Friday, September 13, 2013

TARING [PART 1 - KELAM]


SUASANA malam kala itu sangat mencekam. Pepohonan tampak seperti monster berbadan kekar. Dibalut dengan dedaunan yang terlihat gelap mendayu-dayu, membuat monster itu tampak nyata. Hawa dingin menyelimuti kota London, terlihat beberapa gang tua menjorok diantara jalan besar. Penerangan yang sangat remang membuat gang-gang tua itu telihat kelam dan suram. Semakin mencekam setelah terjadi teror pembunuhan berantai misterius di salah satu gang sempit bernama Whitechaple. Kejadian pembunuhan yang menggemparkan warga kota London, membuat hampir seluruh penduduk kota itu takut untuk keluar di malam hari. Kota London adalah salah satu kota tertua di belahan bumi bagian barat. Sungai-sungai jernih mengalir di pinggir jalanan kota tua itu. Dibalut dengan jembatan besar berwarna biru tua yang dilengkapi dengan ornamen-ornamen tua, menambah pesona keindahan kota London. Sayangnya, teror pembunuhan itu menghempaskan semua pesona. Merenggut denyut nadi kota tua itu.

Kala itu, di sudut trotoar terlihat wanita belia berparas cantik berjalan pelan melewati heningnya malam. Wanita berkulit kuning langsat itu memakai gaun merah, sepatu hak tinggi, dan rambut coklat panjang yang tergerai indah sepanjang pinggang. Pesona kosmetik tersebar di seluruh bagian tubuhnya. Wanita itu bernama Vionna. Beberapa waktu lalu, ia menghadiri pesta pernikahan sahabatnya, dan berniat pulang berjalan kaki, sembari menikmati hitamnya malam. Ia tidak menghiraukan desas-desus pembunuhan berantai itu. Karena ia tidak bisa menahan ego-nya untuk menikmati pesona London. Namun Ia menyadari, hawa dingin dan sesosok monster berwujud pohon menghiasi setiap sudut jalan itu. Seakan-akan takut diserang monster yang selalu terdiam, ditambah hawa dingin yang merasuk hingga ke rusuknya, maka ia pun berjalan semakin cepat. Semakin cepat tatkala ia melihat sesosok lelaki berwajah putih pucat berjalan di seberang jalan.

Lelaki itu memakai topi bowler berwarna hitam yang menutupi hampir separuh wajahnya. Setelan jas berwarna hitam dan sarung tangan hitam melekat erat. Dilengkapi dengan celana kain hitam bermerek dan dress-shoes hitam yang terpasang rapi di kakinya. Terlihat lelaki itu berjalan mendekati wanita belia berparas cantik yang sembari tadi digoda oleh genitnya malam. Vionna dikejutkan oleh senyuman ganas pria misterius itu yang menampakkan sedikit gigi taringnya. Wajahnya sudah sedikit terlihat walau terhalang bayang-bayang pohon tua di sekitar trotoar. Matanya berwarna merah tua. Tampak goresan luka menghias pipi kanan pria itu. Senyuman ganas itu pun terlihat sangat nyata. Vionna yang menyadari ‘bahaya’ itu seraya berjalan memutar berusaha menghindar. Tiba-tiba lelaki itu berlari ke arah wanita malang itu. Vionna yang terkejut lantas berlari menjauhinya. Ia berteriak sekencang-kencangnya. Sepatu hak tingginya pun tanggal. Lantas ia jinjing rok terusannya agar bisa berlari lebih cepat. Namun apa daya, lelaki itu berlari sangat cepat dan ganas, terdengar tawanya yang mengerikan, taringnya semakin tampak. Vionna berteriak meminta tolong, tetapi tak ada seorangpun terlihat. Lelaki itu berlari semakin dekat dan dekat. Seketika badan lelaki pucat itu mendekap Vionna dari belakang. “tidak! Lepaskan aku!” teriak Vionna histeris, air mata mengalir dari kedua bola matanya. Tubuh halus itu dibekap sangat kasar. Sangat keras dan erat. Membuat Vionna tidak bisa bergerak. Walau mencoba untuk melawan,  meronta, serta berteriak sekeras-kerasnya, percuma.

Lelaki ganas itu menyeret Vionna kearah Whitechaple, salah satu gang sempit tak bertuan. Vionna hanya bisa memberontak sebisanya. Tetapi perlawanan Vionna tidaklah berarti. Mereka berdua pun berada diantara gelapnya gang mencekam itu. Vionna terlihat tak berdaya. Kosmetiknya luntur lantaran keringat dan peluh air mata. Gaun merahnya lusuh dan robek. Kakinya pun tak beralaskan lagi.

Setelah puas menyeret Vionna kedalam gelapnya Whitechaple, taring tajam pria itu langsung menerobos disela-sela leher Vionna. Daging segar terkoyak perlahan. Darah segar yang mengalir pun diteguknya, tak sedikit pula yang tercecer di leher jenjang Vionna. Lelaki itu terus menghisap hingga mukanya yang pucat menjadi segar kembali. Sebaliknya, wajah Vionna menjadi pucat pasi. Isak tangis berubah menjadi teriakan kesakitan. Pandangannya menjadi buram dan samar. Suaranya yang serak karena lelah pun perlahan padam. Mulutnya yang menganga karena melepas perih itupun perlahan menutup. Jantungnya yang awalnya berdegup kencang itupun sontak berhenti. Pohon besar yang terlihat seperti monster seolah-olah tertawa. Sekali lagi, gang Whitechaple menjadi saksi bisu kejadian tragis itu.

Pagi hari setelah kejadian mengerikan itu, gang Whitechaple terlihat ramai. Tampak pasukan kepolisian khusus criminal-investigation-department (CID) mengisolasi tempat kejadian perkara. CID adalah salah satu departemen di kepolisian London yang khusus menginvestigasi kasus-kasus kriminal, baik itu pencurian, pembunuhan, dan lainnya. Pakaian mereka pun berbeda dengan kepolisian lainnya. Pasukan khusus CID memakai seragam berwarna biru tua. Dilengkapi dengan rompi anti peluru berwarna hitam dan sarung tangan biru muda, serta lencana bertuliskan CID. Terlihat lambang CID terpampang indah di sisi kiri baju. Celana kain pun seragam dengan bajunya. Mereka pun terlihat gagah memblokade lokasi kejadian.

“Lapor Pak, wanita dengan luka gigitan pada leher ini diduga tewas karena kehabisan darah. Korban ditemukan dalam keadaan telungkup. Bajunya kotor dan robek. Sepatu hak tinggi nya ditemukan terpisah dari tempat kejadian. Diperkirakan korban tewas pada pukul 00.00 dini hari tadi Pak, karena Suhu tubuh korban mencapai 29 derajat. Selain luka gigitan, dan lecet-lecet pada tubuhnya, tidak ditemukan lagi luka pada korban. Sidik jari pelaku pada tubuh korban juga tidak ditemukan. Dan bukti-bukti yang ditemukan di tempat kejadian juga sangat sedikit” Lapor salah satu tim forensik kepada kepala pasukan khusus CID. “Jika dilihat dari bekas luka itu, dan cara korban mati, terlihat wanita itu dipaksa memasuki gang Whitechaple. Terlihat dari bekas lecet disekitar kaki, dan letak sepatu dan letak tubuh korban ketika ditemukan, cukup berjauhan. Tapi bukti yang mengarah ke pelaku  sangat sedikit. Dan tidak ditemukan sama sekali sidik jari pelaku. Pasti pelakunya sangat profesional, dan bukan manusia biasa.” Duga kepala pasukan khusus CID, Robeth namanya. “Benar juga pak. Tapi kejadian Ini sudah terulang sebanyak lima kali pak, dan ini adalah korban yang ke enam. Apakah kita harus menunggu korban yang ke tujuh baru bertindak cepat?” protes partner sekaligus wakil kepala pasukan khusus CID, bernama Rodriguez. “Aku mempunyai kenalan, namanya Donovan. Ia adalah mantan kepala pasukan khusus CID. Dan sudah pensiun sekitar 1 tahun yang lalu. Ia sangat lihai menyelidiki kasus-kasus rumit dan tidak normal seperti ini, kita bisa meminta pertolongannya” ujar Robeth seraya mengeluarkan handphone-nya.

Di waktu yang sama, di belahan kota yang berbeda. Nampak sepasang suami-istri sedang asyik memutari setiap sudut toko dealer mobil mewah di kota New York. “Kamu yakin dengan keputusanmu darling? Lebih baik kamu pikir sekali lagi deh, kamu khan tidak pandai menyetir” ujar wanita yang terlihat cantik dan menawan, bernama Lily. Wajahnya kurus langsing. Pakaiannya yang memadukan beberapa warna cerah itu terlihat serasi. Kulitnya berwarna putih seperti orang barat pada umumnya. Rambut hitamnya tergerai sebatas pundak. Wajahnya sayu dan ramah. Ia terlihat selalu tersenyum dimanapun ia berada. “Yakin dong darling, walau kemampuan menyetirku sangat meragukan, tapi aku harus mempelajarinya. Khan repot kalau kemana-mana disopiri terus” jawab pria berkumis tipis, Donovan namanya. “Lagipula, kalau menyetir mobil saja aku tidak bisa, bagaimana aku bisa menjadi seorang kepala keluarga yang baik?” tambah Donovan sembari berkeliling mencari mobil yang ia rasa cocok. Lily yang sembari tadi cemas menjadi sedikit berkurang dengan perkataan Donovan yang terkesan bijaksana. Donovan adalah mantan kepala pasukan khusus CID yang memutuskan pensiun karena bermaksud menikahi Lily. Ia berpostur tegap dan sedikit pendek. Terlihat kumis tipis menghiasi parasnya. Kacamata bulat pun membalut indah dimatanya. Dengan dipadu oleh kaos santai berwarna putih bertuliskan ‘I am the Champ’ dan celana pendek berkain jeans. Serta sepatu santai berwarna coklat. Rambutnya yang berwarna coklat itu selalu tertata rapi layaknya seorang kutu-buku pada umumnya. Tapi Donovan bukanlah sekedar kutu-buku biasa, tetapi sesosok kutu-buku yang tampan dan jenius.

Tiba-tiba handphone Donovan berdering, membuyarkan konsentrasinya. “siapa ini pagi-pagi sudah telepon.  Oh Robeth ternyata” ujar Donovan seraya mengangkat handphone-nya. “Hallo Robeth!” ujar Donovan senang campur kangen karena sudah lama tidak bertemu sahabatnya. “Hallo Donovan, lama tidak bertemu! apa kabar?” tanya Robeth bermaksud basa-basi. “Iya lama kita tidak bertemu, sobat! Kabarku Sehat. Kalau kamu?” ujar Donovan seraya tersenyum, ia lalu menjauhi Lily dan duduk di kursi yang disediakan dealer mobil. “Aku sekarang agak pusing Don. Karena aku sedang menangani kasus yang sangat membingungkan” keluh Robeth sembari menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan kota London. “Membingungkan? Kasus seperti apa yang membuatmu kebingungan?” tanya Donovan heran. Lalu Robeth menceritakan semua kronologi kasus mengerikan itu. Setelah Robeth puas menceritakan dan mencurahkan isi hatinya, Donovan terdiam sejenak.

“Jadi, apa kamu pernah mendengar, uhm..” tambah Robeth sedikit ragu. “manusia yang senang menghisap darah?” tanya nya sembari membaca laporan hasil forensik serta bersandar di punggung mobil dinasnya. Donovan yang mendengar seluruh cerita Robeth sontak menggebu-gebu. Apalagi setelah mendengar tentang manusia penghisap darah. Seakan-akan ada letupan gairah yang membuatnya sangat bersemangat. Bahkan semangatnya melampaui usianya sendiri.

“Jangan-jangan kau belum menemukan bukti-bukti seperti secuil kuku pelaku, ataupun rambut halus yang diduga milik pelaku? Sebenarnya aku mencium bahaya yang sangat besar bersarang dalam kasus ini. Tapi tenang saja, aku pasti akan membantumu, okey?” kata Donovan sembari beranjak dari kursi.

“Sebenarnya belum, sepertinya pelakunya sangat cerdik. Okey thanks Don. Kau memang sahabat terbaikku” ujar Robeth tersenyum lega karena sesosok sahabat yang ia anggap jenius berkenan membantu investigasinya.

“Iya, sama-sama. Aku juga senang membantumu. Ya sudah, aku tutup dulu ya teleponnya. Sudah ditunggu Lily. Nanti aku kabari kalau sudah berada di London. See ya” kata Donovan sembari menuju kearah istrinya, Lily.

“Iya Don, kutunggu kau dirumahku ya. See ya” balas Robeth sembari menutup handphone mini-nya itu. 

Lily yang sembari tadi menunggu suaminya, tersenyum hangat ketika melihat Donovan mendekat. Dengan pandangan penuh selidik, Lily bertanya penasaran, “Kenapa tadi Robeth meneleponmu darling?”

“Robeth sekarang sedang membutuhkan bantuanku darling, kelihatannya aku harus pergi ke London. Urusan membeli mobil kita tunda dulu saja ya?” pinta Donovan sembari menatap Lily dengan pandangan yang khas. Ia tahu bahwa istrinya tidak suka jika ia menangani kasus yang bukan miliknya. 

Lily yang tak rela suaminya pergi pun menarik napas panjang-panjang seraya membuang muka. Mimik parasnya  menyiratkan kekesalan, seakan-akan menahan sakit tak tertahankan. “Oh dear, tak bisakah kita menikmati masa tua kita dengan tenang?” getir Lily, matanya menyiratkan kekecewaan.

Donovan terdiam sejenak. Ia masukkan tangannya ke saku celana seraya bersandar di dinding. “Seorang sahabat sedang membutuhkan bantuanku sekarang. Sangat membutuhkanku. Dan aku harus membantunya” gumam Donovan dengan nada menekan. 

“Okey kalau kamu memaksa” ujar Lily agak cemberut, ia tidak rela suaminya direbut oleh kesibukan. Donovan tersenyum lega. “Aku pasti akan pulang, tenang saja sayang” kata donovan meyakinkan, ia tersenyum lembut. Raut cemberut Lily pun sekejap hilang. Mereka berdua lalu meninggalkan tempat dealer tanpa membeli apapun.

Di lain sisi, Robeth yang lega karena sahabatnya mau membantu, langsung menyetir mobil dinasnya menuju rumah sakit tempat korban di autopsi. Robeth adalah seorang pria berusia 34 tahun dan masih lajang. Kesibukannya di CID membuatnya tidak sempat mencari sesosok kekasih. Karena ia juga seorang workaholic. Robeth berbadan kurus dan tinggi. Kulitnya berwarna putih cerah. Rambutnya pirang acak-acakan. Terlihat pula rambut kasar disekitar dagu. Robeth sedikit curiga dengan tanda-tanda kematian korban yang aneh, yakni kehabisan darah. Sedangkan motif pembunuhan bukanlah karena perampokan, namun murni pembunuhan. Terlihat dari perhiasan dan uang korban yang tidak diambil oleh pelaku.

"Siapa yang berani melakukan pembunuhan berantai ini?" gumam Robeth geram campur penasaran.


BERSAMBUNG

No comments:

Post a Comment