Saturday, September 14, 2013

TARING [PART 11 - KLIMAKS]

Asa pun memupus. Harapan mengabur. Cahaya mulai memudar. Degupan jantung Zen pun tak terdengar lagi. Suasana menjadi hening seketika.

“Aku tidak menyangka seorang Dhampire kuat seperti Zen bisa tewas disini” gumam Donovan seakan-akan meratapi nasibnya yang telah diujung tanduk.

“Ia tidak mati” ucap Erick setelah mengamati cukup lama tubuh Zen. “Hanya tubuhnya berhenti bekerja sementara untuk mengeluarkan cairan sejenis antibiotik agar melawan racun didalam tubuhnya. Dhampire tidak akan mati semudah itu. Lebih baik kita lanjutkan perburuan  ini” jelas Erick seraya menegapkan badannya dan melangkah pelan menuju pintu reyot itu. Donovan pun berseri kembali dan mengikuti Erick dari belakang.

Pintu itu menganga sedikit. Menampakkan gelap yang merekah dibalik sisi pintu tua itu. Seolah-olah menantikan mangsa untuk ditelannya. Mereka berdua pun perlahan membuka pintu itu. “Arrrrgghh!!” Sekali lagi bayangan hitam pekat menarik mereka berdua hingga terseret kedalam suatu ruangan dimana Zen tertikam.

“Sial! Dimana ini?” umpat Donovan pelan. Erick langsung mengeluarkan batu berwarna jingga yang serupa dengan batu yang pernah ia pakai sebelumnya. Ia lempar batu itu kedalam gelapnya ruangan. Seketika itu pula kilatan-kilatan cahaya terpercik tatkala batu itu terpental. Dan semakin terang ketika batu itu tak bergerak lagi. Dengan mata setengah terbuka, mereka amati ruangan itu. Terlihat tumpukan mayat-mayat yang terlihat pucat dengan bekas gigitan di lehernya. Terlihat pula mayat seorang gadis kecil, seorang wanita, dan seorang pria tergeletak di tumpukan paling atas. Bau busuk yang menyeruak dari tumpukan itu seakan-akan mengaduk-aduk perut Donovan dan Erick. Tampak juga dua pria bertaring dan seorang wanita berdiri tepat di hadapan Donovan dan Erick. Ya. Mereka adalah Wend. Rey, dan Francisia.

Tiba-tiba, mata Donovan terbelalak tatkala ia melihat salah satu mayat di tumpukan teratas. “Tidak! Bukankah itu Robeth! Tidak!!” jeritan dan rintihan Donovan menghebat dikala ia melihat sahabatnya tergeletak tak bernyawa. Erick berusaha menenangkan Donovan yang tiba-tiba tertunduk seakan-akan rohnya hilang dari tubuhnya. Terdiam tak bergerak.

“Tak kusangka masih saja ada manusia yang nekad masuk kesini” ejek Wend seraya mendekati mereka berdua. Erick langsung berubah wujud menjadi kucing hitam dan melesat cepat ke belakang Wend. Terlihat di mulut mungil Erick seutas benang biru yang terurai panjang. Ia kelilingi dengan cepat kaki Wend yang terlihat besar.

“Awas Wend!” teriak Rey, tapi peringatan itu tidak ada artinya. Tiba-tiba saja, seutas benang itu berubah menjadi lilitan api yang membakar hebat tubuh gemuk Wend.

“Arrgghh!” erangan kesakitan Wend ketika api berwarna biru gelap itu mengikis tubuhnya. Sontak tubuhnya ambruk tak bernyawa. Francisia hanya terdiam saja. Donovan masih terdiam meringkik tak bergerak.

“Haha, kau hebat juga kucing!” puji Rey setengah menghina. Erick langsung berlari dengan cepat kearah Rey dengan wujud kucingnya berharap bisa memakai teknik yang sama. Namun Rey yang bisa melihat benda yang bergerak cepat seraya menapakkan kakinya ketanah. Seketika itu pula tanah-tanah bergemetar retak. Erick langsung terhenti dan terjatuh. Dengan cepat Rey berusaha menginjak tubuh kucing Erick yang tergeletak jatuh. Dalam sekejap Erick berubah lagi menjadi manusia. Namun tapakan kaki Rey menghantam tepat di dada Erick seraya menggetarkan tubuh kekarnya.

“Uggh!” erangan kesakitan menjalari Erick. Mulutnya mengeluarkan darah segar. Ia mencoba menghantam kaki kurus Rey yang berada di dadanya. Namun Rey mengangkat kakinya sesaat sebelum tangan mengerikan Erick menyentuh kakinya. Pertarungan pun berlangsung sengit.

Di lain sisi, Francisia yang sedari tadi mengamati pertarungan sengit itu pun mendekati Donovan yang terlihat sangat syok melihat kematian sahabatnya itu. Perlahan namun pasti, ia dekati sesosok manusia berkumis tipis itu. Mendekat dan mendekat. Hingga akhirnya ia tiba di samping Donovan yang sedari tadi hanya terdiam mematung. Tiba-tiba ia menyodorkan kepalanya kearah leher Donovan. Ia mencoba menggigit donovan.

Dengan perlahan ia memasukkan gigi taringnya seraya menyedot setiap tetesan darah yang mengalir dari leher Donovan. “Arrrgghh!” jerit Donovan lirih ketika darahnya dihisap secara perlahan. Erick yang mendengar erangan kesakitan itu langsung menoleh dan terkejut ketika Francisia menghisap darah Donovan.

“Tidak!” teriak Erick seraya mengambil sebuah benda di sakunya. Benda bulat bergerigi. Ia lemparkan tepat kearah Francisia yang sedang sibuk menyantap darah segar Donovan.

‘Zrash!’ kepala Francisia terpotong dari tubuhnya. Gerigi itu hampir mengenai leher Donovan. Bayangan hitam pun seketika keluar dari tubuh Francisia yang tak berkepala itu. Donovan tergeletak. Jantungnya berdegup kencang. Tubuhnya mati rasa. Pandangannya kabur. Lidahnya kelu. Ia sekarat.

“Donovan! Jika kau ingin hidup, Minum darah Francisia! Argh!” teriak Erick diikuti erangan kesakitan karena tangannya tertikam oleh jari kuku Rey yang sangat panjang. Erick yang kesakitan itu seraya memegang erat tangan Rey yang menancap di tangan kirinya. Sangat erat. Lalu tiba-tiba tangan Rey meledak karena terpegang oleh tangan kanan Erick yang telapaknya penuh mantra aneh.

Di sisi lain. Donovan yang sekarat itu merangkak kearah kolam darah yang menyeruak di leher Francisia. Ia merangkat sangat pelan. Setelah kolam darah telah berhasil ia jangkau, langsung ia celupkan mulutnya di kolam itu. Hanya satu tegukan darah. Tiba-tiba jantungnya berdegup sangat keras dan kencang. Membuat Donovan kejang-kejang kesakitan. Kepalanya serasa memanas dan perih. Darahnya seakan-akan mendidih. Ia meronta-ronta, menggelepar, dan menggeliat kesakitan. Setelah cukup lama mengerang kesakitan. Ia terdiam seakan-akan sedang tertidur pulas. Tampak gigi taringnya membesar. Wajahnya pucat pasi. Matanya berubah menjadi merah gelap. Kumisnya masih tipis.

“Uaaghh!” Rey seraya mundur cukup jauh. Tangan kirinya hilang separuh. Terlihat tulang menonjol dari balik potongan daging itu. Rey terlihat kesakitan dan marah. Erick seraya meminum sebuah ramuan dari saku nya. Tiba-tiba muncul ukiran-ukiran aneh ditubuh Erick. Matanya seluruhnya hitam pekat. Taring tiba-tiba menyeruak di bibirnya. Rambutnya yang coklat mendadak berwarna putih. Rambut-rambut halus menyembul di seluruh badannya. Badannya membesar dan menggempal. Ia berubah menjadi Werefolf.

“Sial” umpat Rey seraya berlari menuju Erick yang berubah ganas itu. Serangan demi serangan pun terjadi. Ia goreskan kuku-kuku panjangnya namun tak mengenai Erick. Walau Erick berubah menjadi besar, namun kegesitannya tak berkurang. Erick menghindari dengan cepat seluruh terkaman ganas Rey. Setelah Rey lelah menyerang, Erick tiba-tiba mengoyak leher Rey dengan taring besarnya itu hingga nyaris putus. Rey mengerang lirih terlihat sekarat. Setelah puas mengoyak leher. Erick langsung memukul kepala Rey hingga putus. Darah pun dengan sukses menyembul keluar dari lehernya. Badan tanpa kepala itupun ambruk tak berdaya. Erick melolong tanda puas.

Erick pun berubah lagi seperti semula. Tampaknya ia bisa mengkontrol transformasinya yang kedua itu. Dengan wujud manusianya, ia berusaha mendekati Donovan. Walau ia tahu racun di lukanya telah menyebar.

“Jleb!” tiba-tiba terlihat pedang menonjol dari dada Erick. Sebuah terkaman tak terduga melumpuhkan Erick. Lalu goresan pedang itu menebas Erick menjadi dua bagian.

“Arrrgghh!” Erick pun tak berdaya lagi. Ia mati seketika. Terlihat sesosok pria berumur yang penuh jenggot putih di dagunya. Kumisnya pun melengkapi kerimbunan dagunya. Wajahnya sangat putih dan terlihat garang. Matanya mirip dengan mata Francisia. Ia memakai jubah hitam besar dan terlihat pedang berlumuran darah menjadi senjatanya. Ialah Daniel De Raven.

“Tidak! Francisia sayangku!” Teriak Daniel setelah melihat putrinya tergeletak tak bernyawa. Ia marah besar. Donovan yang sedari tadi pingsan akhirnya tersadarkan karena erangan kemarahan Daniel De Raven itu. Ia mendangak dengan posisi masih tertelungkup. Ia melihat tubuh Erick yang terbelah menjadi dua itu. Ia langsung bangkit penuh amarah. Donovan sudah tidak seperti dulu lagi.

“Kau ya yang membunuh anakku?! Bersiap-siaplah untuk mati!” teriak Daniel seraya menyeruak maju dengan membabi buta. Donovan yang seperti mendapatkan kekuatan itu seraya menghilang dengan cepat. Daniel pun ikut menghilang ditelan kegelapan. Terjadi percikan benda tajam di udara. Donovan memakai senjata pisau salibnya yang telah ia bawa selama ini. Walau ia tahu ia sudah menjadi makhluk terlarang. Tapi ia masih belum terkena efek salib itu selama 12 jam dari perubahannya, itu yang ia tahu. Daniel yang lebih kuat langsung mementalkan Donovan hingga menghantam tembok ruangan itu hingga retak. Ia muntah darah saat itu juga. Daniel yang tak menyia-nyiakan kesempatan itu pun langsung terbang kearah Donovan berusaha menikamnya.

Tiba-tiba Zen muncul tepat di depan Daniel. Ia tikam daniel tepat di jantungnya. “Uaghh! Sial kau...” belum sempat ia selesaikan perkataannya, Daniel tergeletak tak bernyawa. Sedangkan Donovan melihat seluruh kejadian itu dengan pandangan buram. Layaknya siluet yang saling bertubrukan. Semakin buram dan kabur. Ia pun pingsan.

***

Di sebuah ruangan di salah satu rumah sakit di New York, tampak seorang pria yang tergeletak lemas diatas kasur berwarna putih. Cairan infus menghiasi samping kirinya. Di sebelah kanan terlihat sesosok wanita yang sedikit berumur memegang tangan pria itu erat. Seakan-akan ia tidak ingin kehilangan pria itu lagi. Seolah-olah ia tak ingin dilliputi rasa cemas lagi. Sang pria itu tiba-tiba membuka matanya dan melihat wanita itu yang terlihat pucat.

“Lily? Kaukah itu?” bisik Donovan ketika melihat istrinya duduk di sampingnya dengan muka penuh cemas. Lily pun memandang Donovan dengan senyuman lega.

“Suamiku, aku sangat mencemaskanku. Aku sedari dulu mengharapkan kedatanganmu dengan keadaan sehat bugar. Bukan dengan keadaan seperti ini. Tapi aku lega kau sudah sadar Darling” ucap Lily sembari tersenyum.

“Maafkan aku Lily. Tapi aku tidak bisa berdiam diri disini lagi. Aku bukanlah aku yang dulu. Ku harap kau mengerti” jelas lirih Donovan seraya menatap tajam mata Lily. Berharap istrinya tahu akan maksud dari ucapan Donovan.

“Aku tidak mengerti apa maksudmu, Darling” jawab Lily sedikit berbisik. Ia membuang muka dengan hati yang gusar.

***

Di salah satu pemakaman kota Prostejov, terlihat sesosok pria bertaring sedang berjalan menuju kelamnya pemakaman itu. Ia menggeser salah satu makam tua di ruangan pemakaman. Tampak tulang belulang yang masih utuh dan lengkap. Kulit tipis dan kerut melapisi tengkorak itu. Pakaian adat slovakia pun terpasang di tubuh tulang itu. Pria misterius itu pun seraya mengeluarkan sebuah botol berisi cairan merah pekat. Lalu kemudian ia teteskan tepat di mulut tengkorak itu yang gigi taringnya terlihat dengan jelas. Tiba-tiba mulut tengkorak itu bergerak-gerak seperti menghisap cairan mirip darah itu. Sontak tubuh tengkorak itu membengkak. Menjadi seperti tumbuh seonggok daging diantara tulang belulang dan kulit tipis itu. Kelopak matanya pun terbuka dan mulutnya menyeringai puas. Tengkorak itu berubah menjadi sesosok pria tampan dengan muka yang sangat dingin.

“Akhirnya kau membangkitkanku Emperiano, terima kasih” ucap pria dingin itu sembari bangkit dari peti matinya. Pria yang bernama Emperiano itu pun menyeringai kejam.

“Sekarang kuasai kota ini, Lurupin. Bangkitkan semua anak-anakmu” ucap Emperiano sembari meninggalkan ruangan itu. Menghilang. Sesosok pria bernama Lurupin mengangguk pelan.

***

Keesokan paginya, Lily berjalan menuju kamar tempat Donovan dirawat. Ia langkahkan kakinya dengan pelan sembari membawakan buah apel kesenangan Donovan. Ia pun tiba di pintu kamar itu. Ia buka perlahan hingga tampak seluruh interior ruangan itu.

“Tidak! Donovan dimana kamu!” jerit Lily ketika melihat suaminya tak ada di kasur. Pintu jendela terbuka. Ia langsung berlari kearah suster yang sedari tadi berjaga. Seluruh sudut rumah sakit pun telah Lily dan suster telusuri. Namun sosok Donovan masih tidak terlihat. Ia menghilang meninggalkan sepucuk surat di kamar dimana ia dirawat.

‘Dear Lily, maafkan aku. Ada tugas yang belum terselesaikan. Aku harus pergi untuk sementara waktu. Kuharap kau mau memaafkanku. Jaga dirimu baik-baik. Donovan’

Lily pun menangis deras tatkala membaca surat itu. Di iringi oleh nyanyian burung gereja dan gumaman para suster yang mencoba menenangkan Lily.

***

Malam hari setelah menghilangnya Donovan, di salah satu kota di Slovakia, tampak dua orang sedang berjalan menuju salah satu bar di kota itu. Satu memakai masker di wajahnya. Dan satunya memiliki kumis tipis dengan taring menghiasi mulutnya. Ya. Mereka adalah Zen dan Donovan. Mereka pun seraya berjalan menuju bar yang terlihat reyot itu.

“Apa kau sudah siap Don?” tanya Zen tanpa menoleh sedikitpun. Donovan pun mengangguk seraya berlari kearah bar. Donovan yang awalnya seorang pria biasa pun sudah berubah menjadi sesosok pemburu manusia bertaring. Dengan didampingi Zen, mereka berusaha membasmi seluruh manusia bertaring di bumi ini. Dan mencari rekan-rekan yang bisa mereka percayai. Petualangan panjang Donovan dan Zen pun baru dimulai.


TAMAT

TARING [PART 10 - TRAGIS]

**Beberapa jam sebelum Donovan dan Erick tiba di Whitechaple**

Zlpt! sesosok pria jangkung, Zen, tiba-tiba muncul di bibir gang Whitechaple. Dengan wajah penuh amarah ia berlari memasuki gang sepi itu. Vampire-vampire yang terlihat bergelantungan di atap-atap gang kelam itu pun langsung terbang menyerang Zen secara serempak. Vampire-vampire menyerang dari segala arah. Mereka menyerang dengan kuku-kuku jari tangan mereka yang sangat panjang berusaha menerkam Zen. Namun serangan-serangan itu tidak ada gunanya. Zen menghilang seketika, hanya menyisakan hempasan angin yang cukup kuat. Sangat kuat bahkan membuat tubuh vampire-vampire itu terpotong menjadi beberapa bagian. Teriakan kematian pun menggema indah bak lantunan melodi. Zen tiba-tiba muncul di depan potongan-potongan tubuh itu. Terlihat darah hitam pekat melekat di sisi runcing pedangnya.

Lalu Zen melangkah masuk menuju sisi dalam gang sempit itu. Terlihat segerombolan vampire kejam bertopi bowler terbang menuju Zen. Tampak dari kejauhan tiga vampire yang sudah tidak asing lagi bagi Zen. Mereka adalah Rey, Wend, dan Dimitri. Zen teringat kejadian mengenaskan di rumah sakit Saint Rose yang didalangi oleh ketiga jenderal itu. Dan penculikan Robeth yang di lakukan Rey.

Sebenarnya ketiga sosok Vampire itu sudah Zen kenal sejak dulu. Karena ketiganya terkenal sadis dalam membunuh. Wend yang berperawakan gendut dan terlihat lendir menjijikkan keluar dari taringnya, wajahnya sangat jelek. Dimitri bertubuh kerdil dan telinganya sangat panjang melebihi kedua jenderal lainnya. Kecepatannya setara dengan Zen. Dan gemar menyantap jantung segar manusia. Sedangkan Rey adalah jenderal utamanya. Tubuhnya tinggi kurus dan mukanya sangat dingin. Terlihat kuku-kuku jari yang sangat panjang melebihi vampire-vampire lainnya. Walau ia tidak terlalu cepat. Namun matanya sangat peka terhadap benda yang bergerak sangat cepat sekalipun. Dan kekuatannya hampir setara dengan pemimpin klan Raven, Daniel De Raven. 

Zen menebasi seluruh pasukan vampire yang menyerangnya dengan mudah. Ia tebaskan dari kejauhan sehingga angin tajam menebasi para vampire malang itu. Daging segar terpotong-potong dan berjatuhan. Terlihat pula vampire yang kabur ketakutan. Namun belum sempat vampire itu kabur, Dimitri dengan cepat menerkam vampire itu dari belakang. 

“Jangan ada yang berani kabur! Serang makhluk setengah jadi itu! Atau aku bunuh kalian semua!” perintah Dimitri seraya memelototi seluruh pasukan vampire yang ketakutan itu. Dengan terpaksa pasukan-pasukan itu mengeroyok Zen yang mulai sedikit lelah itu.

Dengan menggunakan teknik yang sama, ia menghilang dan menyisakan angin kejam yang memotongi para vampire itu. Teriakan teriakan kematian kembali terdengar nyaring. Zen langsung berlari menuju Dimitri yang sedari tadi berdiri di belakang pasukan vampire itu. Sedangkan Rey dan Wend sudah menghilang sedari tadi.

Zen berusaha menebas Dimitri, namun ia menghilang dalam sekejap. Seketika itu terlihat hujanan benda runcing tepat diatas Zen. Sial! umpat Zen ketika menyadari serangan benda runcing yang terlihat seperti potongan kuku itu. Ia pun seraya menghindar ke belakang. 

"Kekekekekek!" pekikan Dimitri sembari terbang menggunakan sepasang sayapnya tepat diatas Zen. Sekali lagi Dimitri menghujani Zen dengan potongan kuku runcing. 

"Arggh!" rintihan kesakitan Zen ketika benda runcing itu menyayati tubuh Zen. Walau Zen mencoba menghindarinya, ia tetap terkena sayatan-sayatan benda itu. Terlihat goresan-goresan luka yang tak sedikit menghiasi tubuh Zen. 

"Sial! Awas kau makhluk kerdil!" gumam Zen penuh amarah. Ia lalu menghilang secepat kilat. Dimitri pun seraya menghilang mengikuti Zen. Terjadi kilatan benturan benda tajam di udara yang terlihat seperti percikan petir. Hal itu terjadi cukup lama walau Dimitri dan Zen tidak terlihat secara kasat mata. Disaksikan oleh mayat-mayat vampire yang mulai dikerubuti belatung dan makhluk menjijikkan lainnya. 

"Arrrgghh!" terdengar teriakan dari udara, namun masih tak nampak wujud salah satu dari mereka. Tiba-tiba sebuah benda bulat terlontar dari udara dan jatuh terpental ke tanah. Disusul juga oleh sebuah tubuh kerdil tak berkepala jatuh dari udara. Zen pun tiba-tiba muncul dengan wajah menyeringai puas. Dimitri mati dengan kepala terpotong dari tubuhnya. Zen seraya melanjutkan perjalanannya walau goresan-goresan senjata Dimitri sedikit mengganggu konsentrasinya.

Setelah Zen melewati pintu bergagangkan kepala persis seperti yang ada di kuburan High Gate dan memasuki ruangan didalam gang itu. Ia pun menyisiri dan membasmi vampire-vampire dengan mudah. Ia tebasi hingga ia berhasil menyapu bersih seluruh vampire di setiap sudut ruangan itu. Hingga akhirnya ia menjumpai sebuah pintu reyot yang terlihat mengerikan. 

Ia tarik pelan gagang pintu itu. Seketika itu pula sebuah bayangan hitam menyeretnya masuk kedalam ruangan dibalik pintu itu. 

"Tidak lepaskan aku!" ronta Zen terkejut. Bayangan itu menyeretnya dengan paksa. Zen memberontak tetapi bayangan itu tidak bisa dilepaskan. Hingga akhirnya ia terhenti di sebuah ruangan penuh sarang laba-laba dan ruangan itu sangat kumuh. Mata Zen yang sudah terbiasa dengan kegelapan itu melihat mayat-mayat manusia tergeletak tak bernyawa. 

Tampak dua pria dan seorang wanita. Wanita itu berwajah sayu, matanya merah kehitaman terlihat kelam. Tubuhnya kecil kurus, terlihat bayangan yang menyeret Zen masuk kedalam tubuh wanita itu.

"Francisia!" gumam Zen terlihat kaget. Ia menyadari kekuatan unik Francisia yang bisa mengendalikan bayangan.

Sontak Rey dan Wend menyerang Zen secara serempak. Zen yang mengandalkan kecepatannya seraya menghilang berusaha mendekati Francisia. Sontak Zen tak bisa bergerak karena bayangan itu kembali menahannya. Rey pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia menikam Zen dari belakang. "Argh!!" teriakan kesakitan Zen menggema hingga ke sudut ruangan itu.

Terpaksa Zen mengeluarkan senjata rahasianya. Sebuah permata hitam pekat keluar dari lubang maskernya. Permata itu terjatuh dan mengeluarkan cahaya merah yang menusuk mata. Seketika itu juga Zen terbebas dari ikatan bayangan itu dan menghilang.

***

"Zen! Kaukah itu?!" Teriak Donovan terkaget-kaget. Erick hanya bisa melongo melihat kondisi Zen yang terlihat parah.

Donovan dan Erick seraya berlari kearah Zen bermaksud menopangnya. Tetapi Zen langsung jatuh tersungkur di lantai. Napasnya tak teratur dan terengah-engah. Donovan dan Erick yang tiba di samping Zen yang telah terjatuh itu pun berusaha menutupi luka Zen. Erick mengambil suatu kain berwarna merah cerah dari kantong celananya. Lalu ia tempelkan ke luka Zen yang menganga hebat. Darah-darah berceceran deras. Kain itu seraya terserap kedalam luka itu dan menutupinya. Zen terlihat sangat tersiksa menahan perih itu. Otaknya seakan-akan membeku menahan sakit yang menggema-gema itu. Dengan perlahan, Zen berusaha menggerakkan tangannya untuk membuka masker di wajahnya. Terlihat hidungnya tak memiliki daun hidung bak tengkorak. Bibirnya berwarna merah legam dan terlihat bercak-bercak di sekitar bibirnya. Bibirnya terlihat bergerak- gerak, seakan-akan ingin berkata sesuatu.

"Robeth sudah..." belum sempat ia menyelesaikan bisikannya tiba-tiba tubuhnya menggeliat kesakitan. Badannya kejang-kejang, Kain yang tertempel di badannya terlihat lagi, ia sekarat.

"Tampaknya ada racun di lukanya." ucap Erick pilu. Tiba-tiba tubuh Zen menjadi kaku dan dingin. Jantung nya tak berdetak. "Tidak! Zen!" teriak Donovan lirih. Erick membisu.

BERSAMBUNG

TARING [PART 9 - TERJANG]

Mereka berdua melangkah sangat pelan memasuki jalanan gang gelap itu. Si kucing dan Donovan terlihat sangat waspada. Terlihat tikungan di depan mereka yang menampakkan sedikit darah hitam di lantai tikungan itu. Sontak mereka berdua langsung bergegas menuju tikungan sempit yang terhias darah.

Sesampainya mereka di tikungan itu, terlihat potongan-potongan tubuh vampire yang sudah tak bernyawa. Seluruh vampire itu memakai pakaian yang seragam, lengkap dengan topi bowlernya. Terlihat pula ceceran darah menghiasi lantai tikungan itu. Jalan yang menyempit pun semakin sempit ketika tubuh-tubuh vampire itu menghalangi jalan mereka.

“Sepertinya sudah ada yang mendahului kita ya?” ujar si kucing hitam itu. Donovan hanya terdiam mengangguk kecil. Ia pikir hanya seseorang saja yang bisa berbuat seperti itu. Yaitu Zen.

Tampak di ujung jalan terdapat sebuah pintu yang membuat gang itu menjadi buntu. Pintu itu berwarna hitam pekat dan gagangnya sama persis seperti gerbang yang ada di kuburan High End.

“Sepertinya pintu itu menghubungkan kita ke dunia vampire. Apakah kamu yakin mau ikut bersamaku? Kamu sebaiknya menunggu diluar saja” ucap Erick dengan mulut kucingnya yang mungil itu, masih dalam bentuk kucing.

“Aku akan memastikan sendiri kondisi sahabatku, aku akan tetap ikut bersamamu” jawab Donovan terlihat gundah dan tegang. Ketakutannya sudah memuncak. Ia tidak pernah menghadapi vampire sebelumnya. Tapi amarah dan kecemasan membuatnya berani menghadapi rasa takutnya itu. Sudah cukup ia kehilangan orangtuanya, ia tidak ingin kehilangan seseorang yang berarti baginya untuk yang kedua kali. “Ya sudah. Aku harap kamu tidak membebaniku” tambah Erick seraya mempercepat langkahnya. Donovan mengangguk yakin seraya mempercepat larinya.

Akhirnya mereka berdua tiba di depan sebuah pintu itu. Pintu yang mengeluarkan hawa penat. Sambil termegap-megap, Donovan mencoba mengeluarkan seluruh barang di koper besinya itu. Pikirnya, koper berat itu hanya akan menghambat perjalanannya. Untung dia membawa semacam tas pinggang. Maka ia taruhlah seluruh perlengkapan itu kedalam tasnya. Termasuk bom tangan dan pisau berbentuk salib. Sedangkan pistol yang telah terisi penuh itu tetap ia pegang erat.

Erick Jhonson lalu berubah wujud menjadi manusia. Ia lalu buka perlahan pintu itu, sembari memasang kuda-kuda siaga. Tak terlihat apapun. Semuanya serba gelap. Erick lalu mengeluarkan sejenis batu berwarna jingga dari dalam saku celananya. Ia sontak melemparkan batu itu kedalam pekatnya ruangan. Tiba-tiba kilatan cahaya keluar ketika batu itu menghantam lantai ruangan. Kilatan-kilatan yang membuat silau itu pun perlahan padam dan menerangi ruangan itu. Donovan hanya berdecak kagum Bagaimana bisa sebuah batu menerangi seisi ruangan? Pikirnya. Erick hanya terdiam dan mengamati seantero ruangan yang terlihat kotor itu. Terlihat sesosok pria berpakaian ala bangsawan british membelakangi mereka. Seakan-akan takut melihat sinar yang muncul dari batu sebesar genggaman tangan itu. Mereka berdua pun melangkah masuk kedalam ruangan itu.

Tiba-tiba lelaki berpakaian rapi itu berbalik seraya berlari menuju Erick dan Donovan. Mereka berdua yang terkaget-kaget pun langsung menghindari pria itu. Terlihat mulutnya yang seperti anjing kelaparan, tapi dilengkapi taring yang sangat besar. Dan juga matanya yang seluruhnya berwarna merah pekat. Donovan gemetaran menghadapinya. Erick langsung menyerang vampire itu dari belakang. Vampire yang berwajah buruk itu pun mencoba menghindar. Tapi tangan kanan vampire itu terkena hantaman keras Erick yang tangannya penuh dengan coretan bahasa latin. Sontak tangan kanan vampire itu meledak, daging-daging berhamburan. Vampire itu meronta-ronta kesakitan. Terlihat mulutnya menganga hebat. Darah hitam keluar dari lubang tubuhnya itu. Erick yang tak ingin membuang-buang waktu lagi pun menghantamkan telapak tangannya ke kepala vampire itu. Sontak kepala itu meledak tak bersisa. Donovan hanya terdiam terpaku melihat seluruh adegan penjagalan itu. Dalam sekejap, vampire itu menjadi seonggok daging yang tak bernyawa lagi. Sungguh luar biasa, pikirnya.

Mereka pun melanjutkan penelusuran mereka. Terlihat lorong-lorong ruangan itu yang bercabang-cabang. Erick langsung mengeluarkan semacam kompas kecil berwarna hijau. Jarum pada kompas itu bergerak gerak sendiri. “Ini alat pendeteksi vampire. Jarum pada kompas ini menunjuk kearah si raja vampire itu berada. Kamu jangan diam saja, gunakan senjatamu itu!” jelas Erick sambil menggerutu. Donovan yang sebenarnya ahli dalam bersenjata jadi seperti anak kecil yang memegang pistol air menghadapi raksasa bertubuh besar. Saat itu pula ia bertekad untuk ikut membasmi vampire-vampire itu. Matanya seakan-akan ikut berkobar karena terbakar api semangat.

“Kelihatannya para vampire itu sudah hampir disapu bersih oleh seseorang. Kau tahu siapa itu?” tanya Erick sembari berjalan pelan mengikuti petunjuk kompas kumal itu. “Ya sepertinya aku tahu. Orang itu bernama Zen Van Dracul” balas Donovan seraya mengikuti Erick dari belakang.

“Apa?!” tiba-tiba Erick menghentikan langkahnya. “Kau bilang Zen Van Dracul? Dia adalah sang pemimpin dhampire-dhampire dari 8 penjuru negara di muka bumi ini. Mana mungkin ia sudi berurusan dengan klan Raven yang baru saja bangkit ini?” tanya Erick terlihat heran. Donovan tampak lebih terheran-heran. Ia baru tahu jika Zen adalah pemimpin dari para dhampire.

“Jadi kamu sudah mengetahui keberadaan klan ini ya?” tanya Donovan dengan nada lirih. “Aku hanya menunggu dari pihak kepolisian untuk menyewaku. Ingat, aku adalah pemburu vampire. Bukan anggota kepolisian” pungkas Erick sembari menyusuri lorong-lorong gelap penuh nyamuk. Donovan hanya bisa menghela napas panjang.

Setelah mereka berdua menelusuri lorong-lorong ruangan gelap tanpa halangan sedikitpun. Mereka melihat dari kejauhan, sebuah pintu reyot yang berbahankan kayu. Tapi sebelum mereka dapat menjangkau pintu itu. Terlihat empat vampire yang memakai pakaian sama persis seperti vampire yang Erick bunuh. Mereka berwajah hampir mirip, walau potongan rambut mereka berbeda-beda.

Tiba-tiba ke empat pria bertaring itu berlari menuju Donovan dan Erick. Terlihat dua vampire menyerang Erick dan sisanya menyerang Donovan. Erick berusaha menghindari serangan mereka, begitu juga Donovan. Donovan yang lelah menghindar langsung menembakkan senjatanya tepat ke kepala salah satu vampire itu. Terlihat kepala vampire itu membeku dan mengeras. Seketika itu pula vampire itu roboh. Donovan tersenyum lega, puas berhasil membunuh satu vampire. Vampire yang tersisa itu pun seraya berlari garang kearah Donovan. Ia terlihat marah karena rekannya mati dibunuh Donovan. Donovan menghindari dan mulai terdesak. Ia merogoh tas ranselnya dan menemukan sebuah pisau berbentuk salib. Ia keluarkan pisau itu dan menunjukkan kepada vampire ganas itu. Terlihat vampire itu seperti menjauh dan sedikit menjauh. Sontak Donovan menembakkan lagi pistolnya tepat ditubuh vampire itu hingga mati.

Di lain sisi, Erick tanpa kesusahan sedikitpun menghindari segala serangan dari vampire-vampire kelaparan itu. Disaat terdesak, ia menjelma menjadi kucing dan menelusup diantara kaki-kaki vampire itu. Setelah berhasil melewati selangkangan para vampire itu, dengan sekejap Erick berubah menjadi manusia dan menghantamkan telapak tangannya berulang kali hingga vampire itu meledak berkeping-keping. Ia menyeringai puas setelah para vampire itu mati tak berbentuk.

“Kau berhasil mengatasinya juga ya, aku salut” puji Erick ketika melihat Donovan membunuh kedua vampire itu. Donovan pun tersenyum lega.

Kemudian mereka berdua berjalan menuju sebuah pintu reyot itu tanpa halangan. Tapi sebelum mereka sempat mendekat, pintu reyot itu seperti membuka secara perlahan. Seakan-akan ada seseorang yang membuka dari balik pintu itu. Pintu terbuka sangat pelan dan pelan. Membuat Donovan dan Erick terkejut dan bersiaga. Takut jika sesosok vampire mengerikan muncul dari balik pintu itu. Pintu itu pun semakin terbuka lebar. Tampak sesosok pria memakai baju berbahan kulit yang terlihat compang camping. Topi coboy menghiasi kepalanya. Maskernya masih terpasang di mulutnya. Namun terlihat darah hitam segar keluar dari perutnya. “Zen! Kaukah itu?!” Teriak Donovan terkaget-kaget. Erick hanya bisa melongo melihat kondisi Zen yang parah itu.


BERSAMBUNG

TARING [PART 8 - BANTUAN]

Donovan berlari menyisiri lorong dengan napas tersengal-sengal. Rasa kalut, penat, dan cemas teraduk menjadi satu didalam hatinya. Suara-suara aneh yang terdengar di setiap pinggir lorong pun tidak ia hiraukan. Pandangannya mulai kabur karena butiran air mata. Kakinya gemetaran memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. Robeth mati.

Ia tendang pagar lorong itu yang menandakan ia telah keluar dari lorong kelam itu. Ia terus berlari dan berlari. Kadang tersandung akar pohon dan terjerembab, namun ia tetap bangkit lagi walau luka lecet menghiasi kakinya. Hingga ia temukan mobil dinas Robeth. Ia menyadari bahwa kunci mobil itu dibawa Robeth. Ditengah kalutnya suasana hati. Maka ia cegat taksi yang lalu lalang.

“Mau kemana pak?” tanya sopir taksi yang sedari tadi melihat wajah gusar Donovan. Donovan hanya terdiam mencoba menenangkan pikirannya. Mencoba berpikir positif. Lalu ia menyadari satu hal, gang Whitechaple. Gang yang telah menjadi sarang para penghisap darah itu.

“Antarkan saya ke Gun Shop” pinta Donovan kepada supir taksi. Ia menyadari bahwa ia harus mempunyai senjata yang ampuh sebelum menuju kedalam gelapnya gang Whitechaple, untuk membasmi para vampire itu. Dan Gun Shop adalah pusatnya segala senjata.

Terlihat sebuah toko reyot dihiasi kilatan lampu-lampu kecil. Kilatan-kilatan itu membentuk kata ‘GUN SHOP’. Dindingnya berwarna hijau tua yang telah menjadi muda lagi karena pudar dimakan usia. Tampak deretan senjata laras panjang dan pendek dipajang dibalik kaca toko itu. Dari kejauhan terlihat sebuah taksi berwarna kuning cerah menghentikan lajunya tepat di pinggir pintu masuk toko itu. Terlihat lelaki berkumis tipis yang berpeluh cukup banyak keluar dari taksi itu. “Terima kasih pak” ucap Donovan seraya memberi ongkos kepada supir taksi itu. Donovan langsung berlari memasuki toko senjata itu.

“Mau beli apa pak? Saya punya beberapa barang baru. Ada sniper K475-F. Ada shotgun 970. Dan banyak lagi. Mau beli yang mana pak” ucap pemilik toko itu bermaksud mempromosikan barangnya.

“Aku beli senjata pembunuh vampire” ujar Donovan singkat. Berharap penjaga toko tahu apa yang ia maksud. Si pemilik toko terdiam sejenak. Sepertinya sangat jarang ia temui pembeli yang mencari senjata itu.
“Senjata pembunuh vampire? Untuk apa bapak mencari senjata itu?” tanya pemilik toko itu sembari memasang wajah heran.

“Cepat pak! Akan kubayar berapapun yang kamu minta!” bentak Donovan tidak sabar. Ia tidak ingin membuang-buang waktu dengan percuma.

“Sebentar ya” ucap pemilik toko itu seraya berjalan menuju ruang tengah yang tertutup tirai berwarna merah.
Tak berapa lama kemudian, sang pemilik toko keluar dengan membawa sebuah kotak besi berwarna putih. Ia kemudian membuka kotak itu. Terdapat beberapa senjata yang bermacam-macam. Ada pisau berbentuk salib. Ada pinstol laras pendek berwarna merah tua. Dan juga ada beberapa peluru transparan berisikan cairan warna perak. Dan dilengkapi dengan beberapa buah bom tangan yang berwarna putih cerah.

“Kotak ini sering dipakai pemburu vampire. Harga satu kotak sebesar 1500 USD. Apa kau jadi membelinya?” tanya pemilik toko memastikan. Donovan langsung mengeluarkan kartu kreditnya serta melakukan proses pembayaran. Sang pemilik toko pun tersenyum lebar.

“Jika kau memang membutuhkan seorang pemburu vampire. Coba hubungi nomor ini pak” ujar pemilik toko seraya memberikan secarik kartu nama kepada Donovan.

“Pemburu vampire bernama Erick Jhonson? Baiklah akan ku hubungi nanti. Terima kasih” balas Donovan seraya menyabet koper putih itu. Ia pun langsung pergi meninggalkan toko kumal itu. Terbesit rasa takut di pikirannya. Apakah ia akan berhasil tanpa seseorang pun membantunya? Bagaimana jika ia mati dimangsa para vampire keji itu? Bagaimana nasib istri nya jika dia mati? Tampak keraguan, kekalutan, dan ketakutan tergores besar di hatinya. Tanpa berpikir panjang lagi, ia buka handphone-nya dan langsung menghubungi pemburu vampire bernama Erick Jhonson itu.

“Hallo, sebutkan lokasi vampire berada, uang bayarannya sebesar 3000 USD” ucap seseorang bersuara besar mengagetkan Donovan. Ia tak menyangka pemburu ini langsung membahas inti permasalahannya tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.

“Okey, lokasinya ada di gang Whitechaple. Sekarang juga kita bertemu di mulut gang itu” pungkas Donovan seraya mencegat taksi yang lewat.

“Bayarannya siapkan segera setelah semua vampire aku bunuh. Kita bertemu 30 menit dari sekarang” balas seseorang bernama Erick itu.

“Baiklah” jawab Donovan, ia langsung menutup handphone-nya seraya meminta untuk diantarkan ke gang Whitechaple. Sopir taksi hanya mengangguk pelan.

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 25 menit, Donovan akhirnya tiba di sebuah gang yang sangat mencekam. Tak terlihat seorangpun berlalu-lalang. Donovan yang sudah menunggu sepuluh menit pun sedikit menggerutu. “Dimana dia?! Ini sudah lebih lima menit dari waktu yang ditentukan!” gerutu Donovan seraya melirik kanan kiri. Tak terlihat seorangpun melewati jalanan itu. Hanya terlihat seekor kucing hitam berjalan mendekati Donovan. Mendekat dan semakin mendekat.

“Maaf sudah membuatmu menunggu lima menit” suara lelaki terdengar besar menggema di telinga Donovan. Membingungkannya. Ia lirik sekitar tidak ada seorangpun. Tapi kok ada suara ya? Pikirnya heran.

“Hei jangan bingung! Aku dibawah sini!” suara itu berasal dari bawah Donovan. Ia terkaget-kaget tatkala ia melihat seekor kucing hitam tadi berbicara. “Hey kucing! Bagaimana bisa kau berbicara!?” teriak Donovan yang sangat terkejut. Matanya yang sedikit sipit terbelalak kaget. Keanehan apa lagi ini? Pikirnya heran.

Tiba-tiba kucing itu berubah wujud menjadi seorang laki-laki berbadan besar dan kekar. Kulitnya hitam pekat disertai dengan baju khas suku maya berwarna coklat muda. Potongan rambutnya yang berwarna coklat sangat tidak rapi dan panjang lurus menyentuh pinggang. kumis kucingnya berwarna coklat dan meruncing. Wajahnya sangar dan garang. Suaranya pun menggelegar. Dialah Erick Jhonson.

“Ka-ka-kamu Erick Jhonson?” tanya Donovan terbata-bata. Seumur-umur baru kali ini dia berbicara tidak lancar. Dan baru kali ini dia melihat seekor kucing berubah menjadi manusia selain di film-film maupun sinetron.

“Hei biasa saja tidak usah sampai melongo begitu! Sekarang dimana vampirenya?” ucap Erick yang suaranya menggema hingga ke sudut jalanan. Donovan yang sedari tadi terpukau oleh transformasi itu seraya sadar dan mencoba untuk tetap tenang.

“Di dalam gang Whitechaple. Tapi mana senjatamu?” tanya Donovan sedikit khawatir. “Senjataku ada ditanganku. Ini” jawab Erick seraya menyodorkan tangannya yang penuh dengan kata-kata yang digores kasar.

“itu senjatamu? Tidak butuh senjata-senjata ini?” tanya Donovan lagi sambil menyodorkan koper berisikan senjata-senjata aneh.

“Tidak perlu. Itu untuk orang awam sepertimu saja” jawab Erick ketus. Donovan mengambil senjata laras pendek yang ada di koper itu dan mengisikannya dengan peluru-peluru berbahan perak.


“Ya sudah. Ayo sekarang kita menuju kedalam gang tua itu” ujar Donovan seraya melangkah maju kedalam gang Whitechaple. Erick mengangguk dan berubah wujud lagi menjadi kucing hitam. Mereka berdua lalu masuk kedalam gelapnya gang mengerikan itu.

BERSAMBUNG

TARING [PART 7 - FAKTA]

“Hey, kau mau kemana!?” teriak Robeth seraya berlari mengikuti Zen. Donovan hanya berlari kecil mengikuti mereka berdua. Burung gagak dan binatang-binatang malam menatap tajam mereka bertiga. Suara-suara aneh mengiringi di setiap jalannya. Tampak deretan kuburan yang berpagarkan jeruji tajam dan semak belukar. Pepohonan kurus melengkapi pemandangan angker itu. Seolah-olah terlihat ‘mata’ di dedaunan pohon-pohon itu. Sinar rembulan sulit menembus pekarangan kuburan itu karena tertutup dedaunan pepohonan kurus.

Tak lama setelah mereka berjalan memasuki kelamnya kuburan High Gate. Tampak sebuah lorong berpilar besar yang retak dimakan usia. Akar-akar pepohonan merambati pilar-pilar itu. Disambut oleh pagar berbahan seng yang sudah berkarat. Terlihat pula pahatan-pahatan salib yang telah hancur tak berbentuk lagi. Lorong itu sangat gelap dan membuat makhluk-makhluk malam betah bermalam di lorong itu. Tak terkecuali makhluk-makhluk penghisap darah.

“Apa kita harus masuk kedalam sana?” tanya Robeth yang nyalinya sedikit ciut. Ia berjalan sedikit memelan. Donovan pun sedikit gemetar untuk meneruskan langkahnya. “Benar, aku dan Robeth juga lupa membawa senjata, jadi kami tidak bisa melawan para vampire yang tiba-tiba muncul” tambah Donovan. Ia menjadi teringat istrinya yang sedang kesepian dirumah.

“Jika ada vampire yang muncul. Akan aku bunuh” pungkas Zen dingin dan singkat. Ia tidak menoleh kebelakang sedikitpun. Mereka lalu memasuki kawasan lorong yang gelap dan mengerikan. Tampak ukiran-ukiran patung di pinggir-pinggir lorong. Dan juga terlihat cabang-cabang lorong yang dihiasi ukiran unik dan aneh. Hawa dilorong itu sangat dingin dan menusuk. Membuat kedua manusia normal itu sedikit bergidik ngeri.

Ujung lorong pun mulai terlihat. Tampak sebuah gerbang raksasa yang terbuat dari besi berwarna merah tua dan sudah berkarat. Gagang gerbang itu terlihat seperti wajah pria dengan rambut panjang dan gigi taring yang menonjol. Ternyata ada ruangan dibalik gerbang itu.

“Hey Zen, kau mau membawa kami kemana?” tanya Robeth lagi yang mulai merasakan hawa tidak mengenakkan di lorong-lorong itu. Donovan hanya bisa terdiam. Rasa keingintahuannya mengalahkan ketakutannya. Zen tak menjawab dan melanjutkan langkahnya menuju gerbang besar itu.

Akhirnya mereka tiba di ujung lorong itu. Sebuah gerbang tua yang telah berkarat ternyata tidak terkunci. Zen seraya mendorong gerbang itu secara perlahan. Donovan dan Robeth hanya bisa menelan ludah berusaha untuk tenang. Setelah mereka menyenteri sekitar ruangan itu, terlihat banyak peti mati berjejeran menghiasi seluruh ruangan itu. Dari keseluruhan peti mati, tampak dua peti mati yang terlihat megah. Dengan dihiasi perhiasan permata dan intan. Menambah keindahan kedua peti mati itu.

“Tunggu, ada yang aneh dari semua peti mati ini. Kenapa penutup peti mati ini terbuka?” celetuk Donovan ketika melihat kejanggalan itu. Robeth pun seraya mengangguk pelan berharap Zen mau mengatakan semuanya.

“Disini dulu tempat pemakaman khusus klan Raven. Namun setahun yang lalu, ada seseorang yang membangunkan mereka” jelas Zen singkat. Terlihat peti-peti yang sudah kosong di seluruh ruangan itu berubah menjadi sarang laba-laba.

“Apa?! Siapa yang berani-beraninya membangunkan makhluk itu Zen?” tanya Robeth dengan wajah penuh amarah. Ia tidak habis pikir ada yang berani membangkitkan makhluk berdarah dingin itu.

“Seseorang vampire yang telah bangkit mendahului Daniel De Raven. Yaitu Emperiano Van Dracul” jawab Zen seraya membuang mukanya. Seakan-akan sedang menyembunyikan sesuatu.

“Dracul? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu?” gumam Robeth sembari mengingat-ingat. Ingatannya memang agak payah.

“Zen Van Dracul namamu khan? Jangan-jangan kamu ada hubungan darah dengan Emperiano Van Dracul?” ucap Donovan dengan intonasi penuh tanya. Ia merasakan ada yang aneh dengan marga Dracul di nama belakang Zen.

“Kau benar. Ayahku adalah keturunan vampire murni dari klan Dracul. Nama ayahku adalah Ron Van Dracul. Ia telah mati beberapa ratus tahun yang lalu setelah menyetubuhi ibuku yang manusia biasa. Ia mati karena dibunuh orangtua ibuku yang juga pemburu vampire. Ibuku tewas dibunuh keluarga Dracul tidak lama setelah melahirkanku. Aku menjadi dendam pada seluruh klan vampire yang ada di dunia ini, terutama klan Dracul. Dan Emperiano Van Dracul adalah salah satu anak dari ayahku” jelas Zen seraya duduk di pinggiran peti mati itu.

“Jadi seperti itu ceritanya. Sedikit demi sedikit semua pertanyaanku terjawab. Tapi ada satu pertanyaanku yang tak terjawab. Mengapa Emperiano membangkitkan klan Raven?” ujar Donovan seraya menyisiri ruangan itu. Robeth hanya terpukau oleh cerita Zen.

“Aku rasa, maksud dari Emperiano membangkitkan klan Raven yang terkenal sadis itu karena…” belum tuntas Zen berbicara, tiba-tiba ada beberapa makhluk sejenis kelelawar terbang memasuki ruangan itu melalui sela-sela jendela. Zen dan kedua sahabat itu terkaget-kaget dan memasang kuda-kuda siaga. Terdapat empat makhluk sejenis kelelawar dengan tubuh sebesar manusia mengelilingi mereka. Rambut lebat tumbuh di seluruh tubuh makhluk itu. Dilengkapi dengan mata yang merah menyala dan sayap di tangannya. Terlihat gigi taring yang sangat panjang menonjol dari sela-sela bibirnya. Donovan dan Robeth terlihat gusar dan panik. Terlebih Robeth yang masih trauma dengan makhluk penghisap darah itu.

“Sial! Kita terjebak! Bagaimana ini?!” teriak Robeth panik serta tegang. Donovan hanya terdiam mematung. Terlihat dengan jelas kegetiran mereka berdua.

Tiba-tiba Zen menebaskan pedangnya tepat ke kepala salah satu makhluk itu. Darah hitam terciprat kemana-mana. Sebuah kepala menggelinding hingga ke pojok ruangan. Salah satu makhluk bertaring itu ambruk seketika. Seketika itu pula makhluk-makhluk keji itu menyerang Zen. Terlihat suatu pemandangan mengerikan dimana Zen dikepung secara brutal oleh makhluk-makhluk itu. Donovan dan Robeth yang seperti tidak dianggap oleh makhluk bersayap itu seraya menepi di ruangan itu, tidak berani mengganggu Zen.

Dengan gesit Zen menghindari setiap tusukan dan terkaman makhluk-makhluk itu. Pedangnya seakan-akan terbang menyayati tubuh-tubuh vampire buas itu. Pekikan kesakitan terdengar keras. Makhluk bertaring itu tumbang satu persatu. Zen seakan-akan menari diantara muncratan darah segar berwarna hitam itu.

“Hebat sekali dia!”gumam Robeth yang sedari tadi terpana oleh pertarungan sengit itu. Donovan juga seakan-akan terhipnotis oleh gaya bertarung Zen.

Tak lama kemudian, seluruh makhluk mengerikan itu tumbang secara mengenaskan. Tangannya tersayat hingga putus. Kepala nya teriris menjadi dua sehingga terlihat otak tercecer di lantai. Dan ada pula yang tubuhnya terbelah menjadi dua.

“Akhirnya selesai juga. Sungguh hebat kau Zen. Ajari aku gaya bertarungmu itu dong” pinta Robeth seraya mendekati Zen. Donovan masih terpaku di pinggir ruangan itu.

“Jangan mendekatiku!” bentak Zen yang masih membelakangi mereka berdua. “Apa maksudmu?” tanya Robeth yang masih berjalan mendekati Zen. Ia tidak tahu bahwa bahaya masih mengintainya.

Tiba-tiba diantara bayangan siluet Robeth, terlihat seseorang menerobos menyeruak keluar. Mencengkeram hebat Robeth dan berusaha membawanya terbang keluar ruangan.

“Tidak lepaskan aku!” gertak Robeth seraya meronta-ronta berusaha melawan makhluk yang sangat mengerikan itu. Terlihat makhluk yang mencengkeram Robeth berbadan mirip manusia. Dilengkapi dengan topi bowler dan topeng menyeramkan terpasang tepat di wajahnya. Namun bibirnya masih terlihat dengan jelas dan bajunya yang berwarna serba hitam. Tampak sepasang sayap terpasang di punggungnya. Robeth dicengkeram erat dengan kedua tangannya.

“Robeth! Tidak!” teriak Donovan ketika menyadari sahabatnya dalam bahaya itu. Ia hendak mengejar tetapi tidak terlampaui. Zen yang terlambat menyadari itu bermaksud menebas makhluk itu dari belakang, tapi tetap tidak tertebas. Makhluk itu terbang sangat cepat melewati jendela dan lorong-lorong. Lambat laut semakin mengecil dan tak terlihat.


“Tidaaaakkk!” teriak Donovan dengan wajah penuh penyesalan. Rasa sesal dan amarah mengaduk menjadi satu di hatinya. Seolah-olah seperti kehilangan separuh badannya. “Sial, mengapa Rey bisa kesini!? Aku harus mengejarnya!” umpat Zen. Ia pun tiba-tiba menghilang seperti berusaha untuk mengejar makhluk itu. 

“Tunggu aku Zen!” teriak Donovan ditengah-tengah sepinya ruangan kelam itu. Ia sekarang sendirian tanpa seorangpun menemaninya.

BERSAMBUNG