisakah kita
menikmati masa tua kita dengan tenang?” getir Lily, matanya menyiratkan
kekecewaan.
Donovan
terdiam sejenak. Ia masukkan tangannya ke saku celana seraya bersandar di
dinding. “Seorang sahabat sedang membutuhkan bantuanku sekarang. Sangat
membutuhkanku. Dan aku harus membantunya” gumam Donovan dengan nada menekan.
“Okey
kalau kamu memaksa” ujar Lily agak cemberut, ia tidak rela suaminya direbut
oleh kesibukan. Donovan tersenyum lega. “Aku pasti akan pulang, tenang saja
sayang” kata donovan meyakinkan, ia tersenyum lembut. Raut cemberut Lily pun
sekejap hilang. Mereka berdua lalu meninggalkan tempat dealer tanpa membeli
apapun.
Di lain sisi, Robeth yang lega karena sahabatnya mau membantu, langsung menyetir mobil dinasnya menuju rumah sakit tempat korban di autopsi. Robeth adalah seorang pria berusia 34 tahun dan masih lajang. Kesibukannya di CID membuatnya tidak sempat mencari sesosok kekasih. Karena ia juga seorang workaholic. Robeth berbadan kurus dan tinggi. Kulitnya berwarna putih cerah. Rambutnya pirang acak-acakan. Terlihat pula rambut kasar disekitar dagu. Robeth sedikit curiga dengan tanda-tanda kematian korban yang aneh, yakni kehabisan darah. Sedangkan motif pembunuhan bukanlah karena perampokan, namun murni pembunuhan. Terlihat dari perhiasan dan uang korban yang tidak diambil oleh pelaku.
"Siapa yang berani melakukan pembunuhan berantai ini?" gumam Robeth geram campur penasaran.
BERSAMBUNG

No comments:
Post a Comment